Terpaksa Menikahi Tuan Kejam

Terpaksa Menikahi Tuan Kejam
Komunikasi dan keterbukaan.


__ADS_3

Episode 104 : Komunikasi dan keterbukaan.


***


"Jadi kau tidak mau bertemu denganku karena kau takut suatu saat kau akan melukai aku?" dengan melipat tangan Rani seperti sedang memarahi suaminya.


Siapa yang akan menduga, di dunia ini ada seseorang yang bisa memarahi seorang Gama Yu.


Gama sekarang sedang duduk dimana istrinya juga sedang bersandar di ujung ranjang karena dia belum bisa duduk dengan benar sekarang.


Gama menunduk dan mengangguk, selama beberapa hari dia menahan dirinya untuk tidak berbicara dan bertemu Rani saat Rani sedang sadar, karena takut dia akan melukai wanita ini lagi.


"Haaahhh!"


Rani menghela nafasnya dalam dalam, ternyata suaminya benar-benar bisa berpikir pendek juga.


"Aku akui, tenaga mu memang sangat besar, sampai kau tidak sadar kau melempar aku malam itu, tetapi kau tidak bermaksud untuk melukai ku, bukankah itu seharusnya sudah cukup,"


"Oh, atau itu hanyalah alasan? kau sudah bosan padaku dan tidak menginginkan aku lagi? makanya kau mencari-cari alasan agar bisa berjauhan dariku, begitu?"


Emosi Rani juga sedang naik turun akibat kehamilan mudanya, apalagi saat mengetahui suaminya sulit ditemui membuat Rani naik darah, makanya dia menunggu Gama sampai tengah malam seperti ini.


"Tidak, di seluruh dunia ini hanya kau yang aku suka, bagaimana mungkin aku bisa menyukai yang lain, aku juga tidak akan pernah bosan padamu, yang ada malah aku merindukan mu setiap hari!"


Dengan matanya yang penuh keyakinan, Gama berterus terang sekali, membuat Rani tertawa geli, padahal dia hanya sedang bercanda tadi.


"Kenapa kau tertawa? apa ada yang salah dari jawaban ku?" ketus Gama sekarang gantian, menatap Rani dengan tatapan yang tajam sembari berpangku tangan.


“Tidak ada, aku hanya ingin kau tidak akan melakukannya lagi, jika ada sesuatu kau hanya perlu membaginya kepadaku, kau mengerti?” ketus Rani meniru sikap suaminya.

__ADS_1


Melipat tangan dan mengangkat dagunya, wajah itu kelihatan begitu imut dan menggemaskan bagi Gama.


Gama tersenyum nakal kemudian, “Ho? Sayang, dari mana kau meniru sikap itu? hmm?" bisik Gama sudah mendekat bagaikan monster yang sedang kelaparan.


Bagaimana pun dia sudah puasa selama beberapa hari tidak melakukan kegiatan favoritnya, sekarang dia melihat wajah menggemaskan istrinya benar-benar kembali membakar dirinya.


“Dari siapa lagi jika bukan darimu!” ketus Rani tersenyum saat melihat suaminya bisa tersenyum lagi.


Wajahnya yang sejak tadi suram dan sedih sudah tergantikan dengan senyuman, ya, walaupun senyuman itu adalah senyuman nakal, tetai tidak apa.


“Sayang, apa kau ingat apa yang kau katakan saat malam dikapal pesiar?” bisik Gama sekarang sudah mengusap pipi istrinya ini lembut sekali.


Saat mengingat itu, wajah Rani tiba tiba memerah, seolah ada lava meledak di kepalanya, dia tidak tahu mengapa dia tiba-tiba mengatakan hal itu saat di dalam kapal pesiar.


“Aduh, punggungku sakit, ayo kita tidur,” Rani mencoba mencari cara agar suaminya tidak akan lagi membahas hal itu.


“Hehe, pembohong, katakan lagi, aku ingin mendengarnya, maka aku akan melepaskan mu,” bisik Gama sekarang sudah mengecup dahi istrinya, kedua pipinya dan hendak menyesap bibirnya.


Saat Gama sudah menatap tajam dan berfokus ke bibirnya, hanya beberapa inchi lagi sampai bibirnya dan suaminya akan bersentuhan, Rani akhirnya menyerah.


“Baiklah … baiklah, akan aku katakan lagi,” seru Rani dengan wajah yang memerah sekali.


Gama masih mempertahankan posisi mereka, dimana Gama menyentuh kedua pipi istrinya dan menatap lekat wajahnya, dia berfokus ke bibir istrinya, bibir yang sudah sangat ia lahap sekarang ini.


Rani yang sudah mengumpulkan keberaniannya akhirnya dengan terbata-bata mengatakan apa yang ia katakan saat ada di lelang malam itu.


“Aku mengatakan jika aku, emm, aku mi … milikmu,” Rani berbicara dengan sangat cepat juga sedikit terbata-bata.


Mengatakan hal hal seperti itu bukanlah sesuatu yang biasa bagi Rani, walau bukan perkataan ungkapan cinta tetap saja sangat memalukan dan membuatnya ingin menghilang saja.

__ADS_1


“Hehe, sayang, aku tidak dengar, kurang jelas ….” Bisik Gama masih dekat sekali di dekat Rani, istrinya.


“Si mesum ini memang tidak bisa dipancing sedikitpun!” ketus Rani sudah mengatahui sisi mesum dan nakal suaminya yang tidak bisa dipancing sedikitpun.


“Aku milikmu!”


“Aku milikmu!”


“Aku milikmu!”


Rani dengan cepat dan sedikit kiuat langsung mebngatakannya sebanyak tiga kali membuat Gama puas.


Gama memiringkan wajahnya menatap penuh kehangatan, tetapi wanita mana yang tidak akan malu jika ditatap dengan mata tajam yang bola matanya berwarna hitam pekat, apalagi jika dilihat dari dekat wajah suaminya ini semakin terlihat ta,mpan dan menarik.


“Karena kau sudah mau jujur, aku akan memberikanmu hadiah sayang,” Gama membisik lalu tanpa aba-aba dia langsung melahap bibir istrinya yang sejak tadi sudah ia incar.


Dia melakukannya dengan sangat lembut, dia menyesap dengan sangat lembut sampai Rani tidak lagi bisa menolak dan menerimanya dengan suka rela.


“Curang, katamu kau tidak akan melakukannya jika aku katakan, dasar pembohong!” ketus Rani memukul pundak suaminya pelan.


Gama kemudian menyeringai, dia memeluk istrinya pelan, dia tahu dia belum bisa melakukan apapun pada istrinya, karena tubuh istrinya belum sembuh sepenuhnya.


“Sayang, aku akan mencoba lebih terbuka, menceritakan apapun yang aku lalui, aku akan mencoba menikmati hidup ku bersamamu, tetapi aku ingin kau tetap membelaku seperti yang kau lakukan, mengerti?” Gama sudah memeluk istrinya diatas ranjang pasien.


Dia memastikan pelukannya tidak akan terlalu kuat agar Rani tetap merasa nyaman.


“Hmm ….” Rani hanya menganggukkan kepalanya, dia sudah lelah dan mengantuk menunggu suaminya seharian untuk menangkap basah dia malam ini.


Dia dan Gama akhirnya tertidur di atas ranjang pasien, langkah pertama yang akhirnya Gama mengerti, semuanya adalah komunikasi dan keterbukaan, seberapa besarpun penyesalan dan kesedihan Gama, jika dia tidak terbuka dan berbicara dengan istrinya, maka sampai kapanpun dia tidak akan pernah bisa memahami dan mengerti apa sebenarnya arti dari saling memiliki dalam pernikahan.

__ADS_1


***


__ADS_2