Terpaksa Menikahi Tuan Kejam

Terpaksa Menikahi Tuan Kejam
Mau kah kau bersama denganku sampai tua?


__ADS_3

Episode 129 : Mau kah kau bersama denganku sampai tua?


***


Gama sudah kembali pulang, semua rencana sudah dijalankan oleh Bi Mendi dan para pelayan, malam ini Gama akan memberikan kejutan kepada istrinya.


Disaat Rani sibuk berdandan untuk kelihatan cantik di hadapan sang suami, para anggotanya dan Bi Mendi juga sedang sibuk menghiasi taman belakang rumah untuk dijadikan sebuah makan malam mewah oleh Gama.


Bahkan keluarga istrinya di undang oleh Gama, agar mereka melihat betapa putri mereka bahagia bersamanya.


Saat Gama sampai di kediamannya, Sheryl yang juga sudah sampai dengan suami dan anak-anaknya itu, berlari memeluk menantunya ini.


Entah kenapa hatinya yang menjadi seorang ibu terluka dan tersakiti mengetahui kisah hidup menantunya.


"Menantuku yang paling tampan, kau memiliki ibu sekarang Nak, kau bisa menganggap Ibu sebagai Ibumu," Sheryl menangis membuat suaminya yang masih duduk di kursi roda juga ikut terenyuh.


Siapa yang sangka pengusaha jenius dan terkenal arogan merupakan seorang yang terluka dan menderita oleh orangtuanya sendiri.


Gama tersenyum melihat reaksi ibu mertuanya yang memang hangat, dia membalas pelukan ibu mertuanya, "Tenang saja Bu, saat aku menikah dengan Rani, aku sudah menganggap ibu sebagai ibuku," balas Gama tersenyum membuat Sheryl semakin menangis tersedu-sedu.


"Oh menantuku," serunya lagi semakin menjadi-jadi.


Setengah pertemuan mengharu biru itu, waktu akhirnya berlalu dengan cepat, Gama dan keluarganya yang terdiri dari ibu, ayah mertua dan adik-adiknya Rani sudah datang ke taman belakang rumah yang di hiasi sedemikian rupa.


Sebenar Gama bisa saja menjadikan acara ini ditempatkan paling mahal, akan tetapi dia ingin melakukan acara ini di rumah, agar kesannya semakin indah karena lebih intim jika dilakukan di rumah.


"Tok ... Tok ... Tok!"


Bi Mendi sekarang sudah mengetuk pintu kamar dimana Rani sudah menunggu suaminya, dia sudah berdandan begitu cantik dengan balutan gaun pengantin yang membuat nya menjadi sangat cantik.


"Nyonya Rani, Tuan Gama sudah menunggu di belakang rumah," seru Bi Mendi membuat Rani semakin jantungan.


Dia sedikit malu akan tetapi dia sudah bertekad jika dia akan memperlihatkan versi terbaik dirinya menggunakan gaun pengantin ini.

__ADS_1


Dia ingin terlihat berbeda saat mengenakannya gaun ini, dulu matanya masih sembab saat menikah, dia ingin suaminya melihat jika dia terlihat sangat cantik dan bahagia menikah dengan suaminya itu.


"Glek!"


Rani menelan salivanya karena gugup, dia keluar dari kamar, saat itulah Bi Mendi melihat penampilan Rani.


Mata Bi Mendi melebar dan dia terlihat terpesona, "Nyonya, anda cantik sekali, Tuan pasti senang," seru Bi Mendi bahagia sekali melihat penampilan Rani.


"Bi, aku sudah bilang jangan memanggilku Nyonya, panggil Rani saja," bisik Rani menggandeng Bi Mendi karena gugup.


Mendengar itu Bi Mendi hanya bisa tersenyum.


***


Saat itu sudah sudah senja, matahari keemasan menyinari tempat itu, Gama menunggu istrinya, kejutannya hari ini adalah bahwa dia ingin melamar istrinya ini lagi, dia ingin memperbaiki segalanya dari awal.


Gama tahu jika hubungan mereka dimulai dari sebuah kesalahan, dia ingin memperbaiki nya, dia ingin hidupnya dimulai dari awal bersama wanita yang paling ia cintai itu.


Waktu berjalan menjadi lebih lambat, hembusan angin yang menyentuh rambut istrinya membuat tampilan Rani semakin indah dan cantik.


Gama mengingat kenangannya, saat ia menikah dengan Rani, Rani juga mengenakannya gaun ini, akan tetapi ekspresi nya berbeda, dahulu dia kelihatan tertekan.


Akan tetapi sekarang Rani terlihat bahagia sekali, seolah wanita yang ia cintai itu ingin mengatakan jika dia bahagia dalam pernikahan nya.


Tanpa sadar Gama meneteskan air mata di pipinya, bukan air mata kesedihan akan tetapi rasa haru karena bahagia sekali.


Setelah dendam dan kebencian nya ia lepaskan, ternyata beginilah kebahagiaan yang ia terima, begitu berlimpah dan hangat.


***


Sedangkan Rani yang tidak menduga ada keluarga nya disana membuat Rani sedikit Malu, akan tetapi saat melihat mata ayahnya yang kelihatan bahagia sekali, dan mata ibunya yang berkaca-kaca membuat Rani merasa kejadian ini benar-benar seperti saat ia menikah dengan Gama saat lalu.


Tatapan mata Rani tertuju kepada suaminya yang tersenyum begitu indah di hadapannya, setelah melangkah dan diantarkan Bi Mendi, dia sampai di hadapan suaminya.

__ADS_1


"Sayang, kau sangat cantik, apa kau sengaja berdandan untuk membuat ku gila seperti ini" bisio Gama di telinga istrinya.


Rani kemudahan tersenyum, dia meraih tangan suaminya dan menggenggam nya, "Aku memang sengaja, aku ingin menjadi hadiah untukmu, karena hari ini kau kelihatan sangat keren di televisi," seru Rani dengan senyumannya yang begitu indah.


Senyuman yang diterangi matahari senja, melengkapi keindahan istrinya.


"Deg ... Deg ... Deg!"


Saat melihat istrinya menggodanya tepat dihadapan keluarga nya sendiri membuat adrenalin Gama seolah melonjak, dia harus menahan gairah nya, sekarang dia harus melakukan kejutannya ini dulu.


"Haah!" dia menghela nafasnya dalam-dalam, lalu ia berlutut.


Dia memang sudah menyiapkan mawar merah ditangannya, sembari berlutut dan memberikan mawar merah, Gama melamar Rani lagi.


"Sayang, aku membawakan mu mawar merah, ini melambangkan cinta sejati, aku ingin melamar mu lagi, bukan untuk menikah kedua kalinya, akan tetapi melamar mu dengan sungguh-sungguh, untuk meminta persetujuan mu,"


"Mau kah kau bersama denganku sampai tua? saling mencinta selamanya dalam suka dan duka? aku ingin kau menjadi pasangan ku sampai akhir hayat, aku tidak mau yang lain,"


Gama melamar Rani lagi, akan tetapi melamar sebagai ungkapan cinta dan persetujuan wanita ini untuk menjadi pasangan nya sampai akhir hayat.


Mendengar kata-kata itu, Rani menitikkan air matanya, dia beruntung sekali mendapatkan lelaki ini menjadi suaminya.


Dia meraih bunga mawar merah itu, lalu ia menarik tangan suaminya agar berdiri, dia segera memeluknya erat sekali.


"Aku mencintaimu, kau adalah suami pilihan ku, bagaimana mungkin aku menjawab tidak," seru Rani menangis bahagia, dia memeluk suaminya ini erat sekali.


***


Pernikahan yang diawali sebuah dendam, pernikahan yang awalnya dari sebuah jebakan, siapa sangka keduanya benar-benar menemukan cinta sejati.


Hati yang rapuh dan ringkih, yang selama ini ditutupi oleh sikap arogan dan kejam, akhirnya menemukan tambatan hatinya, akhirnya menemukan cintanya yang selama ini hilang.


***

__ADS_1


__ADS_2