Terpaksa Menikahi Tuan Kejam

Terpaksa Menikahi Tuan Kejam
Hukuman mu nanti saja.


__ADS_3

Episode 55 : Hukuman mu nanti saja.


Di kediaman Gama,


***


Gama berdiri dengan tegak di dekat kasur dimana Rani sedang berbaring, matanya melihat dengan lekat wajah Rani yang masih pucat.


“Aku marah! aku marah karena tidak bisa marah saat ini! aku marah karena kau membuat ku semakin gila! Kau wanita yang merepotkan! Tadi kenapa kau hanya diam saja? Tidak memohon padaku? Dasar bodoh! Setinggi apa harga dirimu itu? Keras kepala, aku akan memberikan mu hukuman saat kau bangun nanti!” geram Gama merasa frustasi saat tidak bisa menyalurkan kekesalan dalam dirinya.


Tidak mungkin dia menghancurkan rumah nya, juga saat ini Rani sedang beristirahat, dia juga tidak mau mengganggu Rani.


Dan baru kali ini, dia memperdulikan orang lain, hanya karena Rani dia bisa menahan emosi yang seorang pun tidak bisa cegah.


Biasanya jika Gama sedang kesal, dia pasti menyalurkan emosi itu dengan berbagai cara, termasuk bermain perempuan, menghancurkan perusahaan orang lain dan memberikan pelajaran bagi orang-orang yang berani menyinggung nya.


Namun, kali ini berbeda, seolah Rani yang hanya orang luar, bisa dengan mudah mengendalikan nya dan itu membuat Gama kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


Tetapi diatas segala hal yang ia pikirkan itu, jauh di lubuk hatinya yang terdalam ia bersyukur, bahwa Rani baik-baik saja.


Gama yang masih dalam keadaan basah kuyup, beranjak hendak mandi dan ikut beristirahat.


***


Keesokan paginya,


***


Rani bangun dari tidur panjangnya, saat ia lihat langit-langit kamar, dia merasa kebingungan.


Saat sudah menyadari jika benar saat ini ia sedang berada di kamar suaminya, Rani langsung manampilkan raut wajah kecewa, dia sudah berharap jika saat bangun nanti dia akan terbangun di surga, tetapi malah dia terbangun di neraka saat ini.


“Huh!” Rani menghela nafas dengan berat, dan berguling-guling bak cacing kepanasan di kasur itu. Dia kesal dan sedang memikirkan rencana bagaimana membalas si arogan yang menjadi suaminya itu.


Diraihnya bantal yang selama ini menjadi pelampiasan amarahnya, dan di remasnya dengan kuat bantal yang tidak berdosa itu.

__ADS_1


“Kau! Kau! Brengsek! Kau biadab! Berani nya kau menenggelamkan aku di laut! Jika aku beneran mati bagaimana? Huhu, tadi malam aku memang berani, tetapi saat membayangkan nya saat ini aku jadi takut, kau jahat! Kau sama sekali tidak bisa lembut padaku,” teriak Rani menangis sembari memukul-mukul bantal yang ia remas dengan kuat itu.


Ya, Rani memang mengingat jika tadi malam dia bisa begitu berani tidak meminta tolong dan berusaha berdiri di air itu tadi malam.


“Sayang, apakah setiap hari kau memaki ku seperti itu?” sahut Gama yang memang sedari tadi masih di ruangan itu, dia sudah duduk di kursi sofa dekat kasur miliknya.


“Matilah, habislah sudah! Baru juga tadi malam aku selamat, masa harus mengalami kematian berulang lagi?” gumam Rani menangisi penderitaan nya, dia yakin Gama pasti menghabisinya, sekarang Rani sudah tahu, jika Gama adalah seseorang yang sangat menyeramkan.


“Sayang, apakah tubuhmu masih sakit? Kau harus meminum susu hangat dan vitamin ini,” sahut Gama dengan nada suara yang lembut dan sudah membawakan susu hangat dan vitamin yang sudah ia letakkan sedari tadi di atas meja.


“Apa? Apakah aku bermimpi? Secepat itukah si monster ini berubah? Apakah ini jenis penyiksaan batin yang baru? Apa ini? Aku bingung!” Rani masih tidak berani menoleh kearah Gama yang sudah berada di dekatnya.


Dia hanya bisa menelan dengan kasar saliva nya, dia masih merasa jika saat ini Gama masih marah dan akan menghabisi nya.


“Sayang, aku belum memaafkan mu atas ketidak setiaan hatimu, hukuman mu nanti saja tapi aku tidak akan marah atas penghinaan mu barusan! Sini, minumlah susunya, aku akan menyuapi mu,” sahut Gama lagi dengan penuh kelembutan yang memberikan hawa dingin pada Rani.


“Emm, a ... aku bisa sendiri!” ketus Rani meraih gelas dan vitamin yang sudah Gama bawakan untuknya.

__ADS_1


***


__ADS_2