Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
39.Apa yang Terjadi?


__ADS_3

Anandita sampai merasa sesak nafas karena dua orang laki laki yang duduk satu meja dengannya hanya diam tanpa bermaksud untuk saling bicara.


'Bagaimana ini,batin Anandita dengan meremas tisu yang diberikan Gavin padanya.


'Apa sebaiknya aku tinggalkan saja mereka berdua disini'kembali otaknya sibuk bermonolog mencari pemecahan masalah tentang situasi mengerikan yang sedang terjadi dimeja itu.


Anandita berusaha memberanikan diri intuk bicara pada mereka berdua yang seperti patung hidup.


"Maaf aku permisi mau ketoilet dulu"ucap Anandita langsung bangkit dari kursinya, tanpa menunggu persetujuan dari dua laki-laki yang saling diam itu.


Anandita berjalan dengan cepat kearah toilet yang ada diMall itu,dan setelah sampai di dalam toilet Anandita langsung mendudukkan tubuhnya di atas closet dengan lemas.


'Astaga mimpi apa aku semalam sampai mengalami hari naas seperti ini'monolog Anandita sambil menangkupkan tangannya kewajah.


**********


Sementara itu Gavin dan Ayah Bagaskara masih tetap diam, tidak ada yang berniat untuk bersuara sampai Anandita benar benar pergi dari sana.


Gavin menatap laki laki yang duduk bersebrangan meja dengannya itu,sementara Bagaskara hanya diam sambil meneguk kopinya yang sudah diantarkan pelayan tadi.


"Kamu akan tetap seperti itu sambil menatap Ayahmu ini"ucap Bagaskara memandang tajam kearah Gavin.


Gavin menghela nafas sebelum bicara.


"Bagaimana khabar ayah sekarang?"tanyanya,yang membuat Bagaskara terkejut dengan sapaan Gavin.


Ini pertama kalinya anak semata wayangnya itu tidak berteriak atau memaki dirinya saat mereka bertemu tapi malah menanyakan khabarnya,membuat Bagaskara ingin menghambur memeluk putra yang bahkan tidak pernah dipeluknya selama lebih dari lima belas tahun itu.


Tapi bukan Bagaskara namanya kalau akan melakukan itu,jadi dia hanya menjawab singkat pertanyaan Gavin.


"Baik,seperti yang kau lihat"ucapnya masih dengan posisi semula.


"Syukurlah,kalau ayah baik baik saja"ucap Gavin mulai memakan makanan yang sudah diantar pelayan.

__ADS_1


"Ada angin apa yang membuatmu ingin makan satu meja denganku",Tanya Bagaskara curiga.


"Tidak ada hanya kebetulan saja saat aku kemari melihat ayah dan ibu guruku sedang duduk direstoran"jawab Gavin terdengar cuek.


"Tumben kamu ingat menyebut wanita yang datang bersama ayahmu ini dengan sebutan hormat tidak seperti biasanya?"tanya Bagaskara merasa aneh,karena biasanya Gavin selalu marah saat melihat dia dekat dengan wanita, entah itu rekan bisnisnya atau kenalannya,Gavin selalu berkata kasar pada mereka.


"Dia guruku tentu saja aku harus menghormatinya".


"Benarkah,Atau karena dia spesial"tanya Bagakara dengan santai sambil meminum kopi dalam cangkirnya.


Gavin hampir saja tersedak mendengar ucapan sang Ayah kalau tidak cepat minum air putih.


"Ehem,itu hanya perasaan ayah saja,aku hanya lelah selalu adu urat dengan ayah"jawab Gavin.


"Tapi insting seorang ayah juga kuat,kupikir kau kesini bukan untuk bertemu denganku tapi untuk mencegah aku dekat dengan gurumu itu".Ucap Bagaskara.


Gavin hanya diam tidak menjawab pertanyaan sang ayah yang ini,karena dia tidak tau bagaimana reaksi ayahnya kalau mendengar wanita yang datang bersamanya itu adalah menantunya.


Nanti pasti dia akan mengatakannya,tapi tidak sekarang saat ayahnya menganggapnya masih seorang bocah ingusan.


"Sudahlah sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat aku menanyakan itu padamu"ucap Bagaskara lalu bangkit dari kursinya"Antarkan ibu gurumu pulang,dan jangan macam macam".Bagaskara meninggalkan Gavin setelah mengatakan itu.


Pertemuan hari ini cukup lumayan,tidak seperti biasanya setiap mereka bertemu selalu membuat orang memalingkan wajahnya kalau dia tidak berakhir dengan menampar Gavin, maka pasti ada saja yang melayang dari mejanya karena ucapan Gavin padanya yang sangat keras dan itu sudah berlangsung lama.


Puncaknya adalah saat istrinya sakit parah,setiap kali mereka bertemu pasti selalu terlibat adu mulut dan berakhir dengan kekerasan yang dilakukannya pada Gavin, karena itu saat istrinya meninggal Bagaskara memutuskan untuk melepaskan Gavin tinggal sendiri diApartemen istrinya itu dan dia tidak lagi terlalu mengatur hidup Gavin selama dia tidak mendengar hal negatif yang dilakukan putranya itu.


Bagaimana pun,Gavin tetap putranya meskipun pernikahannya dengan Bunda Gavin tidak bisa dibilang harmonis bahkan bisa dibilang mereka menikah hanya demi status anak saja,karena itu dia tidak pernah tinggal serumah dengan mereka tapi tetap saja saat istrinya meninggal dia merasa kehilangan,karena merasa tidak bisa menjadi suami dan ayah yang baik,jadi sejak itu dia sengaja menjauh dari Gavin.


Jadi sekarang Bagaskara memutuskan meninggalkan Gavin,sebelum mereka saling bicara yang kembali akan memancing emosi.


Tapi Bagaskara merasa Gavin mulai berubah tidak lagi anak laki laki yang kasar dan pembangkang seperti beberapa bulan yang lalu dan itu sedikit membuatnya penasaran untuk mengetahui penyebabnya.


Tapi dia cukup senang dengan perubahan yang dilihatnya hari ini pada putra semata wayangnya itu,meskipun Bagaskara belum mau mengakuinya.

__ADS_1


"Iya"jawab Gavin singkat pada sang ayah.


*****


Setelah cukup lama berada di toilet,dengan berat hati Anadita keluar bermaksud untuk kembali ke Restoran tempat dua kutub tadi berada.


"Heh"Anadita menghela nafas berat sambil berjalan keluar dari toilet.


"Apa yang kau keluarkan !, dari tadi baru keluar dari toilet"Gerutu Gavin saat melihat Anandita akhirnya keluar dari pintu toilet wanita.


Anandita terkejut sekali saat mendengar suara Gavin yang berbicara dengannya didepan pintu toilet.


"Sedang apa kamu disini?"tanya Anandita gugup.


"Menurutmu?"


Anandita hanya menggeleng karena tidak tau.


Gavin tidak berniat bercanda dengan istrinya kali ini jadi dia sengaja tetap memasang wajah serius dihadapan Ananndita.


"Ayo pulang"Ajak Gavin sambil berjalan didepan Anandita tanpa menggandengnya seperti biasa.


"Tapi Om Bagas..eh Ayah Bagas gimana?"tanya Anandita sambil mengikuti langkah Gavin yang sudah berjalan cepat didepannya.


Gavin hanya diam tidak menjawab apa yang ditanyakan Anandita dia masih marah,karena Anandita berani berbohong padanya.


"Vin!!"Panggil Anandita yang ketinggalan langkah Gavin,yang berjalan cepat didepan.


Dengan nafas tersengal sengal akhirnya Anandita berhasil mengejar,langkah Gavin sampai diparkiran mobil.


"Masuk!"perintah Gavin tanpa membukakan pintu mobil seperti biasa, tapi langsung menyuruh untuk masuk sendiri.


Dengan diam Anandita masuk kedalam mobil dan duduk dengan benar tanpa disuruh Gavin seperti biasanya.

__ADS_1


Anandita tau kali ini Gavin pasti sangat marah padanya karena dia berbohong dan ketahuan,tapi dia juga tidak bisa menolak ajakan mertuanya tadi,jadi dia sekarang seperti makan buah simalakama saja.


Sepanjang perjalanan menuju Rumah,mereka berdua tidak ada yang ingin bicara, mereka sibuk dengan pikiran masing masing yang tidak ingin mereka ungkapkan.


__ADS_2