Terpaksa Menikah Dengan Muridku.

Terpaksa Menikah Dengan Muridku.
77.Ada Apa dengan Gavin?


__ADS_3

Anandita menatap ketiga pria dewasa yang memandang kearahnya dengan berbagai macam pikiran mereka.


"Biarkan aku masuk kedalam aku ingin bertemu dengannya",mohon Anandita lagi pada mereka.


Petugas polisi itu masih ragu ragu, tapi tiba tiba seseorang yang baru datang langsung menjawab ucapan Anandita.


"Biarkan dia masuk,siapa tau dia bisa membuat pemuda itu mau bicara"jawab seorang wanita paruh baya yang baru datang itu.


Bagaskara langsung berdiri mendengar ucapan wanita itu.


"Siapa anda?"tanyanya pada wanita itu.


"Kenalkan aku Rumi Saraswati,psikiater yang dipanggil oleh petugas kepolisian".jawabnya.


"Aku Bagaskara ayah dari pemuda yang berada dalam ruangan itu,katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada putraku kenapa tiba tiba dia menjadi seperti itu?"tanya Bagaskara langsung keinti permasalahannya.


"Sebagai seorang psikiater saya tidak bisa langsung mengatakannya tapi menurut penglihatan sekilas saya sepertinya putra anda tidak baik baik saja mentalnya sekarang".


"Maksud anda anak saya gila!?"teriak Bagaskara terkejut.


"Bukan seperti itu istilahnya, tapi sekarang mentalnya sedang dalam masalah,dan saya tidak bisa mengatakan apa penyebabnya sekarang tapi yang pasti itu bisa karena trauma yang pernah dialaminya yang akhirnya membuatnya mengalami tekanan batin dan mungkin baru sekarang keluar".


"Saya tidak mengerti?!"ucap Bagaskara jujur.


"Masalah seperti ini memang sulit,tapi kita akan mencoba sebatas mana masalah mentalnya jadi biarkan wanita muda ini masuk!".


Mendengar perintah dari Psikiater itu,petugas polisi langsung membukakan pintu untuk Anandita.


"Berteriaklah kalau dia berbuat kasar padamu karena saat ini dia sedang tidak baik baik saja"ucap Psikiater itu.


Anandita hanya mengangguk,lalu berjalan masuk keruangan kosong tempat Gavin berada, seolah dia sedang berada dalam sebuah kotak pandora.


Anandita berjalan menghampiri Gavin yang sama sekali tidak perduli ataupun mendengar langkah kakinya saat berjalan mendekat.


Dengan pelan Anandita berjongkok tepat dihadapan Gavin,lalu menyentuh lembut tangan Gavin yang terasa dingin.


"Vin",panggil Anandita tapi Gavin belum juga bereaksi membuat dada Anandita terasa nyeri melihat itu.


"Vin,Gavin,ini aku kamu tidak mendengar panggilanku",ucap Anandita dengan meremas jemari tangan Gavin.


Perlahan mata kosong itu menatap kearahnya.


"Anna?"ucapnya pelan.


"I..iya Anna",Anandita berusaha sekuat tenaga menahan airmatanya yang hampir jatuh dari matanya.

__ADS_1


"Anna,kamu benar Anna?!"Dengan wajah berbinar dia menatap kearah Anandita.


Melihat Gavin sudah mulai mengeluarkan ekspresi Anandita dan semua orang yang melihat dari balik kaca menarik nafas lega.


"Iya,aku Anna,kamu tidak papakan?"tanya Anandita dengan ekspresi lega.


"Anna,aku tidak percaya kamu benar benar datang!"ucap Gavin.


Membuat Anandita langsung bingung "maksudmu,kamu khawatir aku tidak akan datang menjemputmu kemari?"tanya Anandita.


"Iya"ucap Gavin dengan menempelkan tangan Anandita kewajahnya.


"Aku pasti datang untuk menjemputmu,aku tidak akan meninggalkanmu,Vin!"


"Kalau begitu peluk aku Anna"ucap Gavin.


Dengan patuh Anandita memeluk tubuh Gavin.


"Maafkan aku,"bisik Anandita dibelakang punggung Gavin.


"Jangan minta maaf meskipun kamu baru datang sekarang aku tidak masalah yang penting kamu benar benar datang menemuiku,kamu tau Anna Bunda dan Ayah bilang aku berbohong bahwa aku punya teman bernama Anastasia yang selalu menghiburku saat mereka bertengkar,tapi setelah kamu datang aku akan mengenalkanmu pada mereka sekarang bahwa kamu itu nyata".


Mendengar apa yang diucapkan Gavin Anandita langsung terdiam kaku memeluk Gavin, dengan pelan dilepaskannya pelukan Gavin padanya.


"Annastasia,bukankah itu namamu?"ucap Gavin.


Anandita langsung membelalakkan matanya terkejut mendengar itu.


"Kenapa kamu lupa namamu sendiri?"tanya Gavin dengan wajah polosnya.


Anandita hanya menggeleng tidak tau apa yang harus diucapkannya saat ini.


Perasaannya terlalu campur aduk,Anandita memejamkan matanya sebentar mencoba untuk menetralkan rasa sesak didadanya.


"Vin,kamu ingat berapa umur kita sekarang?"tanya Anandita berusaha bertanya pada Gavin.


"Tentu saja aku ingat kita punya umur yang sama,tahun ini kita baru berumur tujuh tahun".


Mendengar itu Anandita kembali memejamkan matanya untuk menghilangkan perasaan sesaknya.


"Lalu apakah kamu,tau itu siapa?"tanya Anandita menunjuk pada Ayah Bagas yang berdiri didepan pintu kaca menatap kearah mereka.


Gavin langsung mengangguk"Itu Ayah apakah dia datang untuk menjemput kita pulang?"tanya Gavin dengan wajah berbinar.


Anandita kembali mengangguk,"Kamu mau pulang dengan ayah sekarang?"tanya Anandita.

__ADS_1


"Iya,karena baru pertama kali ayah datang menjemputku pulang kerumah"ucap Gavin.


Anandita kembali menatap Gavin,"Lalu biasanya siapa yang menjemputmu pulang sekolah?"tanya Anandita.


"Supir"jawab Gavin dengan wajah cemberut khas anak kecil ngambek.


"Kamu tau Anna biasanya ayah dan Bunda tidak pernah punya waktu untukku,hanya bik Siti dan supir yang ada,dan juga kamu yang selalu menemaniku",terang Gavin lagi.


Mendengar ucapan Gavin Anandita mulai sedikit mengerti asal dari rasa sakit yang dipendam Gavin.


"Jadi maukah kamu pulang sekarang bersama ayah?"tanya Anandita.


"Iya,tentu saja aku mau,tapi kamu harus ikut pulang bersamaku dan aku akan mengenalkanmu pada Bunda dan Bik Siti".


Anandita tidak menjawab hanya mengangguk saja.


"Tapi Vin sebelum kita pulang maukah kamu menemaniku untuk menemui dokter sebentar"ucap Anandita.


"Kamu sakit?"tanya Gavin sambil menyentuh wajah lalu badan Anandita seperti biasa.


Membuat Anadita merasa sedikit malu karena ada yang menatap mereka dari luar.


"I..iya aku sedikit kurang enak badan"ucap Anandita.


"Kalau begitu ayo kita pergi kedokter sekarang,"tiba tiba Gavin langsung menarik tangan Anandita untuk membawanya keluar dari ruangan kosong itu.


Sampai didepan pintu Gavin langsung menghampiri sang ayah yang masih berdiri terpaku menatap kearahnya.


"Ayah,ini Anna teman yang aku katakan kemaren pada ayah sama Bunda sekarang ayah lihat aku tidak berbohongkan,dia benar benar ada?"ucap Gavin,sambil menarik Anandita maju supaya Ayah Bagas dapat melihatnya.


Mendengar apa yang dikatakan Gavin padanya,tiba tiba Bagaskara langsung menubruk, memeluk tubuh Gavin putranya yang bahkan lupa kapan terakhir kali dia memeluknya.


"Maaf,maafkan ayah "hanya itu yang bisa Bagaskara ucapkan pada putranya.


"Ayah jangan seperti ini,ada,Anna aku malu"ucap Gavin berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan erat Bagaskara.


Dengan pelan Bagaskara melepaskan pelukannya pada Gavin lalu ditatapnya wajah Gavin dengan sendu.


Melihat itu Andita berusaha untuk mengalihkan perhatian mereka.


"Vin,itu Dokter yang akan memeriksaku"Anandita menunjuk wanita setengah baya yang ada disana.


Gavin menatap wajah wanita itu sekilas lalu menatap kembali kearah Anandita"Dia?"tanya Gavin.


Anandita mengangguk,"Ayo ikut aku melakukan pemeriksaan"ajak Anandita menarik tangan Gavin pelan menghampiri dokter Rumi.

__ADS_1


__ADS_2