Terpaksa Menikahi Tuan Kejam

Terpaksa Menikahi Tuan Kejam
Pagi hari yang indah.


__ADS_3

Episode 125 : Pagi hari yang indah.


***


Wajah gemas Gama dan caranya ngambek benar-benar membuat hiburan yang sangat menyenangkan bagi Rani.


Gama merasa anaknya sendiri akan menjadi saingan terberat nya, dan dia mulai berpikir bagaimana caranya saat anaknya lahir nanti, perhatian istrinya tetap akan tertuju kepadanya.


"Pfft, kenapa suamiku lucu sekali sih?" Rani tersenyum tersipu, dia memakaikan kembali pakaiannya yang sudah terhempas.


Lalu ia datang mendekat kearah Gama yang masih kesal karena dia tidak bisa melakukan hal kesukaan nya, karena memang benar kata Rani, jika melakukan nya terlalu sering akan mengganggu kesehatan sang bayi dan istrinya.


Cobaan terberat bagi Gama adalah tidak bisa bermesraan dan melakukan hubungan panas dengan istrinya.


Rani mengusap rambut suaminya, lalu memeluknya pagi itu, seperti sedang membujuk anak-anak.


"Sayang, tahanlah sebentar lagi, bukankah memiliki anak adalah permintaan mu dan rencana mu bersama ibuku?" Rani berbicara lembut, mencoba memberikan pengertian kepada suaminya.


"Deg ... Deg ... Deg!"


Sungguh, Gama memang sangat lemah jika istrinya sudah berbicara lembut apalagi mengusap rambutnya dan memeluknya.


Seperti harimau yang sudah dijinakkan seperti kucing lucu, seperti itulah Gama sekarang ini, namun dia tidak ingin terlalu menunjukkan kebahagiaan nya yang dibujuk sang istri.

__ADS_1


"Ehem ...." Gama sedikit berdehem untuk mengurangi kegugupan nya, walah wajahnya sebenarnya tak bisa berbohong, sekarang wajahnya sudah memerah.


Dia memutar tubuhnya agar menghadap kearah istrinya, sambil dipeluk istri dia menengadahkan kepalanya keatas agar bisa melihat Rani.


"Berjanjilah padaku, bahkan saat dia lahir nanti kau hanya boleh lebih perhatian kepadaku, jangan kepadanya," ketus Gama benar-benar membuat Rani geleng-geleng kepala.


Ternyata yang membuat Gama kesal dan risau adalah bagaimana jika nanti setelah anak mereka lahir, perhatian Rani hanya akan tertuju kepada anak mereka saja.


"Kenapa kau membuat anak kita menjadi seperti musuh mu? dia kan anakmu juga, kita memang harus memperhatikan nya," balas Rani tidak mengerti jalan pikiran suaminya ini.


"Walaupun dia anakku, aku tetap tidak rela jika perhatian mu hanya akan tertuju kepadanya, setelah aku pikirkan, ternyata dia akan menjadi saingan terberat ku! jadi kau harus berjanji dari sekarang, kau harus lebih perhatian kepadaku!"


Gama tetap tidak mau menyerah, dia harus mendapatkan janji itu, dia ingin istrinya ini tetap setia kepadanya.


Sungguh aneh memang, akan tetapi Gama benar-benar sudah menganggap anaknya yang bahkan belum jadi apa-apa menjadi saingan terberatnya.


Rani menghela nafasnya dalam-dalam.


"Iya ... iya ... iya, aku akan lebih perhatian kepadamu," Rani sudah menyerah atas keanehan suaminya.


Akan tetapi dia senang, setelah ia melihat betapa menderitanya suaminya tadi malam, akhirnya Rani mengerti betapa lelaki ini begitu haus akan cinta dan perhatian.


Setelah mendapatkan janji itu, Gama langsung tersenyum puas, dia kembali memeluk istrinya dan memejamkan matanya, menikmati waktu berdua seperti ini sangat menyenangkan baginya.

__ADS_1


"Tok ... Tok ... Tok!"


Suara ketukan pintu mengejutkan keduanya, dua orang ini sungguh bisa melupakan segalanya jika sedang berduaan.


"Tuan, Pak Roni sudah menunggu dibawah," Bi Mendi berseru dari luar pintu.


"Baik Bi, katakan padanya untuk menunggu sebentar," seru Gama pada Bi Mendi.


Yang tadinya Gama hampir kesal karena waktu berduaan yang romantis ini terganggu jadi mengingat rencananya.


Dia melepaskan pelukannya sebentar lalu tersenyum kearah istrinya.


"Sayang, tunggu aku malam ini ya, aku ingin kau berdandan untuk ku, aku ingin memberikan kejutan untuk mu," seru Gama dengan pipinya yang memerah itu.


Rani menganggukkan kepalanya, dia sebenarnya tidak menginginkan hal yang berlebihan, akan tetapi dia juga tidak akan menolak kejutan, apalagi dari suaminya.


***


Setelah pagi itu, tidak ada hati yang berat di hati Gama lagi, dia akan benar-benar bebas dari dendam dan kepahitan hidupnya.


Sudah cukup ia menderita dengan kenangan buruk dan masa lalunya yang memang tak indah.


Dia langsung bersiap-siap, dimana Rani juga segera menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya.

__ADS_1


Gama suka dengan makanan yang dimasak istrinya, dia bahkan ketagihan, jadi Rani sebisa mungkin akan tetap memasak untuk suaminya selama ia mampu.


***.


__ADS_2