Terpaksa Menikahi Tuan Kejam

Terpaksa Menikahi Tuan Kejam
Berkunjung ke rumah orangtua istri.


__ADS_3

***


Episode 77 : Berkunjung ke rumah orangtua istri.


Satu minggu telah berlalu sejak malam menggairahkan itu, wajah muram Gama semakin terlihat, mulai hari esok Rani akan sering berkunjung ke perusahaan Ardhan untuk menjadi perwakilan perusahaan nya dalam proyek besar mereka.


Sedangkan Rani, dia malah terlihat biasa bersemangat, Rani merasa keberuntungan akhirnya datang kepadanya setelah beberapa tahun, dia akhirnya bisa berkembang dan akan menjadi semakin pintar dengan adanya proyek baru ini.


Jadi selama beberapa hari belakangan dia belajar keras untuk mencari tahu apa yang ia butuhkan sebagai seorang perwakilan, dia ingin melakukan semuanya dalam performa terbaik tentunya.


***


Di perusahaan Gama,


Gama baru saja selesai membuat program baru di komputer canggih nya, dia meregangkan tangannya dan melihat Rani yang memang sudah diatur mejanya ada di dekatnya.


Gama berpangku tangan menatap istrinya yang serius melakukan pekerjaan barunya menjadi sekretaris suaminya sendiri.


Rambutnya yang dicepol sederhana, dan keseriusan wajahnya.


"Ck, dia cantik sekali, kenapa sebelumnya aku tidak bertemu dia sih!" ketus Gama merasa jika dia kurang cepat bertemu dengan istrinya.


"Sayang ...."


Masih berpangku tangan Gama memanggil Rani.


Rani langsung was was, memeriksa kearah pintu apakah ada orang atau tidak, saat memastikan tidak ada orang, dia langsung melihat kearah Gama.


"Pak, kau sudah sepakat tidak akan memanggil sayang di kantor, di kantor kita adalah atasan dan karyawan, bagaimana jika orang lain tahu? aku tidak ingin dimusuhi semua wanita di kantor ini!" Rani sedikit kesal, dia bahkan mengorbankan tubuhnya dihabisi oleh Gama beberapa hari lalu agar Gama setuju tidak memanggil nya sayang di kantor.


"Ck! cerewet! kemari lah!" ketus Gama yang masih berpangku tangan itu.


"Ya ya ya Yang mulai arogan tak bisa tentang!" ketus Rani pelan sembari meletakkan berkas Yang sedang ia periksa.


Dan hanya beberapa langkah dia sudah sampai di hadapan suaminya.


"Aku lelah, pinjamkan aku kepalamu!" seru Gama memang terlihat lelah hari ini karena harus menciptakan beberapa program untuk proyek baru mereka.


"Maksudnya Pak?" seru Rani tidak mengerti, jika Gama lelah kenapa harus meminjam kepala?


"Maksudnya begini!" Gama langsung menarik tangan Rani dan jatuh ke pangkuannya.

__ADS_1


Lalu Gama memeluk Rani dari belakang, karena tinggi tubuh mereka berbeda, Gama bisa menyadarkan dagunya di atas kepala Rani.


Akhirnya Rani mengerti apa yang dimaksud dengan meminjamkan kepala.


"Pak," beberapa menit setelahnya, Rani mencoba mengajak Gama berbicara.


Rani harus ijin pergi ke rumah orangtuanya malam ini, agar makan malam bersama karena Gina akan segera ke luar negeri beberapa minggu lagi.


"Jangan panggil Bapak, disini tidak ada orang!" ketus Gama masih memejamkan matanya dan bersandar nyaman diatas kepala Rani.


"Emm, Ga ... Gama, malam ini aku ke rumah orang tua ku ya, kau tahu kan adikku? Gina akan ke luar negeri dua Minggu lagi, jadi malam ini ada makan malam jadi aku ingin ikut,"


Dengan lembut dan hati-hati Rani meminta ijin, karena ia tahu meminta ijin dari suaminya pasti sangat sulit.


"Hmmm!"


Gama membuka matanya, dan dia sekarang bersandar di kursi kebesarannya.


"Akan aku setujui ...." belum selesai Gama melanjutkan ucapannya, Rani sudah kegirangan terlebih dahulu.


"Apa? semudah itu? benarkah?" seru Tanu langsung menghadap kan wajahnya melihat Gama.


Tetapi saat melihat wajah Gama, Gama sedang menyeringai nakal.


"Iya, aku setuju jika kau memanggilku suamiku, juga memijat pundak ku, dan setelah itu memeluk aku sambil mengusap rambut ku!"


Sungguh syarat bercabang yang membuat Rani menyadari jika suaminya ini memang tidak akan memberikan ijin semudah itu.


"Baiklah ... baiklah, suamiku aku akan mengurut mu sekarang," balas Rani semudah itu memanggil Gama dengan sebutan suami.


Rani bangkit dengan santai, hendak mengurut pundak suaminya, Rani tidak sadar jika sekarang wajah suaminya ini sudah memerah dan jantung nya berdegup semakin cepat.


"Deg ... Deg ... Deg!"


"Dia sungguh memanggil aku suamiku, kenapa rasanya sangat nyaman dan mendebarkan? aku suka sekali saat dia memanggil aku suamiku!" gumam Gama yang masih membelalak dan jantung nya berpacu terlalu cepat.


Gama mengusap dadanya yang berdebar-debar tak karuan sedangkan Rani mengurut pundak suaminya.


Lalu setelah itu memeluk suaminya sembari mengusap rambutnya lembut.


Sekarang ini Gama melihat dunia dalam warna merah muda indah, banyak bentuk hati dimana-mana, dia bersandar di dada istrinya dan memejamkan matanya saat jemari mungil istrinya mengusap rambutnya lembut.

__ADS_1


Gama merasa sangat disayang dan dimanja, dan dia senang dengan perasaan seperti ini.


Beberapa saat kemudian ....


Pengorbanan Rani yang kelelahan dengan sikap manja suaminya akhirnya terbayarkan, dia bisa ke rumah orangtuanya dan makan banyak makanan di rumahnya.


Sekarang ini dia sudah berada di dalam mobil bersama dengan Gama, Gama mengantarkan Rani ke kediaman orangtuanya.


Tetapi saat sudah sampai, Rani keluar dari mobil diikuti oleh Gama.


"Loh, kenapa kau ikut?" tanya Rani pada suaminya yang dengan bangganya turun dari mobil.


"Sayang, aku mengijinkan mu karena aku juga ikut ke rumah mu, ha ha ha," Gama tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan.


Jadi sebenarnya Gama sudah tahu jika malam ini ada makan malam di rumah mertuanya, karena mertuanya juga mengundang nya, jadi usaha Rani tadi di kantor hanyalah kejahilan Gama semata.


Rani yang merasa tertipu itu tidak menyangka jika suaminya benar-benar telah menipunya dan memanfaatkan tenaga nya yang terkuras karena mengurutnya tadi di kantor.


"Lelaki ini, dia mengambil kesempatan dalam kesempitan!" geram Rani melihat jika ibunya sudah menyambut menantu kesayangan nya di depan rumah.


"Nak Gama, kau tampan sekali, kemari lah masuk, kita makan," seru Ibu Rani tersenyum bahagia sekali melihat Gama yang sangat sibuk itu menyempatkan waktu datang ke rumahnya untuk makan malam.


Gama tersenyum ramah seperti biasanya, "Baik Ibu," balas Gama bahagia disambut hangat oleh keluarga istrinya.


"Cih, siapa yang lebih kau sayang Bu? aku atau Gama?" Rani yang sama sekali terlupakan membuat Rani kesal, dan bertanya pada Ibunya sambil berjalan.


"Ck, anak ini, masih saja berteriak, duduk di meja dan makan!" ketus Ibunya seperti ibu pada umumnya pada bersikap laga putri tertuanya yang sudah menikah.


"Haha, Kak sepertinya posisi mu sudah digantikan," bisik Gina sudah menghampiri kakaknya.


Disana semua keluarga Rani lengkap, bahkan ayahnya yang baru keluar dari rumah sakit duduk dengan sopan di kursi rodanya.


***


Novel ini akan update setiap hari yaa, jadi mohon di tunggu, berikan komentar membangunnya biar aku makin bagus dalam menulis.


Btw aku tahu banyak kekurangan dalam novel ini, jika kalian menemukan ada salah ketik, tinggalkan komentar saja ya, biar ;langsung aku perbaiki hehe.


Makasih ya semuanya, lope you.


***

__ADS_1


Jangan lupa follow ig author : @nitanaiibaho


Kalian bisa DM dan tanya2 disana


__ADS_2