
Warning : Dibawah ini akan ada adegan dewasa, jika tidak suka adegan dewasa tinggal skip aja ya dan tolong jangan bilang kenapa banyak adegan dewasa nya, adegan dewasa ini perlu dibuat untuk menunjukkan keintiman mereka.
Khusus yang umurnya belum dewasa tolong dilewatkan episode ini juga.
Terimakasih
Author Joy
***
Episode 75 : Sayang, kenapa harus malu?
***
Di kediaman Gama Yu,
Gama yang berada diatas tubuh istrinya yang kebingungan dengan keanehan sikap suaminya seharian sedang saling menatap satu sama lain.
"Kenapa suasana menjadi diam dan panas seperti ini ya? kenapa ini?" Rani berteriak dalam hatinya.
Gama yang ada tepat diatasnya, wajahnya yang dekat sekali, bahkan nafas hangatnya bisa menyentuh bibirnya.
Dan lagi ada satu hal yang mengganggu Rani, yaitu wajah lelaki ini semakin dilihat malah semakin tampan, membuat seseorang seperti dirinya tidak bisa kecuali mengagumi.
"Tidak bisa! tidak bisa! ada apa dengan jantung ku sejak kemarin? apakah aku sakit? aneh sekali, aku mudah kepanasan dan pipiku pasti sudah sangat merah sekarang!"
Rani tidak boleh membiarkan keadaan diam nan mendebarkan ini lebih lama berlangsung.
"Ga ... Gama, kita tidur saja ya, ini sudah larut besok kita harus ke kantor ...."
"Kita tidur nanti saja, aku lagi menginginkan mu malam ini," ketus Gama yang masih kesal saja dengan bayangan yang ia ciptakan sendiri di kepalanya.
Bayangan yang ada di pikiran Gama :
"Rani, apakah kau mau makan siang denganku?"
__ADS_1
Ardhan bertanya pada Rani yang kebetulan sedang berkunjung ke perusahaan Ardhan untuk makan siang bersama.
"Mau Ardhan," balas Rani tersenyum lembut seperti senyuman yang membuat Gama berdebar debar.
Dan bayangan kecemburuan yang sebenarnya belum terjadi berlanjut sampai saat mereka makan bersama dan tersenyum bersama bahkan Ardhan berani menyentuh tangan istrinya secara tidak sengaja.
***
Kembali ke dunia nyata :
Oleh karena bayangan yang tercipta di kepalanya sendiri, Gama malah kesal dan tidak terima, dia mengusap rambut istrinya yang tepat ada di bawah tubuhnya lalu dengan ganas dan menuntut dia mencium bibir istrinya.
"Ummm ...."
Rani yang terkejut tentu saja mencoba mendorong tetapi tenaga suaminya lebih kuat jadi dia tidak bisa bergerak sama sekali.
Ciuman panas dimana Gama melakukan nya dengan sangat antusias, mulai turun ke leher, disana dia meninggalkan banyak jejak merah, dia menggigit pelan dan membuat Rani tidak bisa menahan suara aneh keluar dari mulutnya.
"Uhm ... Ga ... Gama, tunggu dulu, jika kau melakukan nya malam ini, pinggang ku bisa encok besok," keluh Rani mencoba menarik wajah Gama agar berhenti bermain di leher nya.
Gama duduk dan memberikan ciuman yang lebih buas dari sebelumnya.
Tindakannya ini seolah ingin mengkonfirmasi pada dirinya sendiri jika wanita ini adalah miliknya dan hanya boleh menjadi miliknya.
Disaat ciuman panas itu tengah berlangsung, jemari nakal Gama sudah mulai melucuti semua pakaian yang dikenakan oleh Rani malam ini.
Rani yang sudah mengerti jika dia tidak akan bisa menolak hanya menerima saja, bagaimana pun lelaki ini adalah suaminya sendiri.
Yang dikhawatirkan oleh Rani hanyalah satu, bagaimana caranya menghentikan lelaki ini setelah selesai sekali permainan karena pastinya pinggang nya akan remuk jika Gama tidak dihentikan.
Setelah semua pakaian nya terlepas, Rani benar-benar terlihat polos tak menggunakan apapun, Gama menikmati pemandangan indah yang tepat ada di hadapan matanya saat ini.
Gama memiringkan wajahnya, matanya seperti memerhatikan sesuatu, "Sayang, tidakkah kau rasa ukuran mereka semakin besar? apakah tanganku dan esapan ku membuat mereka semakin besar setiap hari?" bisik Gama menyeringai nakal.
Rani yang belum nyambung mengikuti tatapan mata suaminya, "Mereka siapa? ada siapa lagi orang di ruangan ini kecuali kami?" dan ....
__ADS_1
Rani menegang dan malu sekali saat mengetahui jika yang di bicarakan oleh suaminya adalah buah dadanya.
"Ck, kenapa mengatakan hal itu sih? aku kan malu?" ketus Rani langsung menjatuhkan diri ke ranjang dan menutupi tubuh nya dengan kedua tangan kecilnya.
Gama yang melihat istrinya malu semakin membara tentunya, dia kemudian membuka bajunya juga, menatap Rani yang memunggungi nya dengan tatapan buas nan nakal.
"Sayang, kenapa harus malu? aku sudah melihat nya, semua bagian tubuhmu sudah aku lihat dan aku suka semuanya," bisik Gama sudah membaringkan tubuhnya di sisi Rani dan membisik di telinga nya.
Gama memulai aksinya lagi, menyesap daun telinga Rani dan membuat Rani otomatis memejamkan matanya, saat itu tangan Gama menyingkirkan tangan Rani yang menutupi buah dadanya, dan ia segera menggenggam kedua gundukan yang sangat ia suka mainkan setiap malam.
"Sayang, belajar lah mencintai ku, mulai hari ini kau hanya harus bergantung dan melihat aku saja, apapun yang terjadi jangan berkhianat dariku, karena aku sangat menginginkan mu," ucapan dengan nada yang rendah, nafas yang panas terdengar begitu menggairahkan di telinga Rani.
Rani memang belum terbiasa melakukan adegan ranjang, dia masih terlalu malu walaupun Gama adalah suaminya, akan tetapi lelaki ini sangat menggoda, setiap jemarinya menyentuh Rani maka Rani akan merasa tersentak seolah terkena sengatan listrik.
Setiap jamahan dan sentuhan, tekanan dan esapan, semuanya terasa lembut dan panas, membuat Rani pusing dan lupa diri tentunya.
Berbeda dari malam sebelumnya, malam ini Gama bermain sangat lembut namun juga menggairahkan, secara sembunyi-sembunyi meninggalkan jejak di setiap sudut tubuh Rani.
Tangan hangatnya menyusuri semua bagian tubuh istrinya, matanya melayang dengan tajam memperhatikan ekspresi istrinya yang kelihatan tanpa sadar menikmati apa yang ia lakukan terhadap tubuhnya.
"Sayang, kau sudah tidak tahan lagi ya? sama aku juga sudah sangat ingin menyatukan tubuh kita!"
Ucapan nakal dan bergairah itu diikuti oleh hentakan batang keras kedalam tubuh Rani, membuat mata Rani melebar saat menerima sesuatu yang keras dalam tubuhnya.
"Sshhh ..." Gama menghentikan gerakannya dulu, lalu memeluk Rani dengan lembut, menenggelamkan tubuh mungil istrinya dalam tubu bidangnya.
"Tenang saja, santai dan ikuti permainan ini, jangan terlalu tegang agar tidak sakit!" bisik Gama memejamkan matanya dan menggigit bawah bibirnya karena merasa sangat nikmat sekarang ini.
Dia menundukkan wajahnya sekarang, melahap bibir merah istrinya yang sejak tadi mengeluarkan keluhan yang tidak sadar ia keluarkan.
Setelah merasa istrinya sudah bisa menerima batang nya yang memasuki tubuh istrinya itu, saat itulah Gama mulai bergerak dengan lembut sekali.
"Ahhh ... Gama," Rani belum pernah merasakan sensasi seperti ini, Gama sudah pernah melakukan hal itu kepadanya tetapi kali ini berbeda sekali.
Apakah itu ada hubungannya dengan jantungnya yang berdegup kencang sejak pagi? Rani pun tidak mengerti.
__ADS_1
***