Terpaksa Menikahi Tuan Kejam

Terpaksa Menikahi Tuan Kejam
Tuan, hatinya sudah hancur.


__ADS_3

Episode 57 : Tuan, hatinya sudah hancur.


***


"Bi, tolong jaga Rani sebentar ya, aku mau ke ruangan kerjaku sebentar," ucap Gama pada Bi Mendi yang sudah membawakan makanan penuh untuk Rani.


"Baik Tuan," sahut Bi Mendi yang sudah memakai pakaian serba hitam itu, lain dari hari biasa pakaian pelayan ini, tetapi Rani tidak ambil pusing mungkin memang seragam pelayan di rumah ini ada beberapa warna pikirnya.


Lalu setelah itu Gama keluar dari kamar pribadinya, dan menuju ruangan kerjanya.


Bi Mendi segera menyiapkan makanan untuk Rani.


"Bi, biarkan Rani sendiri saja," ucap Rani masih tidak terbiasa dilayani oleh pelayan, apalagi oleh seseorang yang lebih tua darinya.


Bi Mendi kemudian tersenyum hangat dan lembut, "Tidak apa Nyonya, ini adalah tugas saya jadi jangan sungkan," balas Bi Mendi menyiapkan makanan dan meletakkan nya diatas meja agar segera disantap oleh Rani.


Rani yang memang masih canggung dan kaku segera melupakan perasaan itu, dia lapar sekali jadi dia langsung menghabiskan semua makanan yang ada di piringnya.


***


Disaat yang sama di ruangan kerja Gama,

__ADS_1


Gama sedang duduk di kursi kebesaran nya di ruang kerjanya yang ada di rumah, dia membuka laci nya dan melihat foto antara dirinya dan ibunya.


Wajahnya yang tadi ia buat tersenyum sekarang sudah murung dan terlihat marah.


"Ibu, tunggu sebentar lagi, sebentar lagi sampai aku membuat mereka merasakan penderitaan mu Bu," suaranya sedikit bergetar, dia menutup wajahnya dan seorang Gama yang begitu kuat dan terlihat tak tersentuh itu menitikkan air matanya.


Setiap tahun di tanggal yang sama saat nafas terakhir ibunya dihembuskan, Gama akan terpuruk sendirian, ada saat dimana dia akan mengikat dirinya sendiri agar tidak melukai diri sendiri.


Separah itu lah rasa sakit dan trauma Gama yang ia tanggung dari kebejatan ayah dan ibu tirinya, hal itu jugalah yang membuat Gama tidak memiliki kepercayaan kepada siapapun.


Gama hanya menyimpan foto ibunya di laci, dia tidak memajang nya karena setiap ia lihat ibunya, derita dan dendam nya akan menyeruak lagi.


Seperti hari ini, setiap dia melihat wajah ibunya yang cantik itu di foto, kemarahannya akan memenuhi dirinya dan dia tidak akan tahan sebelum menyakiti diri sendiri atau menghancurkan ruangan.


Gama sudah tidak tahan lagi, ingatan itu muncul lagi, ingatan yang membuat hatinya sangat sakit, ingatan saat ayahnya tertawa bersama istri barunya dan saat itu ibunya harus dibawa berobat.


Saat itu ayahnya seolah tidak peduli, Gama masih ingat dengan jelas, saat dia meminta tolong kepada ayahnya sambil menangis agar membawa ibunya ke rumah sakit, istri barunya menghasut ayahnya dan tersenyum penuh kemenangan kearah Gama kecil saat itu.


"Brak!"


"Prang!"

__ADS_1


"Trash!"


Gama memukul mejanya, melempar semua yang ada diatas meja, termasuk komputer, lemari kaca ia pecahkan dengan tinjunya dan dia berteriak sekuat yang ia bisa.


Tangannya sudah berlumuran darah, wajahnya memerah tak bisa membendung rasa sakit hatinya.


Karena ruangan kerjanya bersebalahan dengan kamar pribadinya membuka Rani yang sudah selesai makan itu mendengar keributan yang ada di ruangan kerja Gama.


"Bi, kenapa berisik sekali? ada apa dengan nya?" tanya Rani sudah sedikit panik, karena keributan nya memperdengarkan banyak barang jatuh dan kaca pecah, sangat berisik sampai membuat Rani panik.


Lalu setelah itu Bi Mendi hanya membereskan piring yang sudah di gunakan oleh Rani dan Bi Mendi kemudian menangis terisak.


"Nyonya, sebenarnya saya tidak bisa mengatakan itu tetapi tolong jangan tinggalkan Tuan sendirian, sepertinya dia berharap kepada mu Nyonya,"


"Tuan, hatinya sudah hancur sejak ia kecil, setiap tahun di tanggal sekarang, Tuan akan berperilaku seperti itu, menyakiti dirinya sendiri dan menghancurkan barang-barang, hatinya terlalu sakit sampai ia menyalahkan semuanya, diri sendiri, keluarganya apalagi ayah dan ibu tirinya,"


"Tuan memang kasar dan menuntut, tetapi percayalah Nyonya, hanya Nyonya satu-satunya yang tidak ia singkirkan, sepertinya Nyonya bisa menyembuhkan luka Tuan, jadi ... tolong jangan menyakiti nya,"


Bi Mendi tak kuasa menahan tangisnya, walah dia tidak pantas karena derajat nya yang lebih rendah karena hanya seorang pelayan, tetapi dia sungguh menganggap Gama sebagai putranya yang sangat ia sayangi, jadi dia tidak tega melihat tuan nya menderita setiap hari.


Merasa trauma atas kepergian ibunya yang sangat ia cintai sampai memendam dendam yang tak berkesudahan.

__ADS_1


***


__ADS_2