
Episode 84 : Mirip seperti suamiku
***
Rani sedang ada di ruangan pribadi Ardhan, baru saja Ardhan membentak dan bersikap kurang sopan, Ardhan merasa bersalah karena tidak bisa menahan emosinya jadi dia memutuskan untuk menceritakan mengapa dia bisa bersikap seperti itu.
Entah kenapa juga Ardhan merasa terbuka dan tidak ingin menutupi apapun dari Rani.
Sebenarnya Rani tidak masalah dengan apa yang akan diberitahukan oleh Ardhan, akan tetapi dia juga merasa penasaran, rasanya foto yang ada di dompet lelaki itu terasa familiar baginya.
Ardhan duduk di kursi kebesaran nya melihat wajah Rani lagi, yang selalu memberikan perasaan aneh di hatinya.
"Dulu aku tinggal di panti asuhan bersama gadis kecil itu, dia sudah ada di sana lebih lama dariku, sedangkan aku baru saja datang saat itu,"
"Panti asuhan itu sangat mengerikan, yang dimana akhirnya aku tahu jika panti asuhan itu bukan untuk menampung anak-anak yang yatim piatu atau membutuhkan melainkan sebuah wadah untuk mendidik anak-anak menjadi mesin pekerja atau yang tidak berguna akan dijual organ nya,"
"Aku dan dia berjuang bersama, dia sering melindungi ku, padahal aku lebih tua darinya,"
__ADS_1
"Kenangan buruk itu selalu aku ingat, bagaimana setiap malam kami berpelukan bersama karena takut merasa sangat ketakutan,"
Ardhan mulai gemetaran, tangannya tidak henti mengusap kasar rambutnya, dan kegelisahan saat menceritakan itu bisa terlihat jelas oleh Rani.
Rani tidak menyangka seorang CEO terkenal seperti Ardhan Reiner mengalami masa lalu kelam seperti itu, walau yang dia ceritakan hanyalah bagian luar nya saja akan tetapi Rani tidak bisa membayangkan apa yang dialami oleh anak kecil yang tinggal di panti asuhan itu.
"Hah?"
Ardhan menghela nafasnya panjang, "Maaf Rani, aku tidak bisa melanjutkan semua ceritanya, tetapi anak kecil itu sudah lama meninggal, dan semuanya salahku, makanya aku akan selalu kehilangan kendali jika mengetahui ada orang yang menyentuh dompet ini,"
"Tidak apa Pak, saya mengerti, apakah anda baik-baik saja? wajah anda kelihatan pucat sekali," seru Rani sedikit khawatir.
Dia melihat sejak tadi Ardhan seolah menahan sesuatu dalam dirinya, mungkin kenangan buruknya benar-benar membekas sampai membuat ia trauma.
Entah kenapa melihat wajah Ardhan yang seperti ini mengingatkan Rani mengenai suaminya yang juga mengalami trauma dan rasa takut yang ada di dalam dirinya.
Hatinya jadi terenyuh, dia merasa orang orang besar seperti mereka pasti lah mengalami masa sulit yang tidak bisa dibayangkan oleh Rani.
__ADS_1
"Aku tidak apa Rani, kembali lah ke ruangan mu, aku ingin sendiri sebentar," seru Ardhan dengan wajah yang memerah.
"Ba ... baik Pak," balas Rani tidak bisa melakukan hal lebih, bagaimana pun dia hanyalah orang asing.
Tetapi cerita Ardhan barusan sangat menyentuh hatinya, dia sadar jika ternyata dugaannya salah, dia sama sekali tidak kenal dengan anak kecil di foto itu.
Mungkin dia merasa familiar karena suasananya hampir sama dengan dia dulu, karena dia juga tinggal di panti asuhan saat dia kecil.
***
Guys maaf ya hari ini update nya dikit, besok lagi yaa, episode nya juga bakal aku panjangin kayak biasa 🥰
Maaf juga ya jika masih banyak kekurangan di novel ini.
Salam
Author Joy
__ADS_1