
Episode 73 : Perubahan sikap!
***
Di ruangan meeting,
Saat mendengar syarat tidak masuk akal Ardhan Reiner hampir saja membuat Gama tidak bisa mengendalikan emosinya, tetapi mereka sedang membicarakan mengenai bisnis sekarang jadi Gama harus bisa berpikir dengan kepala dingin.
"Saya tidak yakin Rani bisa menangani proyek sebesar ini Tuan Ardhan, disamping dia tidak memiliki pengalaman, proyek ini membutuhkan seseorang yang sudah pernah menangani proyek besar sebelumnya jadi saya rasa Rani tidak akan bisa dijadikan menjadi perwakilan!"
Dari suara Gama sudah kelihatan jika dia sedang menahan kemarahannya, dan hanya mencoba tenang saja.
Ardhan tahu hal ini akan sulit akan tetapi dia akan melakukan apa saja agar memiliki lebih banyak waktu bersama Rani di kemudian hari, ada beberapa hal yang ingin ia pastikan.
"Saya adalah seorang yang kurang suka orang baru, Tuan Gama pasti sudah mendengar kabar kelam mengenai hidup saya, saya sangat memilih siapa yang bisa bekerja dengan saya,"
"Rani adalah seseorang yang bisa diajak bicara, saya yakin dia mampu, karena bisnis yang akan ia jalankan berskala besar maka pasti sudah banyak hal yang sudah dipertimbangkan, saya tidak ingin kerjasama kita berakhir hanya karena ketidak selarasan dalam perwakilan,"
Ardhan Reiner menggunakan kartu terakhir nya, dia memang juga membutuhkan kerjasama ini, akan tetapi dalam hal ini, perusahaan Gama sepertinya sedang mengejar dan ingin mencapai sesuatu jadi dalam hal ini, keinginan Ardhan yang sebenarnya tidak bermasalah dan kecil itu tentu saja harus di wujudkan oleh Gama.
Mata Gama tajam sekali saat mendengar itu, seperti Ardhan memantik api perang di kedua belah pihak.
"Ck! siapa sih si Rani ini, kenapa suasana di ruangan ini mengerikan dan mencekam sekali!"
Beberapa karyawan Ardhan Reiner yang ikut meeting penasaran sekali siapa si Rani sampai harus di perebutkan seperti itu dan malah membuat suasana menjadi tegang seperti ini.
Gama yang berpikir dari segi bisnis memang sepemikiran dengan Ardhan, akan tetapi Rani adalah istrinya, dan dia sangat membenci Rani berdekatan dengan lelaki lain, entah bagaimana caranya nanti mengontrol emosinya jika saja Rani pergi ke perusahaan Ardhan sebagai perwakilan.
Juga sebenarnya apa yang ingin di pastikan oleh Ardhan kepada istrinya, hal itu membuat Gama semakin marah.
***
Disaat yang sama,
Sekarang ini Gina sedang menelepon kakaknya, Rani.
__ADS_1
"Kak, aku lulus di universitas yang aku mau! aaaa! aku senang sekali,"
Gina berteriak dan tidak bisa menyembunyikan seberapa bahagia dirinya sekarang, akhirnya dia bisa kuliah di luar negeri, juga biaya kuliahnya di gratis karena dia ujian melalui jalur beasiswa.
"Benarkah? sudah kuduga kau pasti lulus sih, adik nya Kakak memang pintar, kau mau hadiah apa? akan kakak belikan!"
Rani tentu saja bangga pada adiknya yang satu ini, sangat pintar juga baik disaat yang sama.
"Hehe, aku tidak ingin apa-apa Kak, aku hanya ingin Kakak datang satu minggu lagi ke rumah ya, Ibu mau masak banyak makanan," seru Gina yang masih sangat bahagia karena berhasil lulus itu.
Saat mendengar itu Rani sudah sangat yakin meminta ijin dari suaminya akan sangat sulit, tetapi ini adalah acara makan untuk perayaan adiknya, mau bagaimana pun Gama pasti mengerti.
Setelah itu Rani meng-iyakan permintaan Gina, lalu setelah itu telepon mereka berakhir.
Rani bahagia sekali karena adiknya bisa memasuki universitas paling terkenal itu, sebagai kakak dia merasa telah sukses memberikan contoh kepada adiknya.
"Sekarang hanyalah bagaimana caranya meminta ijin kepada lelaki posesif dan arogan itu, hmmm!"
Rani dalam mode semangat penuh untuk meminta ijin kepada Gama agar bisa diijinkan pergi ke rumah orangtuanya nanti.
***
Setelah beberapa saat ....
Akhirnya sudah sore, matahari sudah berubah menjadi kuning keemasan dimana matahari akan segera tenggelam, pemandangan kota semakin menakjubkan membuat Rani yang sejak tadi melihat pemandangan tidak sadar jika Gama sudah menyelesaikan meetingnya.
Gama sudah berdiri di sisi Rani dengan tangannya di kantung.
"Lihat apa?" tanya Gama melihat arah dimana tatapan mata Rani sedang tertuju.
Rani terkejut dan menolah ke sisinya, Gama yang berdiri kokoh dan caranya menatap lurus, terlihat begitu tampan.
"Ada apa dengan ku? hanya dengan melihat nya diam seperti ini membuat aku berdebar! apakah aku sudah gila?" gumam Rani merasa ada yang aneh dengan dirinya akhir-akhir ini.
Dia mudah sekali terpesona akan ketampanan lelaki yang menjadi suaminya ini.
__ADS_1
"Ti ... Tidak ada," balas Rani mengalihkan pandangannya agar bisa mengontrol dirinya.
"Ooh, ayo pulang kalau begitu," ketus Gama yang terlibat kesal, entah apa yang terjadi di ruangan meeting tadi tetapi wajah Gama terlihat tidak senang sama sekali.
Rani menurut dan akhirnya mereka kembali pulang, di perjalanan Gama juga terdiam, memangku tangan dan menatap jalanan yang dilewati oleh mobil mereka.
Tak terasa malam sudah menyapa saat mereka di perjalanan.
"Apakah karena dia diam saja sejak tadi? tetapi dia memang bertambah tampan saat diam seperti in!"
Rani menganggukkan kepalanya seolah menyetujui gumaman nya sendiri mengenai ketampanan suaminya yang paripurna ini.
Hanya dalam beberapa saat, akhirnya mereka sampai di kediaman Gama,
Semuanya nampak begitu tenang, sejak tadi Gama diam saja membuat semuanya jadi semakin mencekam.
"Sebenarnya ada apa dengan lelaki ini? apakah aku melakukan kesalahan? perubahan sikapnya mengerikan!" geram Rani tidak mengerti mengapa suaminya ini kelihatan bad mood sekali.
***
Setelah mereka kembali pulang, keduanya membersihkan diri dan sekarang sudah mengenakan pakaian rumah dan hendak makan.
Saat makan pun, Gama diam saja, matanya sesekali akan menatap kearah Rani tetapi saat Rani menoleh Gama akan langsung mengalihkan pandangannya.
Sepertinya ada sesuatu yang sedang mengganggu Gama sekarang ini.
"Ternyata lelaki ini jika diam jauh lebih mengerikan dibandingkan saat dia marah! ah sudahlah terserah, tidur saja!" gumam Rani.
Sekarang ini dia sudah ada diatas ranjang, Rani hendak menyelimuti dirinya menggunakan selimut tebal, dia memejamkan matanya, dia tdiak ingin memusingkan dirinya atas perubahan sikap suaminya hari ini.
Disaat yang sama Gama yang berada di ruangan pribadi nya sedang kesal sekali, hal yang membuatnya kesal adalah bahwa dia sangat membutuhkan kerjasama itu sampai tidak bisa menolah Rani menjadi perwakilan.
Hal itu benar-benar mengganggu Gama.
"Awas kau Ardhan, jika berani menyentuh istriku setelah kerjasama ini akan ku ratakan perusahaan mu itu! lihat saja!" ketus Gama mengusap kasar rambutnya, seberapa keras pun ia mencoba mengalihkan perhatiannya tetap saja dia tidak bisa menerima kenyataan jika dia harus menjadikan Rani sebagai perwakilan satu minggu dari sekarang, saat proyek mereka akan dimulai.
__ADS_1
***