
Episode 61 : Harapan terakhir.
***
Setelah itu keduanya memasuki mobil dimana supir pribadi Gama sudah menanti mereka, Rani belum tahu kemanakah Gama akan membawanya tetapi setelah mobil melaju beberapa saat akhirnya mereka sampai di tujuan mereka.
"Tunggu disini ...." ucap Gama pelan sembari mengambil bunga putih yang sudah dipersiapkan pelayan tadi untuk dibawa oleh Gama.
Ternyata Gama datang ke pemakaman Ibunya sendirian, dia membawa bunga putih di tangannya dan meminta Rani untuk menunggu di mobil.
***
Gama datang ke sebuah makam yang ada dibawah pohon rindang, dia meletakkan bunga putih yang sudah ia bawa.
Dia duduk bersandar di pohon itu dan memejamkan matanya sebentar.
__ADS_1
"Ibu ... aku datang lagi, aku belum bisa menghancurkan mereka akan tetapi aku sudah dalam proses menghancurkan mereka,"
"Tenang saja Ibu, aku tidak akan lupa bagaimana mereka memperlakukan mu dahulu,"
"Bagaimana mungkin aku lupa saat kau menangis sendirian dan menderita sendirian, hatiku sakit sampai sekarang karena tidak bisa mengembalikan waktu,"
Matanya yang kosong sekarang menatap kearah langit biru sedikit berawan, angin yang berhembus seolah menemani kesedihan Gama seperti tahun tahun sebelumnya.
"Aku merasa tidak pantas bahagia karena tidak bisa melakukan apapun dahulu, saat itu aku masih kecil dan tidak bisa membawa ibu kabur, Seandainya aku sudah dewasa sedikit saja mungkin aku bisa membawa Ibu kabur dan pasti Ibu masih akan bersamaku dan melihat aku tumbuh kan Bu?"
Gama sedang bercerita tentang dirinya sendiri, seperti tahun tahun sebelumnya, hatinya akan sangat kosong dan terluka, menyalahakan dirinya sendiri dan menganggap kebahagiaan tidak akan pernah datang kepada nya, bagaimana pun penyesalan yang besar itu telah membuat Gama menjadi karakter yang beringas seperti saat ini.
Sudah beberapa saat ia duduk disana, memejamkan matanya sampai saat ia mendengar suara langkah kaki yang mendekati nya.
Ia membuka matanya dengan waspada tetapi yang ia lihat adalah wajah yang bersinar, senyuman yang tulus dan sedikit kaku, wajahnya yang begitu damai dan cantik membuat Gama yang duduk itu terdiam dan terpesona.
__ADS_1
"Ah, ternyata tahun tahun sebelumnya berbeda dengan tahun ini Bu, tahun aku menemukan seseorang yang berbeda, dia terlihat bercahaya dan hangat, dia selalu tersenyum seperti ini kepadaku, dia juga akan menangis jika dia tidak suka sesuatu,"
"Jika sekarang aku menginginkan hal lebih apakah pantas aku mendapatkannya?" Gama terdiam melihat Rani yang datang mendekat kearah Gama, Rani sudah datang jauh-jauh dia ingin juga mengunjungi makam mertuanya ini.
"Tu ... Tuan, kenapa tidur disini? sudah hampir sore ...." ucapan pelan dan senyum polos tetapi kaku membuat ekspresi Gama yang terdiam itu semakin tak terbaca oleh Rani.
"Kenapa dia melihat ku seperti itu? apa aku salah datang kesini, apa dia akan membentak aku lagi?"
Rani bertanya-tanya dalam dirinya, mengapa Gama hanya duduk disana dan menatapnya lekat sekali.
Gama berdiri sesaat kemudian, mendekati Rani dengan ekspresi tak terbaca itu, hal itu membuat Rani memundurkan langkahnya.
"Sudah ku putuskan jika wanita ini sungguh hanya boleh menjadi milikku seorang, jika yang satu ini pergi dan berkhianat dariku, maka aku tidak akan mempercayai apapun lagi! ini adalah harapan terakhir ku!"
ucapan itu terpatri di dalam hati Gama.
__ADS_1
Dia mendekat dan segera menarik tangan istrinya, memeluknya begitu erat dan bersandar di pundak nya.