
"Hidup bukan tentang siapa yang bisa mendapatkan lebih banyak, tapi siapa yang bisa menikmatinya lebih baik."
Ibuk pemilik rumah tersebut terlebih dahulu memberikan teko dan gelas kepada Siti. Siti mengambil teko dan gelas dari tangan ibuk pemilik rumah tersebut.
"Nih kamu pegang." Siti memberikan sebuah gelas kepada Lia.
"Iya." Lia mengambil gelas dari tangan Siti.
"Ini kamu minum dulu." Siti menuangkan air kedalam gelas tersebut, dia mengisi gelas tersebut air sebanyak setengah. Setelah itu Siti menyuruh Lia untuk meminum air tersebut.
"Iya, glug....glug." Lia meminum air dari dalam gelas tersebut sampai habis.
Siti yang melihat ke arah Lia yang sudah meminum air tersebut sampai habis. Mereka menunggu kira-kira sekitar lima menit untuk melihat reaksi dari air minum yang Lia minum. Setelah lewat dari lima menit Siti melihat ke arah Lia, Lia mengunakan bahasa isyarat kepada Siti dengan cara menganggukan kepalannya. Siti yang mengerti dengan bahasa isyarat yang Lia berikan.
Siti menuangkan kembali air dari dalam teko ke gelas yang berada di tangan Lia. Siti menuangkan air kedalam gelas tersebut sampai air penuh dari gelas tersebut. Setelah itu Lia memberikan gelas yang berisi air kepada tuan putri.
Tuan putri mengambil gelas dari tangan Lia, setelah itu tuan putri meminum air dari dalam gelas tersebut hanya dengan sekali teguk.
"Tuan putri mau lagi?" tanya Siti.
"Iya." Tuan putri menyodorkan gelasnya kepada Siti.
Siti menuangkan kembali air kedalam gelas tersebut. Setelah air dari dalam gelas tersebut terisi penuh oleh Siti, tuan putri meminum air dari dalam gelas tersebut. Tuan putri yang sudah selesai meminum air dari dalam gelas tersebut memberikan gelas tersebut kepada Lia.
Lia dan Siti meminum air dari teko tersebut mereka menggunakan gelas yang sama secara bergantian. Setelah selesai mereka meminum air dari dalam teko tersebut.
"Terima kasih ibuk." Siti memberikan teko dan gelas kepada ibu pemilik rumah tersebut.
"Sama-sama dayang." Ibuk tersebut mengambil teko dan jelas dari tangan Siti.
"Ibuk kalau begitu kami pamit dulu," kata Siti.
"Kenapa tuan putri dan dayang buru-buru mau pergi?" tanya ibuk pemilik rumah tersebut.
"Kami harus mencari sesuatu ibu," jawab Siti.
"Apa yang tuan putri dan dayang cari?" tanya ibu pemilik rumah tersebut.
"Kami sedang mencari pohon rambe, apakah di sekitar sini ada pohon rambe ibuk?" tanya Siti.
"Ada, untuk apa tuan putri dan dayang mencari pohon rambe?" tanya pemilik rumah tersebut.
"Kami ingin buah rambenya, dimana pohon rambenya ibuk?" tanya Siti.
"Bisakah ibuk mengantarkan kami ke pohon rambe tersebut," kata tuan putri.
__ADS_1
"Baiklah hamba akan mengantarkan tuan putri dan dayang ke pohon rambe tersebut. Sebaiknya tuan putri dan dayang ikut hamba." Pemilik rumah tersebut berjalan ke arah belakang rumahnya.
Ibu pemilik rumah tersebut terlebih dahulu berjalan di depan, di ikuti oleh tuan putri yang berjalan di belakang ibuk pemilik rumah tersebut. Siti dan Lia berjalan di belakang tuan putri.
"Sebenarnya kita ini mau kemana?" tanya Lia.
" Udah gak usah banyak tanya kita ikutin aja ibuk itu," jawab Siti.
"Ini juga kita lagi ngikutin ibuk itu." Lia yang terus saja menggerutu sambil berjalan di belakang tuan putri.
Ibuk pemilik rumah tersebut berhenti berjalan, Tuan putri, Siti dan Lia berjalan menyusul ibu pemilik rumah tersebut. Mereka menghampiri ibuk pemilik rumah yang sedang berdiri di depan sebuah pohon.
"Jadi ini yang namanya pohon rambe?" Lia menunjukkan jari ke arah pohon yang berada di depannya.
"Iya," jawab Siti.
Mereka melihat ke arah pohon rambe tersebut ternyata di pohon rambe tersebut terdapat begitu banyak buah rambe. Tetapi buah rambe tersebut tinggi begitu juga buah rambe yang berada si pohon tersebut.
"Ibuk ini pohon punya siapa?" tuan putri yang melihat ke arah ibuk pemilik rumah tersebut.
"Hamba yang punya tuan putri," jawab ibu pemilik rumah tersebut.
"Apa kami boleh mengambil buah rambe punya ibu?" tanya tuan putri.
"Boleh, asalkan tuan putri dan dayang yang mengambil buah rambe tersebut dari pohon langsung," jawab ibuk pemilik rumah tersebut.
"Kita harus memanjat pohon tersebut, apa di antara kita bertiga ada bisa memanjat?" tanya Lia.
"Aku tidak memanjat," jawab tuan putri
"Aku juga tidak bia memanjat," kata Siti.
"Terus siapa yang mau manjat tuh pohon rambai?" tanya Lia.
"Apa kamu bisa memanjat?" tanya tuan putri.
"Aku bisa memanjat," jawab Lia.
"Kalau begitu kamu saja yang memanja pohon rambe tersebut," kata tuan putri.
"Apakah tidak boleh kalau kita meminta cowok yang memanjat?" tanya Lia.
"Tidak boleh tuan putri dan dayang yang mengambil buah tersebut dari pohonya," kata ibu pemilik rumah tersebut.
"Kamu harus memanjat pohon rambe tersebut." Tuan putri yang berbicara dengan suara dengan nada yang tegas terhadap Lia.
__ADS_1
"Aku tidak mau." Lia yang menolak memanjat pohon rambe.
"Kamu harus mau ini perintah." Tuan putri yang berbicara dengan suara yang lantang.
"Kalau aku tidak mau, kenapa?" tanya Lia.
"Kamu akan mendapatkan hukuman, karena sudah tidak menuruti perintah tuan putri," kata Siti.
"Jadi aku harus manjat pohon ini?" Lia yang terlihat ragu untuk memanjat pohon rambe.
"Iya," jawab tuan putri.
"Aku gak bisa manjat," kata Lia.
"Tapi tadi kamu bilang kalau kamu bisa memanjat." Tuan putri menatap tajam ke arah Lia.
"Aku emang bisa manjat tapi kalau pakai rok, aku gak bisa memanjat." Lia yang menjelaskan kepada tuan putri bahwa dia tidak bisa memanjat dengan mengunakan rok.
"Bukak rok kamu," kata tuan putri.
"Kalau rok aku di buka, entar aku manjat pohon rambe cuma pakai ****** ***** aja," kata Lia.
"Apa ibuk punya celana panjang?" tanya tuan putri.
"Punya tuan putri," jawab ibuk pemilik rumah tersebut.
"Apa ibuk bisa mengambilkan celana panjang itu?" tanya tuan putri.
" Bisa," jawab pemilik rumah tersebut.
"Bawa kesini celana panjang tersebut ibuk,'kata tuan putri.
Lia sudah memakai celana panjang lalu memanjat pohon rambe. Lia memetik buah rambe dari pohonnya lalu dia melempar buah rambe tersebut kepada Siti yang sudah berada di bawah pohon rambe. Siti menerima buah rambe yang di lempar Lia dari atas pohon rambe.
Lia memetik buah rambe tersebut dari pohonnya, setelah itu Lia menjatuhkan buah rambe tersebut. Lia yang merasa sudah cukup banyak memetik buah rambe lalu dia berhenti memetik buah rambe tersebut.
Lia yang masih berada si atas pohon rambe, Lia ingin turun dari pohon rambe tersebut tetapi Lia tidak tahu cara turun dari pohon rambe tersebut.
...~ Bersambung ~...
Hai Guys Mampir Ke novel Ry yang baru
Berjudul Perjuangan Ucup
__ADS_1