
Episode 65 : Apakah dunia akan segera runtuh?
***
“Bajingan, sialan! Dia menghabisi aku bahkan di dalam kamar mandi tadi malam, pinggang ku sakit sekali,”
“Kenapa pula wajahnya kelihatan tenang dan hanya aku yang kelelahan setengah mati? Bukannya katanya laki-laki jauh lebih lelah ya jika melakukan hal itu!”
“Aku marah, aku kesal tapi aku tidak bisa memarahinya!”
Rani sejak tadi hanya berteriak dalam dirinya sendiri, melihat suaminya bisa makan dengan tenang dan seolah-olah tidak ada yang terjadi membuat kekesalan Rani meledak-ledak.
Rani menghabiskan sarapannya, dia harus kembali bekerja, dia tidak ingin selalu ada di rumah dan juga Rani sudah terbiasa mandiri mendapatkan uang sendiri, sangat kurang menyenangkan jika dia hanya tenang tenang saja.
Gama berpangku tangan memandangi istrinya yang tengah makan sarapan nya, pipinya yang mengembung terlihat sangat menggemaskan.
“Sial! dia menggoda ku lagi, wanita penggoda ini benar benar tak ada habisnya membuatku bergairah!” geram Gama menatap Rani dengan tatapan yang begitu tajam seolah hendak melahap Rani hidup-hidup.
Padahal Rani hanya sedang makan dengan damai, hanya saja bagi Gama apapun yang dilakukan istrinya itu semuanya terasa sangat menggoda dan menggemaskan.
Setelah Rani selesai makan pagi,
“Sayang, kau sudah selesai makan?”
“Sudah Tuan, eh Gama,” balas Rani tersenhyum kaku, pipinya masih memerah mengingat seberapa buasnya mereka melakukan hubungan tadi malam.
“Kemari lah ….” Seru Gama sembari mengetuk meja dengan telunjuknya agar Rani segera datang ke arahnya.
“Boleh tidak aku menolak? apa yang akan ia lakukan lagi?” geram Rani dalam hatinya.
Tetapi sesungguhnya Rani tahu jika dia sama sekali tidak bisa menolak, jadi dia bangkit berdiri dan melankah kearah suaminya.
__ADS_1
"Srek!"
Gama menarik pinggang Rani agar duduk di pangkuan nya, "Sayang, yang tadi malam hebat sekali, kau terlihat menikmati nya, apakah pinggang mu masih sakit? jika masih sakit kau bisa libur kerja loh, atau tidak usah kerja aja sekalian, kan yang memiliki perusahaan juga suami mu, bagaimana?"
Rayuan maut yang dilemparkan Gama ini membuat Rani berdecak kesal, bagaimana tidak, banyak pelayan di sekitar mereka dan ada Bi Mendi yang juga ada disana, berani-beraninya lelaki ini mengatakan hal mesum seperti ini di hadapan mereka!
"Aku tidak mau tidak bekerja, lagian sakit pinggang ku bisa aku atasi kok, tenang saja!" balas Rani menjawab selembut mungkin agar harga diri lelaki ini tidak terusik.
Dengan begitu jika amarah Gama bisa terjaga maka seisi rumah juga akan selamat sentosa dari amukan lelaki kejam ini.
"Ck! wanita ini memang sangat keras kepala! aku tidak suka saja banyak karyawan lelaki nanti melihat betapa cantiknya dia!"
"Tidak boleh, dia harus ada di sekitar ku mulai sekarang!" geram Gama gagal dalam misi untuk menghentikan istrinya agar tidak bekerja.
"Pasangkan dasi untukku!" ketus Gama ngambek karena Rani tetap ingin pergi bekerja.
Rani memang adalah wanita mandiri, dia juga tidak tahu kapan lelaki ini berubah pikiran, dia tahu lelaki ini seperti bom tidur, suatu saat ini Rani yakin jika Gama pasti akan meninggal kan dirinya, jadi setidaknya dia harus mandiri secara finansial.
"Baik ...." balas Rani hanya tersenyum kaku, mengambil dasi yang sudah di sodorkan oleh seorang pelayan kepada Rani.
Rani memasang dasi itu dengan rapih, saat memasang dasi itu entah kenapa tadi jantung Rani berdegup kencang sekali.
"Deg ... Deg ... Deg!"
"Entah kenapa adegan ini seperti adegan suami istri yang memang saling mencintai, padahal kenyataannya, aku tidak mencintai nya dan lelaki ini juga hanya memanfaatkan aku, sampai kapan hubungan aneh ini berlangsung," gumam Rani merasa jika hubungan antara dirinya dengan Gama benar benar hanya setipis kulit ari salak.
Setelah selesai memasang dasi, "Cium aku," ketusnya lagi sembari menunjuk bibirnya membuat Rani langsung celingak-celinguk ke arah para pelayan apalagi kearah Bi Mendi.
"Gama, masih ada banyak pelayan, jangan lakukan itu aku malu!" ketus Rani menunduk dan sungguh malu sekali.
"Sayang, kau istriku kenapa harus malu kita sudah melakukan hal yang lebih gila masih saja malu hanya untuk ciuman saja, lagian jangan sampai aku yang mencium mu duluan, jika aku sampai mencium mu lebih dulu, maka akan aku lakukan sampai beberapa jam!" geram Gama yang masih kelihatan ngambek itu.
__ADS_1
"Ehem ..."
Bi Mendi selaku kepala pelayan yang sudah senyam senyum itu segera mengodekan kepada para pelayan yang lain agar segera beranjak dari ruang makan meninggalkan keduanya saja.
"Brengsek! dia semakin membuat aku malu! dia bahkan mengatakan itu dengan lantang! memalukan! huhu!"
Rani hanya bisa menangisi dirinya sendiri jika sudah begini.
"Cepat cium aku!" ucap Gama lagi sekarang sudah menggenggam kedua pipi Rani dan menghadapkan tepat di depan wajahnya.
"Glek!"
Rani sedikit mengawasi sekitar dan memastikan jika semua pelayan sudah tidak ada.
"Baiklah ... baiklah!" ketus Rani memejamkan matanya dan segera memonyongkan bibirnya.
"Pfft!" Gama tertawa kecil saat melihat cara Rani yang benar-benar polos itu.
"Kau seperti ikan ******! kalau mau mencium ku harus mengeluarkan lidah sayang," bisik Gama langsung melahap Rani tanpa ampun.
"Aku sudah kehabisan kata-kata, lelaki ini memiliki tingkat kemesuman melewati langit ketujuh, dia bahkan tidak malu mengatakannya! aku harap selama bersamanya saraf yang merespon rasa malu dalam diriku di non aktifkan saja!"
Rani berbicara dalam hatinya, sudah menyerah dengan ucapan super nakal suaminya.
Setelah Ciuman itu, akhirnya keduanya memasuki mobil hendak pergi ke kantor, hari ini Gama terlihat sangat berbeda, setelah dapat asupan ciuman pagi hari wajahnya jadi lebih cerah.
Senyuman merekah itu bahkan membuat sang supir yang membawa mereka gemetaran.
"Apakah dunia akan segera runtuh? bagaimana mungkin Tuan Gama yang mengerikan itu tersenyum dan pipinya merona? wah wah, ada yang tidak beres ini!" gumam sang supir tak menyangka seumur hidupnya dia akan melihat senyuman dan wajah cerah sang Gama Yu.
Bagaimana pun Gama memang terkenal beringas dan dingin, ini adalah kali pertama bagi sangat supir setelah bekerja bertahun-tahun melihat Gama Yu tersenyum seperti itu.
__ADS_1
***