Terpaksa Menikahi Tuan Kejam

Terpaksa Menikahi Tuan Kejam
Marian belum menyesal!


__ADS_3

Episode 121 : Marian belum menyesal!


***


Hanya dalam beberapa saat Gama dan Rani akhirnya sampai di kediaman mereka, Rani masih tertidur pulas jadi Gama begitu hati-hati saat menggendong istrinya itu.


"Ron, pastikan ayahku tidak bisa melakukan apapun untuk mengeluarkan Marian dari penjara, esok akan ada kejutan yang lebih meriah,"


"Tanpa melakukan rencana yang matang, sepertinya memang sudah waktunya mereka menuai kejahatan mereka!" ketus Gama menyeringai.


Mungkin ini adalah jawaban dari harapan ibunya yang menginginkan hukuman agar menimpa Marian dan ayahnya.


Tanpa harus melakukan apapun, sudah ada jalan yang benar-benar disediakan kepada Gama untuk bisa melakukan pembalasan akhirnya.


Setelah pembalasan akhir ini, dia akan menjalani hidup yang benar-benar baru, benar-benar merasakan kehidupan tanpa dendam dan ambisi yang membuat nya lelah selama hidup ini.


Roni yang mendengar ucapan atasannya ini segera menyanggupi tentunya.


"Baik Pak, akan saya laksanakan," serunya lalu setelah itu Gama pergi bersama istrinya yang masih terlelap itu.


***


Kedamaian dan cara Gama berbicara dan bersikap benar-benar berbeda dari yang saat lalu ia dengar dari telepon, yang dimana Gama meminta Roni untuk mencarikan orang bernama Merry.


Sekarang Gama terlihat tenang dan damai, tanpa kemarahan yang mengerikan seperti tadi pagi.


Roni tersenyum melihat itu, sepertinya memang waktu bahagia bagi Gama akhirnya akan datang.


Mungkin penderitaan nya selama ini sudah cukup ia tahan di hatinya, sudah saatnya melepaskan segalanya dan menjalani hidup yang bahagia.


***

__ADS_1


Di sisi yang lain,


Marian yang sudah masuk kedalam sel karena jelas-jelas telah melakukan Rencana penculikan secara terang-terangan itu menjadi jantungan sekali.


Dia marah dan harga dirinya terluka, akan tetapi dia lebih takut kepada suaminya, bagaimana dia akan bersikap kali ini.


Dia tahu, Deffan Yu memiliki tempramental yang mengerikan, sekarang dia melakukan kesalahan yang begitu fatal disaat-saat mereka masih memiliki masalah.


Dia sudah jantungan dan takut apa yang akan dilakukan Deffan Yu kepadanya.


Hanya beberapa saat ia memikirkan hal itu, Marian mendengar keributan dari luar jeruji, dia bisa melihat jika Deffan sudah datang dan melangkah dengan begitu lantang.


Wajahnya yang murka itu otomatis membuat Marian menunduk ketakutan.


"Apa yang kau lakukan? kenapa kau membuat masalah disaat seperti ini? apa kau sudah gila? bukankah sudah kukatakan jangan melakukan apapun kepada Rani? kenapa kau ingin menculiknya? ha?" suara Deffan sedikit menekan namun tidak terlalu kuat karena Sekarang dia sedang ada di kantor polisi.


John yang tadi mengikuti ayahnya tentu mendengar apa yang dikatakan ayahnya barusan.


"Apa maksudnya Ayah? kenapa kau mengatakan Ibu menculik Rani? ada apa sebenarnya ini?" geram John sudah sedikit sesak.


Dia merasa semuanya benar-benar tidak menguntungkan baginya, jika ibunya benar-benar hendak menculik Rani lalu bagaimana dia akan mendapatkan Rani kembali setelah ini?


Deffan yang melihat putranya datang kesini sedikit mencengkeram dahinya, "Haahhh!" dia menghela nafasnya panjang.


"Dasar tidak berguna kalian semua, kau dan ibumu sama sama tidak ada gunanya, semuanya hanya membuat sakit kepala!" geram Deffan langsung berlalu.


Deffan hendak menuju ruangan kepala kepolisian dan membicarakan ini secara rahasia, dia ingin istrinya keluar hari ini dari penjara sekarang juga, agar menghindari sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.


Saat Deffan Yu sudah pergi ....


John tidak peduli dengan apa yang dikatakan ayahnya, dia lebih peduli dengan apa yang sebenarnya ibunya lakukan.

__ADS_1


Di mengalahkan dengan cepat, menanyakan hal itu kepada ibunya Yang ada di dalam kurungan.


"Ibu, cepat katakan, apakah yang dikatakan ayah itu benar? apakah ibu hendak menculik Rani?" geram John terlihat menahan amarahnya, wajahnya memerah dan nafasnya terdengar begitu berat.


Marian yang tak ingin terkena marah oleh anaknya juga segera memejamkan matanya sejenak.


"Iya, aku hendak menculik dan menghabisi wanita tidak tahu diri itu, dia mempermalukan ibu dan merasa sudah menang dari ibu, kau dan ayah mu tidak melakukan apapun jadi ibu sendiri yang akan melakukan nya!"


"Ibu tidak salah, dia memang pantas celaka!" geram Marian bahkan tidak merasa bersalah sedikitpun.


Mendengar itu John hanya bisa mencengkeram jeruji besi dengan sangat kuat, lalu matanya yang terlihat sangat kecewa namum tajam itu menatap tajam kearah Ibunya.


"Kenapa kalian semuanya begitu menyebalkan? menghalangi jalanku?"


"Mungkin Gama memang benar, jika ibuku adalah seorang monster, jika Ibu bisa melakukan penculikan kepada Rani seperti ini, entah apa yang ibu lakukan kepada Gama saat dia kecil!"


"Aku benar-benar menyesal telah dilahirkan oleh mu Bu!" geram John mencengkeram tangannya lalu menatap tajam kearah ibunya.


Lalu ia melangkah pergi dan meninggalkan ibunya, kali dia benar-benar telah kecewa sekali.


Mendengar kata-kata putranya yang begitu kasar membuat Marian melebarkan matanya, kata-kata John benar-benar melukai hatinya sebagai seorang ibu.


"Me ... menyesal karena dilahirkan olehku? apa maksudmu? John .... jangan pergi, John ...." Marian berteriak, dia hendak meminta penjelasan dari ucapan John, anaknya sendiri.


Dengan nafas yang terengah-engah, Marian menatap dengan sangat tajam.


"RANI! INI SEMUA KARENA MU! BAHKAN ANAK KU SENDIRI LEBIH MEMBELAMU DARI PADA AKU! LIHAT SAJA PEMBALASAN KU SAAT AKU KELUAR DARI SINI!"


geram Marian sungguh belum sadar jika yang salah dalam hal ini adalah dirinya, kesombongan dan ketamakan nya sungguh berada di level yang berbeda.


Tetapi kesombongan dan ketamakan itu jugalah yang nantinya akan melenyapkan nya.

__ADS_1


***


__ADS_2