
Cinta mengikuti Bagaskara masuk kedalam rumah makan itu.
"Duduklah",perintah Bagaskara pada Cinta.
Dengan patuh Cinta diduk dihadapan Bagaskara,tak lama pelayan datang membawakan buku menu untuk mereka.
"Kamu mau makan apa ?",tanya Bagaskara pada Cinta.
Cinta memeriksa buku menu"Ini saja",ucapnya menunjuk keayam lalapan yang ada dimenu.
Bagaskara kemudian mengatakan pesanan mereka pada pelayan"Dua porsi ayam lalapan,minumnya?',tanya Bagaskara.
"Es jeruk aja mas".
Bagaskara mengangguk "samakan saja minuman dan makanannya",ucapnya pada pelayan itu.
Pelayan mengangguk dan kemudian pergi meninggalkan mereka.
"Mas bisa makan ayam lalapan?",tanya Cinta penasaran.
"Kenapa apa kamu pikir aku tidak bisa makan makanan seperti itu?',ucap Bagaskara.
Cinta mengangguk"karena aku jarang melihat mas makan nasi selama kita tinggal bersama",ucap Cinta.
"Tapi bukan berarti aku tidak bisa makan hanya saja aku memang mengurangi makan nasi karena faktor usia".
"Maksudnya?",tanya Cinya tidak mengerti dengan ucapan Bagaskara.
"Untuk lebih sehat saja aku memang mengurangi makan nasi tapi makan ikan dan sayur serta buah lebih banyak karena usiaku sudah tidak muda lagi",terang Bagaskara.
"Tapi mas belum kelihatan tua",ucapnya dengan mengamati penampilan Bagaskara yang memang terlihat masih gagah dan bugar.
"Itu menurutmu,tapi kenyataannya coba kau tebak berapa usiaku sekarang?",tanya bagaskara tiba tiba.
"Mungkin hampir 40 tahun bukankah itu belum terlalu tua".
Bagaskara tiba tiba tertawa mendengar perkiraan Cinta.
"Jadi aku masih terlihat semuda itu?",ucapnya.
Cinta mengangguk dan merasa sedikit malu karena Bagaskara berbicara sambil tertawa padanya.
"Usiaku lebih tua dua kali lipat dari usiamu,apa itu bisa dibilang masih muda?"ucap Bagaskara dengan menatap kearah Cinta.
"Apa itu juga alasan mas Bagas ingin melepaskan aku?",tanya Cinta sambil menatap kearah Bagaskara.
"Ya kamu masih terlalu muda masa depanmu masih panjang jangan terpaksa berkorban hanya untuk balas budi padaku".
"Bagaimana kalau aku bilang bukan karena balas budi tapi karena aku memang suka pada mas Bagas?".
Bagaskara langsung tersedak makanan dimulutnya mendengar Cinta mengatakan itu
__ADS_1
"Uhuk...uhuk...".
"Pelan pelan mas",ucap Cinta sambil memberikan minuman pada Bagaskara.
"Trimakasih",Bagaskara meminum minuman yang diberikan Cinta"Makanlah makananmu lalu ayo kita pulang",ucap Bagaskara dengan sengaja mengalihkan pembicaraan ketopik yang lebih umum.
Cinta diam dan menuruti apa yang dikatakan Bagaskara.
Setelah mereka selesai makan Bagaskara langsung mengajak Cinta pulang,selama perjalanan Bagaskara hanya diam.
Berkali kali Cinta melirik kearah Bagaskara yang duduk disampingnya bermaksud untuk mulai pembicaraan tapi Bagaskara seolah olah sengaja fokus untuk mengemudi.
Sampai dirumah Cinta langsung turun tanpa menunggu Bagaskara membantunya bahkan barang bawaannya langsung diambilnya dan dibawanya dengan sekali angkat.
"Trimakasih karena sudah menjemputku tadi mas",ucap Cinta lalu segera masuk kedalam rumah.
Bagaskara hanya terdiam melihat apa yang dilakukan oleh Cinta dengan bingung,karena Cinta seperti tiba tiba marah padanya.
***
Pagi hari Bagaskara keluar dari kamar dan langsung menuju ruang makan disana sudah ada Cinta yang sedang menyuapi Cello seperti biasa.
Bagaskara langsung duduk setelah menyapa Cello dipikirnya Cinta tidak akan menegurnya pagi ini karena masalah semalam tapi ternyata dia langsung bangkit dari duduknya saat melihat Bagaskara sudah duduk.
"Mas mau sarapan?",tanya Cinta dengan bangkit dan mengambil piring untuk Bagaskara.
Mendengar pertanyaan Cinta Bagaskara menatap kearahnya lalu mengangguk.
"Hemmm".
Mendengar jawaban Cinta yang singkat itu Bagaskara langsung menoleh lagi kearah Cinta.
"Kamu baik baik saja?",tanya Bagaskara.
"Iya nggak papa,makanlah sarapan mas supaya tidak sakit",ucap Cinta dengan meletakkan piring berisi makanan dihadapan Bagaskara.
Bagaskara makan sambil sesekali melirik kearah Cinta yang tidak melihatnya sama sekali sampai mereka masuk kemobil ,bahkan sampai mereka sudah ada diparkiran kampus Cinta tetap diam saja,tidak seperti biasanya dia masih mau bicara pada Bagaskara.
"Cinta tunggu!".
Bagaskara menahan tangan Cinta yang sudah akan keluar dari dalam mobil.
Melihat itu Cinta langsung meraih tangan bagaskara dan menciumnya lalu langsung keluar dari mobil membuat Bagaskara hanya bisa menatap punggung Cinta yang menjauh meninggalkannya.
"Sepertinya Cinta sedang marah dengan anda tuan",ucap Willy pada Bagaskara.
"Marah tapi kenapa?,tadi malam masih baik baik saja saat kami makan diluar",ucap Bagaskara bingung.
"Perempuan memang sulit untuk dipahami tuan,dia bisa marah tanpa sebab nggak jelas,istri saya dirumah juga sering seperti itu kadang sampai membuat kepala saya pusing karena dia marah , hanya karena saya salah meletakan sandal atau sepatu tidak pada tempatnya".
"Lalu bagaimana kamu merayunya?",tanya Bagaskara.
__ADS_1
Willy agak terkejut mendengar apa yang diucapkan Bagaskara.
"Em...tuan ingin mencoba membujuk Cinta agar tidak marah lagi?",tanya Willy.
"Hemmm kira kira seperti itulah,karena rasanya tidak enak melihat wajahnya tadi".
"Tuan bisa mengiriminya hadian atau mengajaknya makan diluar atau...".
"Sudah!!, sudah!!,bukan itu maksudku,itu terlalu seperti anak muda,aku bertanya apa yang biasa kamu lakukan kalau membujuk istrimu yang sedang marah".
"Oh...itu saya mengajaknya bicara dikamar berdua setelah itu saya menyayanginya",ucap Willy dengan tertunduk.
"Ommy cama opy juga cepelti itu oppa,kalau ommy malah oppy ngajak ngomong beldua dikamal Cello disuluh jalan jalan sama neni dulu sampai lama".
Mendengar ucapan mereka bukannya memberinya solusi malah membuat kepalanya pusing.
"Sudahlah lupakan saja ",ucap Bagaskara lalu turun dari dalam mobil bersama Cello.
***
Malam hari seperti biasa Bagaskara berada dikamarnya untuk menyelesaikan pekerjaan kantor yang masih belum selesai tapi bukannya bisa berpikir tentang pekerjaan pikirannya dari tadi malah selalu tertuju pada Cinta yang seolah marah padanya,karena merasa sudah tidak bisa berpikir tentang pekerjaan lagi,Bagaskara memutuskan untuk keluar kamar untuk mengajak Cinta bicara.
Dengan pelan Bagaskara mengetuk kamar itu, karena takut mengganggu Cello yang pasti sudah tidur sekarang.
"Tok...tok...".
"Sebentar!!".
Tak lama setelah mengatakan itu pintu kamar terbuka.
"Mas Bagas ada apa?",tanya Cinta saat melihat Bagaskara berdiri didepan pintu kamarnya.
"Aku ingin kita bicara sebentar".
Cinta mengangguk kemudian mengikuti Bagaskara untuk duduk diruang tengah.
"Kamu marah padaku?",tanya Bagaskara langsung keinti permasalahannya.
Cinta menggeleng.
"Benarkah tapi aku rasa kamu sedang marah ,apa aku sudah menyinggungmu tadi malam?".
"Aku nggak marah sama mas cuma...".
"Cuma apa",tanya Bagaskara.
"Cuma sedih karena mas sepertinya tidak suka kalau aku menyukai mas".
"Maksudmu?".
"Mas kenapa tidak mau memberiku kesempatan untuk kita dekat,apa aku benar benar tidak bisa jadi istri mas",ucap Cinta.
__ADS_1
Seketika Bagaskara terdiam mendengar apa yang dikatakan Cinta.