
Episode 49 : Gama tidak mau wanita lain lagi.
***
Akhirnya setelah itu Gama bisa tidur dengan nyenyak, tidak seperti Gama biasanya dimana akan selalu ada wanita di sisinya, entah itu wanita yang hanya untuk menghiburnya untuk satu malam, atau wanita kelas atas yang memang biasa dimainkan oleh Gama.
Tetapi kali ini Gama bisa sendiri, bahkan mengusir wanita wanita penghibur kelas atas tadi hanya karena dia tidak memiliki gairah melihat mereka, entah karena apa tetapi Gama tidak menginginkan mereka sedikitpun.
Disaat yang sama, Christy yang memang merupakan orang yang memiliki kekuasaan sudah mengetahui jika Gama sedang ada di luar negeri.
Christy tidak rela, dia telah rela bertunangan dengan lelaki yang tidak ia suka, agar Gama bisa meluangkan waktu lebih banyak bersamanya, Christy tahu jika seorangpun tidak bisa memiliki Gama, Gama bagaikan seseorang yang tak tersentuh hatinya.
Tetapi Chsrity sudah jatuh cinta setengah mati pada lelaki itu, lelaki yang bisa membuatnya gila dan tidak bisa berpikir jernih.
Karena Christy tidak bisa ke luar negeri saat ini untuk menjalani sandiwara pertuangannya dengan John, besok malam masih harus melakukan malam bersama lai, demi menarik media, dengan hubungan bagaikan fairy tale yang terjadi antara dirinya dan John, akan membuat publik apalagi muda mudi tertarik dan meningkatkan nilai saham.
Disamping diperintahkan oleh Gama, sebenarnya ayah Christy juga memerintahkan perjodohan antara dirinya dan John agar tidak sampai gagal.
__ADS_1
Christy yang tidak pernah kehilangan akal segera mendapatkan ide, bagaimana caranya membalas Rani, wanita miskin yang berani-beraninya membentak dirinya tadi.
“Awas kau gadis kampungan, akan kubuat Gama melemparmu dan mecampakkan mu di hadapanku, saat itu aku akan tertawa dan itu akan menjadi pembalasan terhebat ku untukmu!” geram Christy sudah tahu bagaimana cara mempermainkan keadaan agar Gama membenci Rani.
***
Keesokan harinya,
“Kakaakkk ….” Gina berlari dan memeluk kakaknya yang sekarang ini duduk bosan di kursi sofa kamarnya.
“Kau sudah datang anak kecil,” seru Rani mencubit tipis pipi Gina.
“Ck, aku bukan anak kecil, aku anak gadis cantik nan anggun yang sebentar lagi akan kuliah di luar negeri, yeyyy!” seperti sikap Gina yang biasanya, ceria dan sedikit berisik.
“Bagaimana dengan adik-adik yang lain? kau bisa menjaga mereka dengan baik kan?” tanya Rani penuh selidik.
__ADS_1
“Mereka udah pada gede gitu pun, apa lagi yang harus di jaga, eh, Kak daripada itu bagaimana rasanya malam pertama? aku penasaran ….” Dengan mata berbinar-binar Gina mencoba menanyakan hal itu ke kakaknya.
Dan tentu saja dihadiahi tampolan nan ciamik oleh Rani.
“Plak!”
Rani melempar bantal ke Gina, “Anak kecil, kau tidak perlu tahu, belajar saja lah, ngapain juga pengen tahu begituan!” seru rani sudah memerah pipinya.
Jika saja Gina tahu dia susah berjalan karena betapa hebatnya suaminya di ranjang maka Rani pasti sudah tidak bisa mengangkat wajahnya di hadapan adiknya lagi saking malunya.
“Iih, Kakak aku kan Cuma penasaran, jadi mau perang bantal nih, oke! Saya terima perang anad Nyonya!” seru gina tertawa dan ikut melempar bantal, dan terjadilah acara lempar bantal antara dia dan Gina.
Gina sungguh menghibur Rani, disaat ia bosan.
Sedih rasanya bagi Rani bagaimana sebentar lagi adik tersayangnya ini akan jauh darinya, walau bukan adik kandung akan tetapi mereka saling menyayangi.
***
__ADS_1