Time Travel Lia

Time Travel Lia
Tuan Guru


__ADS_3

"Jangan angga dirimu tak berguna, mustahil Allah menciptakan mu di dunia hanya buat sia-sia. Bahkan debu sekalipun berguna untuk bertayammun jika tidak ada air."


Setelah selesai makan tuan putri membayar semua yang mereka makan. Tuan putri memberikan uang kepada pemilik warung makan tersebut. Tuan putri dan rombongan kembali melanjutkan perjalanan ke pondo po.


Sesampai di pondo po tuan putri berserta rombongan sudah di tunggu oleh kelima pangeran. Para prajurit menurunkan tandunya ke tanah, lalu tuan putri keluar dari tandu. Kelima pangeran telah berdiri menunggu tuan putri.


"Pangeran." Tuan putri berlari ke arah kelima pangeran tersebut.


"Tuan putri jangan lari," kata kelima pangeran tersebut.


"Apa kabar pangeran semua." Tuan putri memeluk badan pangeran pertama.


"Kami baik seperti yang tuan putri lihat." Pangeran pertama yang membalas pelukan putri. Pangeran pertama yang begitu merindukan tuan putri.


"Aku juga mau di peluk tuan putri." Keempat pangeran tersebut memeluk tuan putri.


"Hmmmmm." Lia menghampiri tuan putri dan kelima pangeran tersebut.


"Eh ternyata kamu ikut dengan tuan putri." Pangeran ke empat melepaskan pelukan dari tuan putri lalu dia menoleh ke arah suara tersebut. Dia melihat Lia yang sedang berjalan ke arah mereka.


"Aku ini dayang pribadi tuan putri sudah pasti aku akan ikut kemana saja tuan putri pergi." Lia yang sudah berdiri di hadapan ke lima pangeran dan tuan putri.


"Aku senang bisa bertemu dengan kamu." Pangeran ke empat maju selangkah ke arah Lia sambil merentang tangannya.


"Pangeran mau apa?" Lia yang melihat pangeran ke mpat melangkahkan kaki ke arahnya.


"Peluk kamu." Pangeran keempat yang terus saja berjalan selangkah ke arah Lia.


"Tidak boleh pangeran, jangan coba mendekati saya." Lia yang mundur selangkah karena pangeran ke empat sudah berada si harapannya.


"Kenapa tidak boleh?" tanya pangeran keempat.


"Bukan muhrim." Lia yang melangkahkan kakinya mundur kebelakang.


"Bagaimana kalau kita jadi muhrim?" tanya pangeran keempat.


"Aku gak mau," kata Lia.


"Kenapa kamu tidak mau? aku ini pangeran selain itu juga tampan, baik hati dan ramah lagi," kata pangeran keempat.


"Aku tidak cinta," jawab Lia.


"Aku akan membuat kamu jatuh cinta," kata pangeran keempat.


"Ckckck, tidur saja belum tapi sudah bermimpi." Lia yang menatap tajam ke arah pangeran keempat

__ADS_1


"Sudah lah pangeran empat jangan ganggu dia lagi." Pangeran ketiga yang menarik baju pangeran keempat dari belakang.


"Ahahah, dasar pangeran ketiga menganggu aku saja." Pangeran keempat mundur karena bajunya di tarik oleh pangeran ketiga.


Esokan Harinya......


Pagi ini seluruh orang yang ada di pondo po sudah berkumpul di halaman pondo po yang luas. Pemilik pondo po memberitahukan kepada semua orang yang ada di halaman pondo po bahwa lomba perburuan di hutan akan di mulai.


Pemilik pondo po memberitahukan kepada kelima pangeran tersebut tata cara lomba berburu. Mereka di haruskan membawakan hasil perburuannya. Makin besar hewan yang di dapat maka makin besar poinnya. Kelima pangeran tersebut telah mengerti dengan peraturan lomba perburuan.


Pemilik pondo po lalu memulai lomba berburu tersebut para pangeran berjalan sambil menunggangkan kuda. Para pangeran sudah masuk ke dalam hutan tersebut dengan mengunakan seekor kuda mereka juga membawa panah di atas bahunya.


Tuan putri yang sedang duduk di kursi yang telah di sediakan sedangkan Siti berdiri sambil memegang payung. Sehingga tuan putri tidaklah merasakan kepanasan. Lia yang duduk di atas rumput yang berada di samping tuan putri.


Tap......


Tap......


Tap.....


Seorang pria paruh baya berjalan ke arah tuan putri dan kedua dayang nya. Seorang pria paruh baya tersebut sudah berdiri di hadapan tuan putri dan kedua dayang nya.


"Tuan putri." Pria paruh baya tersebut memberikan hormat kepada tuan putri dengan menundukkan kepala nya.


"Tuan Guru." Tuan putri melihat ke arah pria paruh baya yang berdiri di hadapannya.


"Tuan putri disini bersama siapa?" Tuan Guru melihat ke arah tuan putri.


"Dayang dan prajurit Tuan Guru," jawab tuan putri.


"Apa mereka berdua dayang tuan putri?" Tuan guru melirik bergantian ke arah dua orang dayang yang berada di dekat tuan putri.


"Iya Tuan guru," jawab tuan putri.


"Apa dia dayang baru tuan putri?"Tuan guru menujukkan jarinya ke arah Lia.


"Iya Tuan guru," jawab tuan putri.


"Siapa nama kamu?" Tuan guru mengulurkan tangannya ke arah Lia, Tuan guru yang begitu penasaran ama Lia.


"Lia." Lia yang menoleh ke arah Tuan guru.


"Nama lengkap kamu siapa?" Tuan guru yang menatap matanya ke arah Lia.


"Lia berdiri, salim ama tuan guru." Tuan putri memberikan perintah ama Lia.

__ADS_1


"Baiklah tuan putri." Lia berdiri dari atas rumputnya, Lia menyalim punggung tangan Tuan guru.


"Tunggu, nama lengkap kamu siapa?" Tuan guru memegang tangan Lia.


"Lia Dwy Putri." Lia yang berusaha melepaskan tangan dari Tuan guru, tetapi tuan guru tidak melepaskan tangan Lia.


"Kamu berasal dari masa depan," kata tuan guru.


Deg........


Deg........


Deg........


"Bagaimana tuan guru bisa tahu?" Lia yang terkejut mendengar perkataan Tuan guru.


"Dangan memegang tangan kamu aku bisa tahu," kata Tuan guru.


"Baiklah kalau begitu aku mau tanya, tentang keluarga aku. Siapa nama kedua orang tua dan saudara aku?" Lia yang penasaran ama Tuan guru, dia memberikan pertanyaan ama Tuan guru.


"Nama orang tua kamu Dikin dan Eli, kakak kamu bernama Fina Eka Putri menikah dengan Riski Yanuar. Nama adek kamu Mentary Tri Putri." Tuan guru melepaskan tangannya Lia.


"Yang Tuan guru katakan semua benar," kata Lia.


"Nenek kamu bernama Fatimah, nenek kamu masih keturunan kerajaan ini," kata Tuan guru.


"Tunggu dulu, maksud Tuan guru?" Lia yang makin di buat penasaran oleh tuan guru.


"Kamu itu masih keturunan kerajaan Rokan, darah yang mengalir di diri kamu itu darah keturunan kerajaan ini. Apa kamu melanggar larangan nenek kamu?" tanya Tuan Guru.


"Iya Tuan guru," jawab Lia.


"Kamu dilarang berenang ke sungai Rokan, beruntung kami bisa selamat dan terdampar di masa ini," kata Tuan Guru.


"Nenek tidak pernah memberitahukan kepada kami kenapa dilarang berenang di sungai," kata Lia.


"Nenek mempunyai alasan melarang kalian untuk berenang di sungai rokan," kata Tuan guru.


"Apa alasan nenek tidak mengizinkan kami berenang di sungai Rokan tuan guru?"tanya Lia.


...~ Bersambung ~ ...


Hai Guys Mampir Ke novel Ry yang baru


Berjudul Perjuangan Ucup

__ADS_1



__ADS_2