
Episode 58 : Tidak mungkin melepaskan mu lagi!
***
Rani terkejut saat mendengar itu, dia tidak tahu mengapa, tetapi dia merasa hatinya sakit mendengar hal itu.
Dia tidak tahu jika lelaki paling mengerikan dan paling arogan itu memiliki luka batin yang lebih menyakitkan darinya.
Mungkin itulah sebab perubahan sikap Gama yang tidak ingin marah pada Rani hari ini, karena Gama sedang mengingat luka hatinya yang tidak akan pernah sembuh.
Rani langsung bangkit, walau dia masih belum mencinta lelaki itu tetapi dia tetap suaminya dan Rani tidak bisa membiarkan suaminya melukai dirinya sendiri.
"Nyonya, sebaiknya jangan menjumpai Tuan sekarang, bisa-bisa anda ikut terluka karena amukannya," ucap Bi Mendi hendak melarang Rani yang hendak bergegas menuju ruangan kerja suaminya.
Rani kemudian tersenyum, "Tenang saja Bi, aku istrinya, dia bahkan sudah menyakiti ku sejak awal, aku telah terbiasa, jika hanya kena pukulan sedikit aku akan baik-baik saja," ucap Rani sudah terbiasa memang menerima amukan Gama, jadi dia yakin dia akan baik-baik saja.
"Nyonya ...." Bi Mendi tidak bisa menghalangi Rani, jadi Rani hanya bisa membiarkan Rani pergi.
***
Saat berada di luar pintu, Rani semakin mendengar suara berisik dan pukulan keras dari dalam, sebenarnya dia takut sekali tetapi dia tidak bisa membiarkan lelaki itu menyakiti dirinya sendiri.
__ADS_1
Rani menghembuskan nafasnya dalam-dalam, dia sudah siap menerima kenegerian Gama yang ada di dalam sana.
"Cklek!"
Dia membuka pintu dan melihat betapa hancurnya ruangan itu, semuanya pecah, semuanya berserakan juga ada darah yang mengalir, yaitu darah yang keluar dati kepalan tangan Gama.
Gama meninju semuanya dengan tangan kosong membuat tangannya terluka sampai berdarah.
Rani melihat Gama dengan wajah yang sangat mengerikan, selama ini dia memang melihat Gama marah tetapi wajahnya tidak setajam dan se mengerikan ini.
Rani hendak melangkah mundur saat mata tajam dan aura menekan itu melihat kearahnya.
"KENAPA KAU KESINI! KELUAR!" teriak Gama mengusir Rani, di tangan Gama masih ada serpihan kaca membuat Rani menutup kedua mulutnya karena merasa ngeri melihat luka itu.
Seperti perkataan Bi Mendi, Gama terlihat tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, dia terlihat mengerikan dan Gama seolah bukan dirinya saat ini.
"Hahh!" Rani menghela nafasnya, walau tubuhnya gemetaran dan takut merasuk jiwanya, takut akan di pukul atau dilempar oleh Gama, kakinya tetap datang berlari kearah suaminya.
Dia menangis karena takut juga menangis karena ngeri melihat darah dan luka suaminya.
Gama yang sedang kehilangan dirinya sendiri karena mengingat luka hati dan batin yang bertahun-tahun ia rasakan, melihat seorang wanita datang berlari sembari menangis kearahnya.
__ADS_1
Rani langsung memeluk Gama, saat kemarahannya memuncak dimana jika saat itu siapapun yang mendekati nya akan ia hancurkan.
"Pergi sialan!" Gama masih berteriak pada Rani yang tidak mau keluar dari ruangan itu.
"Tidak mau! aku takut! bagaimana jika kau mati? darah mu sudah berceceran apa kau mau aku meninggalkan mu saat kau terluka? aku tidak sejahat itu ya! aaaa, aku takut tapi tidak bisa melepaskan mu!" Rani ikut berteriak dan menangis dengan hebat.
Dia gemetaran tetapi dia tetap mendekap suaminya yang sedang menggila itu.
Nafas Gama semakin berat, kepalanya pusing, wanita ini lagi lagi membuat tubuhnya merasa aneh, emosi yang tidak bisa ia kontrol seolah mengikuti keinginan Rani.
"Rani, pergi sebelum aku menyakiti mu, biarkan aku sendiri sebentar! pergi!" geram Gama mengepal tangannya dan secara tidak sengaja menarik lengan Rani dimana tangannya masih ada serpihan kaca membuat lengan Rani ikut terluka.
"Ahhh ...." Rani mengeluh sakit, disaat serpihan kaca itu mengenai lengannya, tetapi dia tetap tidak melonggarkan dekapannya, dia tidak ingin lelaki ini menyakiti dirinya sendiri lagi.
Saat melihat wanita yang membawa perubahan besar dalam dirinya terluka oleh karena nya membuat Gama sadar, dia membuka matanya dan melihat sekeliling nya yang hancur berantakan, juga istrinya yang memeluknya erat sekali sambil gemetaran ketakutan, disaat yang sama lengannya juga sudah terluka karena dirinya.
Gama langsung melempar semua kaca yang ada di tangannya, seolah tidak merasa sakit.
"Deg ... Deg ... Deg!"
Jantung Gama berdegup kencang sekali, belum pernah ada orang yang berani mendekati nya saat ia sedang kacau dan marah seperti ini, hanya Rani yang berani bahkan mendekap nya walau merasa takut.
__ADS_1
"Dasar wanita bodoh, seharusnya kau pergi, dengan begini kau tidak akan mungkin bisa ku lepaskan seumur hidupku!" ketus Gama membalas dekapan Rani dan bersandar di tengkuk nya, dia ingin menenangkan dirinya yang baru saja kehilangan jati dirinya.
***