Terpaksa Menikahi Tuan Kejam

Terpaksa Menikahi Tuan Kejam
Sekretaris ku?


__ADS_3

Episode 68 : Sekretaris ku?


***


Di ruangan Pak Roni,


Saat melihat ekspresi Pak Roni, Rani segera duduk di persilahkan oleh Roni.


"Entah kenapa ucapan Pak Roni ini membuat ku iba, pasti dia lebih susah dariku, hmm! semangat Pak Roni!" seru Rani mendukung Pak Roni dalam hatinya.


Tetapi semuanya seketika runtuh saat Pak Roni mengatakan jika Gama memerintahkan agar Rani segera jadi sekretaris nya saja.


"A ... APA PAK?"


Rani sudah tidak bisa tidak sepanik ini lagi, "Ta ... Tapi kenapa Pak? tidak bisa kah aku menolak?" seru Rani mencoba menolak posisi sekretaris yang sangat tiba-tiba itu.


"Maaf Rani, kau tidak bisa menolak, jika kau menolak maka aku yang akan dihabisi oleh Pak Gama, kau tahu sendiri seberapa mengerikan jika dia marah dan tidak dituruti," Roni dengan wajah yang memelas mencoba memberikan pengertian kepada Rani.


Roni sadar betapa ini pasti sangat sulit dan susah bagi Rani, belum lagi nanti akan menerima teror dan kebencian dari para karyawan wanita yang berjuang ingin menjadi sekretaris Gama agar bisa berdekatan terus dengan lelaki super tampan itu, akan tetapi selalu gagal.


Pastinya mereka akan bingung mengapa karyawan yang berkutik dibagian pengolahan data bisa jadi sekretaris dengan mudah, pasti Rani telah melakukan sesuatu yang tidak mereka ketahui.


Dengan begitu Rani akan mendapatkan banyak kebencian dan akan menerima banyak gosip miring.


***


Mendengar jawaban dari Pak Roni membuat Rani terdiam sejenak, dia menyadari jika ucapan Pak Roni ini sangat benar, Gama tidak suka di tolak apalagi di bantah.


Rani tidak ingin menyusahkan orang lain karena dirinya, jika ia menolak pasti Roni yang akan terkena getahnya, jadi dia sudah tidak memiliki hak kebebasan untuk menolak jika dihadapan sang Gama yang memiliki jalan pikiran yang sangat berbeda dari orang kebanyakan.


"Baiklah Pak Roni, jika ini demi kebaikan bersama ...." bala Rani menunduk lesu.


"Maaf ya Rani, tetapi aku juga tidak bisa melakukan apapun," seru Roni memberikan sebuah dokumen untuk di tandatangani sebagai perpindahan jabatan mendadak nya.


"Iya Pak, tidak apa-apa, aku mengerti kok," balas Rani tersenyum tipis dan mencoba menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


***


Setelah selesai menandatangani berkas itu, Ranu hendak permisi keluar.


"Saya permisi dulu ya Pak, apakah meja saya di meja Ibu Lorry yang sekarang?" tanya Rani dengan polosnya.


Lorry adalah sekretaris Gama yang sekarang, dan ruangannya ada di luar ruangan Gama, dan Rani mengira jika meja kerjanya juga ada di tempat Bu Lorry Yang sekarang.


"Umm ..." Pak Roni gugup sejenak, dia bingung mau menjelaskan jika khusu untuk Rani maka ruangan Rani akan ada di dalam ruangan sang CEO.


"Kau ke ruangan Pak Gama saja dulu melapor ya Rani, nanti beliau yang akan menunjukkan meja mu dimana," balas Pak Roni tersenyum begitu kaku membuat Rani mengernyitkan dahinya yang sudah mencium ada sesuatu yang tidak beres dalam hal ini.


Tanpa menunggu lama, Rani keluar dari ruangan Pak Roni dan hendak ke ruangan Gama sekarang.


***


Di ruangan pribadi Gama,


Gama sudah memperhatikan jika istrinya sudah hendak melangkah ke ruangannya.


"Ah, ini terlalu berlebihan," ketusnya lagi mencoba dan mengganti gaya yang lain.


Dia ingin terlihat keren dan super misterius saat Rani memasuki ruangannya nanti.


Banyak sekali gaya yang ia coba, seperti mengangkat kaki keatas meja agar terlihat seperti Bos arogan, juga berdiri di dekat kaca yang menunjukkan pemandangan menakjubkan kota metropolitan sembari menyeruput kopi.


Tetapi akhirnya dia memilih duduk di kursi kebesaran nya menggunakan sebuah kaca mata dan berpose jika dia sedang bekerja sangat serius.


Dan tepat sekali Rani sudah mengetuk pintu ruangan pribadinya.


"Tok ... Tok ... Tok!"


"Ehem ... ehem!"


"Masuk!"

__ADS_1


Dengan sangat berwibawa dan sok cool, Gama mempersilahkan Rani memasuki ruangannya.


"Deg ... Deg ... Deg!"


Jantung Gama langsung berdegup kencang sekali saat Rani memasuki ruangannya, rambutnya yang di Cepol sederhana, baju kerjanya yang pas di badan, Gama tidak terlalu perhatian tadi pagi akan tetapi istrinya ini terlihat sangat seksi dan menakjubkan dalam busana kantor dan tampilan formal seperti ini.


Pikiran Gama sudah langsung melayang dan tentu saja hal nakal memenuhi sekitar 99,99 persen pikiran nya atas istri nya ini.


"Glek!"


Gama menelan salivanya saat melihat Rani memasuki ruangannya dengan tampilan yang menakjubkan itu, waktu seolah bejalan begitu lambat dan Rani terlihat semakin cantik dan cantik dalam pandangannya.


"Sialan! aku tidak rela membagikan kecantikan istriku ini dilihat oleh orang lain juga! kecantikan nya hanya boleh dilihat oleh ku! ahh! para cecunguk tadi, aku sungguh akan menghabisi kalian!"


Gama merasa sangat jengkel mengingat jika semua orang bisa melihat sisi cantik istrinya, kecemburuan yang tak berdasar memenuhi dirinya sekarang ini.


Gama lupa dengan Rencana awalnya yang ingin menjadi pusat perhatian dan terlihat cool di hadapan istrinya, karena sekarang malah dia lah yang terpesona dan terdiam melihat lenggak-lenggok istrinya saat melangkah kearahnya.


"Pak ...."


Rani mencoba memanggil atasannya ini, mungkin memang Gama adalah suaminya akan tetapi jika di kantor dia adalah atasannya, jadi Rani tetap harus formal.


"Kenapa dia melihat ku seperti itu sih? apakah ada sisa nasi di pinggiran bibirku?" Rani merasa kurang nyaman di tatap begitu dalam oleh Gama sekarang ini.


Gama yang mendengar panggilan Rani segera meletakkan pulpennya, dia berpangku tangan dan menatap intens kearah istrinya.


"Sial! aku tidak mau mengakui ini tetapi dia sangat amat tampan! apalagi saat mengenakan kaca mata dan tatapan juga senyuman tajam itu membuat aku hampir goyah!" geram Rani mencoba tetap tenang, ketampanan bukanlah segalanya, hanya itu yang ia tekankan dalam hatinya.


"Kemari lah, sekretaris ku!" goda Gama membuat darah Rani seolah mendidih hanya dengan ucapan itu semata.


"Ba ... Baik Pak," balas Rani mendekat, dan saat semakin dekat tangan Gama langsung menarik Rani sampai terjatuh di pangkuannya.


Dia memegang erat pinggangnya yang ramping dan membisik di tengkuknya yang terbuka, "Sayang, kau seksi sekali, kau membuat ku mendidih, bukankah itu menggairahkan? di rumah kau istriku, di kantor kau sekretaris ku, sungguh wanita yang sangat nakal," bisik Gama menyeringai dan memberikan kecupan super nakal di tengkuknya sekarang ini.


***

__ADS_1


__ADS_2