
Episode 52 : Kau mati saja!
***
Dibawah lampu redup dan suara ombak yang membanting pesisir, angin dingin menerbangkan rambut Rani, disaat yang sama ketakutan merasuk segala tulang Rani, membuat Rani berharap jika semuanya hanya mimpi saja karena tidak siap dengan rasa takut mencekik ini.
Bagaimana tidak, mata tajam, senyuman mengerikan dan keberadaan yang mendominasi sedang menatap Rani seolah sedang menargetkan Rani untuk di buru.
“Glek!”
Rani menelan salivanya dan mencoba melangkah mundur.
“Ga … Gama,” suaranya pelan dan gemetaran sekali, dia ingin melarikan diri, entah kenapa dia igin melarikan diri sesaat setelah melihat mata mengerikan yang membuat ketakutannya semakin menggila.
“Sayang ….” Gama menyeringai melangkah mendekat searah dengan langkah Rani yang hendak menjauh.
“Srek!”
Gama mencengkeram pipi Rani dengan sangat kuat untuk menghentikan pergerakan Rani, membuat Rani terperanjat dan menahan nafasnya karena takut sekali.
__ADS_1
Lalu Gama melanjutkan ucapannya.
“Dengan mulut mu ini nama siapa tadi yang kau panggil? Hmmm?” suaranya menekan dan mengancam, seolah nyawa Rani sedang terancam karenanya.
“Tu … Tuan, tolong dengarkan aku, kau salah paham ….” Belum selesai Rani melanjutkan ucapan gemetaran dan terbata-batanya.
Gama sudah mengentikan Rani.
“Diam sialan! jawab aku! nama siapa tadi kau panggil? HA?” teriak Gama benar-benar marah sekali membuat Rani gemetaran lemas tak bisa lagi mengendalikan rasa takutnya yang berlebihan.
Rani menunduk dan menjawab saja, “Na … nama John Tuan” jawab Rani pelan sekali.
Saat Gama mendengar itu, Gama terdiam sejenak dimana matanya tetap mengerikan seperti seekor erlang yang sudah menetapkan mangsanya.
Mendengar ancaman yang membawa keluarganya semakin membuat Rani takut, dia menangis dan memohon kepada Gama.
“Tuan, maafkan aku, seseorang sepertinya sedang menjebak aku, aku mengira John akan bunuh diri dan hanya ingin menyelamatkannya saja, tolong jangan membawa keluargaku dalam hal ini, aku mohon,” Rani menangis dan memohon dengan sangat, agar Gama tidak melukai keluarganya, Rani tidak akan bisa hidup jika salah satu dari keluarganya dilukai.
“John! John! John! Lagi! kau berani menyebut namanya lagi!” Gama semakin menggila, dia semakin benci bagaimana istrinya ini menyebut nama itu lagi, nama yang membuat dia menderita sejak dulu dengan melihat kebahagiaannya.
__ADS_1
Rani yang melihat kemarahan yang belum pernah ia lihat itu terbelalak, bibirnya nya gemetaran dan dia tidak berani bergerak, dia menutup mulutnya dan tidak mau mengeluarkan sedikitpun suara tangisan.
Gama kemudian menunduk, membisik dengan mengerikannya, “Kau tidak mau keluargamu mati kan?” bisiknya pelan namun mengerikan.
Rani menggelengkan kepalanya, walau dia terdiam akan tetapi matanya tetap mengalikan air mata yang hebat.
“Kalau begitu kau saja ….”
“Ya Tuan?” seru Rani pelan.
“Aku bilang kau saja yang mati, aku tidak butuh wanita murahan tidak setia sepertimu, saat kau sudah memiliki suami kau tetap memikirkan lelaki lain, apakah saat aku menidurimu kau sedang membayangkan lelaki itu? menjijikkan!” geram Gama menyeringai dan mulai menarik tangan Rani menuju ujung dermaga.
Terlihat lautan dangkal yang sudah gelap karena malam, tetapi ketakutan Rani seolah hilang setelah penghinaan Gama.
Penghinaan bagaimana Gama menghinanya lagi dan lagi, mengatakan jika Rani murahan dan saat Gama menyetubuhinya Rani memikirkan John, padahal Rani tidak melakukan itu.
Rani melihat lautan yang gelap, walau dangkal dan mungkin hanya sebatas bahunya, tetapi rasa sakit hati Rani sudah tertoreh lagi.
Dia menangis sembari gemetaran, bukan karena takut tetapi karena merasa hidupnya tidak adil sampai harus bertemu lelaki seperti Gama.
__ADS_1
“Sayang, jika kau takut mati berteriak lah dan memohon kepadaku, maka aku akan menolong mu,” bisik Gama sampai akhirnya mendorong Rani sampai terjatuh kedalam air.
***