
Episode 99 : Marian menghina Ibu Gama.
***
"Buk!"
"Bak!"
"Buk!"
Suara pukulan yang terdengar begitu keras menghantam perut, pelipis dan tubuh John yang kelihatan oleh Gama.
Wajahnya yang mengerikan itu terlihat oleh semua orang, dan John yang mabuk tidak bisa membela dirinya sedikit pun.
Matanya yang sayu itu tetap melihat kearah Rani, wajah Rani yang tetap mencoba berteriak kearah Gama Yu, walau sudah dilukai begitu berat seperti itu tetap saja tangannya seolah ingin meraih tangan Gama.
"Rani, apa itu?"
"Kenapa kau menyakiti hatiku? apakah aku sudah hilang dari hatimu? aku tidak rela aku tidak mau!" teriak John dalam hatinya saat ia sudah terkapar di lantai dan menatap kearah langit.
Rasa sakit yang begitu hebat, orang yang ia cintai dan yang seharusnya mencintai nya kembali, terlihat membela lelaki lain dan mencoba meraih tangan lelaki lain, rasanya akan membuat hati seolah remuk.
John tidak bisa menggambarkan rasa sakit hatinya, akan tetapi sekarang dia bahkan sampai kesulitan bernafas.
Sedangkan semua petugas yang tadi hendak melerai semuanya ikut kena amukan Gama, mereka juga sudah tersungkur oleh pukulan Gama yang sudah sangat marah itu.
__ADS_1
Dia masih belum puas, dia ingin membunuh John sampai mati agar tangan nya tidak akan lagi sampai ke tangan istrinya.
Untuk kesekian kalinya, Rani gemetaran ketakutan, kemarahan Gama kali ini terlalu menakutkan, wajahnya kali ini bahkan jauh lebih menakutkan disaat Rani melihat Gama kehilangan kendali saat hari kematian ibunya saat lalu.
Sebagai manusia biasa, dia tidak bisa menyembunyikan rasa takut nya, akan tetapi dia sudah berjanji kepada dirinya sendiri jika dia sudah mau mencintai Gama dan menerima kekurangan nya, jadi tidak ada jalan mundur untuk sekarang.
Langkah Gama yang terlihat angkuh, dan tangannya yang sudah berlumuran darah, dia menargetkan John yang sudah terkapar lemas.
Dia sudah sampai beberapa langkah dihadapan John sampai seseorang yang paling dibenci oleh Gama di seluruh dunia ini ada di hadapannya, dengan wajahnya yang angkuh seperti dirinya.
Matanya yang tajam mirip dengannya, perbedaan nya lelaki tua ini membawa sebuah tongkat yang memberikan kenangan buruk bagi Gama.
Gama masih ingat tingkat besi hitam itu akan melayang ke tubuhnya dengan sangat kuat sampai ia hampir pingsan, jika saja dia tidak menuruti kata ayahnya.
Ya, yang ada di hadapannya sekarang adalah ayahnya, Deffan Yu.
Mungkin Gama tidak takut akan tetapi tubuhnya masih mengingat sensasi rasa sakit di tubuh dan hati saat melihat tongkat hitam itu.
Sudah terdengar teriakan Marian dari belakang, mereka bertiga memang baru saja keluar dari dalam kapal pesiar dan syok berat saat melihat jika Gama sudah menghabisi beberapa orang termasuk putra mereka.
"John!"
"John!"
"Putraku, apakah kau baik-baik saja?"
__ADS_1
"Apakah anak gila itu yang menghabisi mu! brengsek! dia sama seperti ibunya, sama-sama gila! makanya bisa bersikap seperti ini!" Marian berteriak karena marah sekali, dia menatap tajam kearah Gama dimana Gama juga langsung menatap kearah Marian.
"Kau berani mengatai ibuku gila? kau berani?" teriak Gama sudah hendak ingin menghantam Marian, akan tetapi Deffan langsung menghalangi menggunakan tongkat nya.
"Srek!"
Gama meraih tongkat itu dengan kasar, melempar nya ke lautan gelap lalu ia membisik ke telinga ayahnya, membuat ayahnya bergetar ketakutan.
"Apa kau pikir aku masih Gama yang dulu yang bisa kau tindas? tunggu lah sampai aku membunuh mu dengan tanganku sendiri!" bisik Gama menyeringai.
Saat itulah Deffan menyadari, jika ternyata dia telah mendidik seseorang yang lebih mengerikan darinya.
Gama menyingkirkan ayahnya dengan hanya satu hentakan, lalu ia melangkah kearah ibu tirinya, Marian yang baru saja menghina ibunya.
Gama masih ingat dengan jelas, bagaimana wanita menjijikkan ini bersandar pada ayahnya dan selalu mencari cara agar Deffan marah pada ibunya yang berakhir membuat ibunya terluka oleh ayahnya.
"Mulutmu tetap kotor dan bau sampah! lebih baik dirobek saja!" geram Gama membuat Marian ketakutan dengan hebat.
Dia menelan salivanya dengan kasar dan hendak melarikan diri tetapi tidak mungkin dia meninggalkan putranya yang sudah pingsan.
Akan tetapi sebelum Gama sampai dan bahkan hendak menghajar Marian, seorang wanita yang kelihatan lemah sekali dan tangannya berdarah, bahkan dia kelihatan sulit berjalan datang membawa sebuah ember berisikan air pel yang sepertinya digunakan oleh petugas kebersihan untuk membersihkan minuman-minuman pecah di lantai.
"Syur!"
Rani menyiram Marian dengan air kotor itu, semua syok, beberapa undangan yang masih menunggu giliran turun dari kapal pesiar masih menyaksikan kejadian itu.
__ADS_1
***