
Episode 86 : Rani demam.
***
Time skip,
Beberapa hari kemudian,
Setelah menceritakan kisah itu, Rani akhirnya mengerti jika setiap orang pasti memiliki sebuah kisah yang tersembunyi dan tak bisa mereka bagikan kepada sembarang orang.
Hari-hari Rani terlihat sama seperti sebelumnya, keposesifan suaminya semakin hari semakin menjadi-jadi, Gama selalu saja bertanya apakah Rani sudah hamil atau tidak, padahal hamil itu bukanlah hal yang mudah seperti yang diinginkan lelaki itu.
Rani tidak tahu jika keinginan Gama yang menginginkan Rani hamil adalah karena ingin Rani cepat cepat keluar dari proyeknya bersama Ardhan dan bersamanya sepanjang waktu.
Selalu akan ada keinginan tersembunyi di setiap rencana Gama tentunya.
Malam ini Gama tidak melakukan pembibitan yang ia rencanakan itu, karena melihat wajah Rani sedikit pucat dan kelihatan lelah sekali.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" Gama mencoba memegang dahi Rani, mencoba merasakan suhu nya dan ternyata benar dugaan nya Rani sedang demam.
"Kita ke rumah sakit!" ketus Gama tidak mau tahu, akan tetapi sebelum itu ada panggilan dari Ibu Rani malam itu.
__ADS_1
"Tring ... Tring ... Tring!"
"Halo Ibu?" jawab Gama yang sudah siap-siap hendak membawa istrinya ke rumah sakit segera, jika memanggil dokter pribadi nya mungkin akan memakan banyak waktu karena dia sedang sibuk sekarang ini.
"Nak Gama, maafkan Ibu menghubungi mu malam begini, akan tetapi Ibu baru saja mengingat jika hari ini tanggal 27 Maret, setiap tanggal itu entah kenapa putri Ibu selalu sakit dan demam, dia tidak butuh dibawa ke rumah sakit, hanya butuh istirahat dan ditemani,"
Sheryl menghubungi menantunya, mengingat jika tanggal 27 Maret, setiap malamnya Rani akan sakit dan bermimpi buruk semalaman
Sheryl tidak tahu alasannya, dan Sheryl takut mencari tahu karena takut akan memperparah keadaan putri nya.
"Benarkah Bu? tapi keadaan nya seperti nya sangat serius, aku harus membawanya ke rumah sakit," balas Gama masih ingin membawa istrinya ke rumah sakit.
Sheryl menceritakan semuanya, karena sebenarnya mereka juga sudah sering panik dan membawa Rani ke rumah sakit akan tetapi semuanya percuma, karena sakitnya hanya bertahan satu malam dan gejalanya tidak dianggap serius oleh dokter.
Gama melihat kearah istrinya yang sedang memejamkan matanya tetapi dia mengernyitkan dahinya, kelihatan kesakitan tetapi ia juga mengigau.
Segera Gama mematikan panggilan telepon nya dan berfokus hanya kepada Rani sekarang ini.
Dia naik keatas ranjang, mencoba merasakan suhu tubuh istrinya lagi, dan memang suhu tubuhnya panas sekali.
"Sialan!" geramnya tidak mau tahu, yang ia tahu hanyalah satu yaitu jika dia harus segera membawa Rani ke rumah sakit sekarang juga.
__ADS_1
Dengan cepat dia menggendong Rani, memanggilkan supir untuk membawa mereka ke rumah sakit.
Rani sedikit terbangun saat Gama menggendong nya dan sangat erat memegang dirinya, Rani melihat jika mereka sedang berada di dalam mobil.
"Kita mau kemana?" keluh Rani sedikit lemas, dia merasa tidak enak badan sekarang ini.
Gama yang sudah panik sekali itu melihat wajah Rani, dia mengusap pipinya yang masih memerah.
"Sayang, apakah kau sudah bangun? kau tiba-tiba sakit, kita sedang menuju rumah sakit!" seru Gama dengan raut wajah yang sungguh kelihatan khawatir.
Nafas Rani yang panas karena suhu tubuhnya terdengar berat, "Aku baik-baik saja, aku sudah biasa seperti ini, kita kembali ke rumah saja ya," keluh Rani tetapi tidak didengarkan oleh Gama.
"Biasanya apanya! kau kelihatan pucat sekali? diamlah! dan ikuti aku! hidupmu itu bukan hanya milikmu saja sekarang ya! jika kau berani mati maka aku akan membunuh mu lagi!" geram Gama dengan nafas yang berat dan wajah yang memerah.
Gama tidak ingin kehilangan apapun lagi, dia tidak suka saat orang penting baginya sakit seperti ini, dia akan berpikir yang tidak-tidak dan hatinya akan kacau.
Rani hanya geleng-geleng, bagaimana mungkin orang mati bisa dibunuh lagi, sungguh pemikiran lelaki ini memang ngadi ngadi.
Setelah beberapa saat dalam perjalanan,
***
__ADS_1