
Episode 67 : Gama Yu cemburu buta.
***
Di kantor Gama Yu,
Seperti biasa Rani akan melakukan pekerjaan nya dengan baik, pagi ini atasan langsung Rani datang menjumpai Rani dan meminta maaf karena merasa oleh karena dirinya lah Rani sampai harus kembali bekerja lagi.
"Maafkan saya ya Rani, Pak Gama tidak ingin kau keluar dari perusahaan, kelihatannya kinerja mu sangat bagus makanya dia meminta aku untuk menarik mu kembali," Atasan nya itu sedang memanggil Rani ke ruangan pribadi nya secara khusus untuk meminta maaf kepada Rani.
"Tidak apa Pak, saya mengerti, saya juga memiliki alasan tersendiri sampai kembali ke bekerja ke perusahaan ini,"
Ucapan Rani menenangkan atasannya itu.
"Heh, Pak Pak, ini bukan salah mu, kita semua hanya tidak bisa menentang lelaki mengerikan itu, jadi aku tidak marah pada mu Pak," gumaman hati seorang istri yang tidak bisa menentang suaminya ini.
***
Setelah beberapa saat keluar dari ruangan atasannya,
"Rani, tolong kerjakan berkas ini yaa, kita sedang banyak deadline nih," ucap salah seorang rekan kerja lelaki satu divisi Rani.
"Oh iya, akan segera saya kerjakan," balas Rani menerima berkas itu dan hendak mengerjakan tugas-tugas urgent tersebut.
Seperti dalam dunia kerja biasanya, tentunya pekerja wanita dan pria saling membantu dan kadang tak sengaja bersentuhan tangan atau bahu, itu hal yang sangat biasa.
Tetapi di ruangan Gama, dia memperhatikan cctv dimana Rani sedang bekerja dengan giat.
Matanya berapi-api dan dia mencengkeram tangannya kuat sekali.
"Lelaki Bajingan itu tadi sengaja menyentuh tangan istriku saat memberikan berkas!"
"Lelaki dari bagaian pemasaran itu sengaja menyenggol bahu istriku!"
"Dan lelaki yang duduk satu batch sama istriku juga cari-cari perhatian padanya saat bekerja"
"HABISLAH KALIAN PARA CECUNGUK!" geram Gama sudah tidak tahan.
Jika Rani memang ingin bekerja maka Rani hanya boleh bekerja dalam pengawasan nya saja, maka solusinya hanya satu yaitu ....
"Tring ... Tring ... Tring!"
"Halo Pak?"
Gama sedang menghubungi assiten nya, Roni untuk segera mengatur posisi Rani agar tidak berdekatan dengan lelaki lain.
__ADS_1
"Roni, atur posisi sekretaris ku saat ini juga menjadi Rani, aku ingin dia jadi sekretaris ku dan mejanya letakkan di ruangan ku!"
Ketus Gama tidak mau tahu, yang jelas sekarang dia harus melihat istrinya berada di ruangannya sepanjang waktu.
"Tapi Pak, sekretaris anda yang sekarang ...." balas Roni tetapi sebelum Roni menyelesaikan ucapannya, Gama langsung menimpali.
"Kau pikir aku peduli, cepat lakukan! jangan sampai aku yang melakukan nya sendiri!"
Ucapan Gama ini membuat Roni geleng-geleng kepala, dia hanya bisa menyanggupi perintah sang bos.
"Baik Pak, akan segera saya laksanakan," balas Roni segera menghubungi bagian HRD agar segera mengurus apa yang diinginkan oleh sang bos.
***
Disaat yang sama,
Meeting antara Ardhan Reiner dan Gama Yu akan dilaksanakan pada pukul 2 siang, Ardhan sedang memilihkan pakai terbaik yang akan menonjolkan ketampanan nya ke level maksimal.
Mungkin Ardhan benar-benar tidak sabar ingin bertemu dengan Rani lagi.
Padahal jelas-jelas Rani sudah menikah, Tetapi Ardha menghibur dirinya sendiri dengan cara mengatakan jika tidak apa mengenakan pakaian terbaik sekali-sekali.
Ketertarikan dirinya kepada Rani sungguh berada di taraf yang tidak bisa ia jelaskan sama sekali, dia bahkan tidak bisa melepaskan Rani dari pikirannya sedikit pun.
***
Di perusahaan John Yu,
"Aku tidak mau tahu, perusahaan Gama harus segera ditekan dengan cara apapun! jangan biarkan dia tertawa dan merasa sangat hebat!"
"John, kau harus menunjukkan kepada Ayah jika kau pantas menjadi anak Ayah!"
"Dan kalian semua, jika kalian tidak bisa mendorong kinerja dan penjualan kita ke titik maksimal maka kalian akan menerima akibatnya! mengerti!"
Deffan dengan sikapnya yang diktator dan mengerikan, keberadaan nya saja sudah memberikan tekanan yang membuat orang takut, jika dibandingkan Deffan dan Gama benar-benar mirip satu sama lain, karena itulah keduanya tidak pernah bisa menyatu.
Tidak ada yang bisa memaafkan dan mengalah.
"Baik Pak!" balas John Yu sama sekali tidak ingin berdebat dengan ayahnya lagi, kekecewaan nya belum habis bagaimana ayahnya sangat egois menjodohkan dirinya dengan Christy.
***
Di kantor Gama Yu,
"Rani, kau dipanggil sama Pak Roni tuh," salah satu karyawan mengatakan kepada Rani jika Pak Roni assiten paling di takuti di perusahaan itulah, alias kaki tangan Gama Yu memanggil Rani.
__ADS_1
Hal itu membuat semua karyawan wanita langsung menoleh kearah Rani dengan tatapan yang sinis dan tajam.
"Aduh, ini kenapa lagi sih? tidak bisakah aku hidup dan bekerja dengan tenang! para gadis ini juga cari lah lelaki yang benar jangan yang seperti Gama iblis itu!"
Rani tersenyum kaku dan mencoba terlihat sopan dan formal, untuk menutupi kegugupannya, dia tahu pasti Gama melakukan sesuatu lagi terhadap nya.
Saat Rani sudah berlalu ke ruangan sang assisten pribadi, Pak Roni.
***
"Eh eh, tidak lah kalian mengira itu terlalu tiba-tiba? kenapa Rani bisa dipanggil ke ruangan assisten Pak Gama?"
"Iya, bukannya dia katanya resign yang satu minggu lalu, kenapa bisa bekerja lagi disini?"
"Mencurigakan!"
"Tapi dengar dengar dia tidak resign loh, katanya dia dipecat tetapi karena keluarga nya miskin dan butuh uang dia meniduri atasan di perusahaan kita demi bisa kembali bekerja disini,"
"Menjijikkan! ternyata wanita sok polos seperti nya sama saja, sama sama jal*ng!"
Gosip mulai beredar mengenai mengapa Rani bisa tetap bekerja di perusahaan itu padahal sudah resmi resign satu minggu lalu.
Nama Rani langsung tersebar seantero perusahaan, dan mereka mengaitkan dengan perginya atasan mereka ke luar negeri selama satu Minggu, sungguh waktu yang sangat sinkron jadi mereka berpikir pasti Rani sudah menggoda atasan mereka.
***
Disaat yang sama,
"Tok ... Tok ... Tok!"
Rani mengetuk pintu ruangan Pak Roni.
"Masuk ...."
suara Pak Roni yang kelihatan sangat sibuk itu mengijinkan Rani masuk.
"Nyonya Rani ...."
Pak Roni segera berdiri dan memberikan hormat, begitu sopan sampai membuat Rani tidak enak hati.
"Jangan panggil saya Nyonya Pak, di kantor tolong bersikap biasa saja sama saya, mau bagaimana pun Bapak atasan saya disini," Rani menjelaskan dengan sangat halus dan sopan.
Walau dia memang istri sang pemilik perusahaan tetapi Rani sama sekali tidak terbiasa diberikan hormat seperti itu, Rani bukan seorang wanita gila hormat atau kekayaan.
"Emm ... baiklah kalau begitu Rani, tapi rahasiakan ini dari Pak Gama ya, bisa-bisa dia membunuhku jika tahu aku tidak hormat padamu di kantor," balas Roni tersenyum kaku, menggambarkan betapa pelik juga hidupnya menjadi tangan kanan sang Gama Yu.
__ADS_1