Terpaksa Menikahi Tuan Kejam

Terpaksa Menikahi Tuan Kejam
Kehangatan keluarga Rani


__ADS_3

***


Di kediaman orangtua Rani,


Ayah Rani menyambut Gama dengan senyuman dan menganggukkan kepala, dia belum bisa berbicara banyak dan sejak tadi hanya mengikuti atmosfer yang begitu hangat di sekelilingnya.


Sherly bersemangat sekali, dia menyediakan banyak makanan untuk merayakan lulusnya Gina dan untuk menyambut pasangan suami istri yang baru menikah ini.


Gama melihat betapa ramainya keluarga Rani, mereka makan begitu tertib dan sopan, sepertinya orangtua Rani mendidik anak-anak mereka dengan baik.


Melihat betapa hangat dan heboh nya Sheryl menyediakan makanan makanan dan melayani suaminya membuat Gama mengingat ibunya.


Gama merasa keluarga ini sangat hangat dan damai, walau bukan anak dan orangtua kandung akan tetapi mereka kelihatan saling menyayangi satu sana lain.


"Gin, maka lah yang banyak, kau sebentar lagi akan sulit memakan masakan Ibu loh," ucap Rani memberikan beberapa makanan ke piring adiknya.


"Huhu, Iya aku akan makan dengan banyak, aku akan sangat merindukan makanan ini," sembari menangis dengan berlebihan Gina memakan makanan yang diberikan kakaknya.


"Bagaimana dengan Kakak? kau hanya merindukan makanan saja?" sembari melotot Rani merasa kurang suka dengan jawaban adiknya.


"Hehe, tentu saja aku akan rindu dengan kakak cerewet ku, adik-adik ku yang menyebalkan dan ayah dan ibu tercinta," Gina menangis akhirnya, sembari memakan makanan yang dia kunyah.


Dia memang senang bisa kuliah di luar negeri tetapi hatinya sedih mengingat bahwa dia akan pergi jauh dari rumahnya.


Biasanya ayah mereka akan marah dan melarang jika saat makan mereka berisik, akan tetapi kali ini dia biarkan saja karena memang makan malam ini khusus untuk perayaan kelulusan Gina.


Gama tersenyum senang sekali, melihat betapa dekatnya interaksi keluarga besar ini, dia juga pertama kalinya melihat Rani tersenyum juga menjahili adiknya.


Rani ternyata sama saja dengan kakak pada umumnya, suka membuat adiknya menangis dan kesal akan tetapi akan menjadi orang yang pertama untuk menghibur adiknya.


"Nak Gama, jangan terlalu dipikirkan ya, mereka memang begitu, berisik jika sudah bertemu," sahut Sheryl membahas mengenai hebohnya Rani dan adik-adiknya yang sedang makan tapi saling melempar kata.


"Tidak apa Bu, aku suka kok jadi ramai," balas Gama menyantap makanannya dengan hati yang sangat tenang.

__ADS_1


"Ehem ...."


"Jadi, kapan kalian akan memberikan kami cucu? lihatlah ayah kalian ini, dia sampai sakit karena sudah menginginkan cucu,"


Ucapan Sheryl yang mengkambinghitamkan suaminya itu membuat suasana jadi diam dari riuh.


Sheryl tersenyum begitu lebar karena dia memang sudah sangat menginginkan cucu.


"Uhuk ... Uhuk!"


Rani sampai terbatuk-batuk karena ucapan ibunya.


Gama segera mengambilkan air minum dan memberikan minuman itu ke istrinya, dia menepuk lembut pundak Rani yang tengah tersedak.


"Sayang, kenapa bisa tersedak sih? kalau makan itu hati-hati, jangan menyusahkan dirimu sendiri!" dengan nada kesal namun menggemaskan Gama memperlakukan istrinya seperti biasa ia memperlakukan istrinya di rumah.


"Aduh, gimana aku tidak tersedak, Ibuku tiba-tiba mengatakan itu, jangan marah padaku kali ini," Rani membalas Gama yang menceramahi nya.


Jadi mereka sedang berdebat lucu di antara keluarga nya yang menonton, seolah mereka sedang menonton drama romantis.


"Ibu, tadi bilang apa? jangan mengatakan hal yang membuat aku terkejut," ketus Rani pada ibunya yang sejak tadi senyam senyum melihat tingkah menantu dan putrinya ini.


"Kok terkejut, Nak Gama terlihat biasa saja, kan memang Ibu dan ayahmu ingin cucu segera," balas Sheryl tersenyum lebar melihat kearah Gama yang tak kalah senyum begitu lebar.


Nampaknya Gama sangat senang dengan ucapan ibu mertuanya mengenai ingin memiliki anak.


"Ha ha ha! kenapa aku tidak memikirkan ini ya? jika dia memiliki anak dariku dan hamil dengan segera maka dia tidak akan bisa melanjutkan jadi perwakilan sampai proyek selesai, dan dia akan benar-benar menjadi milikku! ho ho ho!


"Ibu mertuaku, aku tidak tahu jika kau sangat jenius,"


Mata Gama dan mata Ibu mertuanya seolah memberikan kode telepati yang membuat Rani bertanya-tanya.


Mereka saling mengangguk dan Rani hanya bisa melihat tak memahami.

__ADS_1


***


Setelah acara makan malam usai, Gama sudah menyediakan hadiah untuk Gina, Gama sudah memberikan segala yang dibutuhkan oleh Gina kuliah nanti di luar negeri.


Gama memberikan semua kartu penting, untuk makan, transportasi dan juga laptop yang canggih untuk digunakan Gina disana.


"Wah, Kakak ipar super duper tampan, kenapa kau begitu baik pada diriku yang membutuhkan ini?" Gina kegirangan menerima hadiah itu.


"Sama kami tidak ada kah? kenapa hanya Kak Gina?" ketus Deni dan diikuti ketiga adiknya yang lain.


"Ha ha ha, karena aku adalah kakak ipar yang sangat dermawan tentu saja aku menyiapkan hadiah untuk kalian juga, sudah ada di ruang tamu sejak tadi," seru Gama tertawa bangga sembari berkacak pinggang, sungguh terlihat seperti Gama yang memuji dirinya seperti biasa.


"Benarkah? horeeee!" keempat adik Rani yang masih SMP dan SMA itu berlari kearah ruang tamu.


"Jangan terlalu memanjakan mereka, nanti mereka jadi malas loh," Rani sedikit menarik tangan Gama dan membisik agar Gama jangan terlalu sering memberikan hadiah seperti itu.


Gama melihat istrinya yang menarik tangannya itu merasa senang, mungkin selama ini Rani jarang sekali memegang atau menggandeng tangannya, jadi hal sesederhana ini sudah membuat nya berdebar.


"Tenang saja sayang, yang aku berikan bukan hal besar kok," balas Gama sekarang merangkul istrinya, memegang bahu istrinya dan tersenyum dengan pipinya yang memerah.


"Ada apa dengan lelaki ini? kenapa kelihatan bahagia sekali?" gumam Rani melihat malam ini Gama sudah tidak murung lagi, malahan kelihatan bahagia dan tersenyum begitu lebar.


Setelah beberapa saat ....


Gama dan Rani harus kembali ke kediaman mereka,


"Ayah, jaga kesehatan ya, aku akan sering berkunjung, pokoknya Ayah harus kembali sehat," Rani memeluk ayahnya tak bisa menahan tangis karena akan kembali ke rumah suaminya.


Ayahnya hanya mengangguk dan matanya sedikit berair, dia belum bisa berbicara saat ini, tetapi dari wajahnya kelihatan jika dia bahagia sekali karena putrinya telah dijaga oleh orang yang tepat sekarang.


"Ibu, Rani pulang dulu ya, aku akan sering menelepon Ibu," Rani juga memeluk Ibunya.


Sedangkan Gama meminta ijin dengan gayanya yang memang sok cool.

__ADS_1


"Ayah mertua, aku kembali dulu ya, tenang saja putri mu yang manja aman bersamaku," dengan gaya yang cool dan gagah dia meminta ijin pulang secara lakik ke ayah mertuanya.


Sedangkan ke ibu mertuanya, Gama sedikit membisik sampai membuat Sheryl kegirangan dan bersemangat sekali.


__ADS_2