
Episode 100 : Arti menjadi suami dan istri.
***
Saat Rani menyiram air ke wajah Marian, Rani terjatuh ke lantai, dia menangis tersedu-sedu, dia akhirnya mengerti mengapa suaminya menderita dengan hebat, mengapa dendamnya tak kunjung pergi, semuanya karena ayah dan bahkan ibu tirinya begitu mengerikan sampai tidak pantas disebut sebagai ibu.
"Jangan coba-coba menghina suamiku! dia berharga untukku! aku tidak akan terima jika kau merendahkan nya! dia lelaki paling hebat yang aku kenal selama hidup! jadi tutup mulut mu, jika kau tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk suamiku, setidaknya jadilah ibu yang bijak! sialan!"
Rani berteriak menangis tersedu-sedu, dia tidak terima, bagaimana wajah Marian dan Deffan saat melihat suaminya, seolah suaminya seorang monster menjijikkan.
"Kenapa tidak ada satupun yang menerima Gama dengan tangan terbuka?"
"Kenapa tidak ada satupun yang mau menyentuh hatinya?"
Semua kata-kata itu berputar di kepala Rani, jika saja sejak awal Deffan dan Marian mencoba mendekati Gama maka mungkin Gama tidak akan se menderita ini.
"Deg!"
Gama tidak tahu apa lagi yang ia rasakan ini, belum pernah ia dibela seseorang dengan begitu lantang dihadapan orang lain, mungkin dulu ibunya melakukan hal yang sama, akan tetapi Gama sudah lupa bagaimana rasanya karena sudah begitu lama waktu berlalu.
Kali ini seseorang yang bercahaya datang entah darimana, saat dia sendiri begitu lemah datang melebarkan tangannya, berteriak membela namanya.
__ADS_1
Dan rasanya, tidak bisa digambarkan lagi oleh Gama.
Gama segera melangkah mendekat kearah istrinya, lalu ia lihatlah tangan nya yang berdarah dan wajahnya yang pucat.
Saat Gama sudah ada di sisinya, meraih tangannya, Rani tersenyum.
Dia mengusap pipi suaminya, "Aku menerima mu, semua yang ada para dirimu, kemarahan, trauma dan rasa sakit, aku menerima semuanya,"
"Jadi ... jadi tolong jangan berpikir jika kau sendirian dan kesepian lagi, kau yang bilang aku adalah milikmu, tetapi kenapa kau selalu lupa jika aku akan selalu ada di sisimu, tolong jangan menderita sendirian lagi,"
"Aku akan mengembalikan kata-kata mu saat aku sakit, tubuhmu dan hatimu bukan lagi milikmu seorang, jika kau kesakitan dan terluka maka aku juga akan merasakan hal yang sama, jadi jika kau berani terluka lagi dan mati, aku bahkan akan membunuhmu lagi,"
Agar Gama tidak menderita dan menelan rasa sakitnya sendirian.
Jika keluarganya tidak merima dan mencoba memahami Gama, maka Rani akan menggantikan mereka.
Rani ingin menunjukkan apa itu artinya menjadi suami dan istri, saling menampung rasa sakit dan bahagia berdua, semuanya dibagi dua.
Saat Rani mengatakan itu, semuanya sudah gelap, sepertinya dia pingsan, Rani juga tidak sadar dari mana kekuatan yang ia dapatkan sampai bisa bangkit membela suaminya.
Mungkin itulah yang terjadi saat seseorang yang penting bagi kita, dihina oleh orang lain, akan ada kekuatan tersembunyi yang tiba-tiba berteriak dari dalam diri.
__ADS_1
Gama memeluk istrinya, wajahnya yang suram dan matanya yang tajam, menatap lurus kearah Marian, dia sedang menahan amarahnya sesuai dengan yang diinginkan oleh istrinya.
"Srek!"
Gama segera menggendong istrinya di dekapannya, entah apa yang sedang ada di pikirannya sekarang, tetapi semua orang yang ada di tempat itu ketakutan dengan sangat hebat hanya dengan melihat ekspresi itu.
"Pak ..."
Assisten Gama yang baru sampai dan naik menjumpai atasannya terkejut melihat jika istri atasannya sudah terluka dan pingsan dalam gendongan Gama.
Dan disisi lain, sudah ada John Yu dan ibunya menangis tersedu-sedu, dan disebelahnya ada Deffan Yu bangkit berdiri.
Semua terlihat begitu kacau, tetapi dia tahu untuk sekarang dia tidak akan menanyakan apapun.
***
Sedangkan Ardhan yang masih berada di dalam kapal pesiar sudah melihat semuanya dari layar, dia ingin langsung berlari menyelamatkan Rani saat Rani terdorong dan terlempar ke belakang, akan tetapi dia belum bisa melakukan nya karena akan sangat riskan untuk rencana nya yang baru saja ia lancarkan.
Tetapi Ardhan bisa melihat jika wanita yang ia kira telah mati itu benar-benar tidak ingat apapun, dan sepertinya telah mencintai lelaki lain.
"Apakah aku sudah terlambat?" seru Ardhan dengan wajah yang sayu, akhirnya setelah hidup seperti mati selama ini, seseorang yang membawa harapan kembali muncul di hadapannya.
__ADS_1