
"Diamlah bila perkataan kamu membuat orang lain terluka dan bicara kamu bila itu bisa membuat orang lain termotivasi."
Setelah itu bidan Ratna berpamitan untuk kembali ke ruangan. Bidan Ratna berjalan meninggalkan Lia di ruangan tersebut. Lia meletakkan tas di atas meja lalu Lia duduk di kursi.
Seorang laki - laki berjalan masuk ke puskesmas. Sesampai di dalam puskemas seorang laki - laki tersebut berjalan ke arah ruangan.
Tap.......
Tap.......
Tap.......
Seorang laki - laki masuk ke dalam ruang tersebut terkejut melihat Lia yang sedang duduk di kursinya.
"Kamu siapa?" Si laki - laki sudah berdiri di meja yang ada di hadapan Lia.
"Anda siapa?" Lia yang melihat ke arah laki - laki dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Saya tanya kamu siapa? malah kamu balik tanya ke saya," tanya si laki - laki tersebut.
"Perkenalan nama saya Lia Dwi Putri." Lia berdiri dari kursi lalu mengulurkan tangan ke arah si laki - laki tersebut.
"Kenapa kamu ada di ruangan saya?" tanya si laki - laki tersebut.
__ADS_1
"Anda jangan mengada - ngada bahwa ini ruangan anda." Lia yang menatap tidak suka ke arah si laki - laki tersebut.
"Sejak kapan ruangan ini jadi ruangan kamu?" tanya laki - laki tersebut.
"Sejak tadi bidan Ratna mengatakan bahwa ini ruangan saya," kata Lia.
"Saya tidak percaya dengan omongan kamu, saya sudah dari dulu di sini dan ini adalah ruangan saya," kata si laki - laki tersebut.
Bidan Ratna yang mendengar suara ribut - ribut berdiri dari kursinya. Bidan Ratna berjalan ke arah suara ribut - ribut. Lalu bidan Ratna sampai di depan ruangan yang ada suara ribut - ribut. Bidan Ratna masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Ada apa ini?" Bidan Ratna melihat ke arah Lia dan si laki - laki tersebut.
"Buk bidan, tolong beritahu dia bahwa ini ruangan saya dan suruh dia pergi dari sini." Si laki - laki yang meminta bantuan bidan Ratna untuk memberitahukan kepada Lia bahwa ini ruangan si laki - laki tersebut.
"Tunggu dulu apa kalian sudah berkenal?" tanya bidan Ratna.
"Kalau begitu kalian berkenalan dulu," kata bidan Ratna.
"Saya sudah memperkenalkan diri ama dia ibuk, tapi dia tidak mau memperkenalkan dirinya ama saya," kata Lia.
"Apa itu benar pak Mentri?" tanya bidan Ratna.
"Iya, saya malas berkenalan ama wanita ini, lagian dia gak penting ibuk bidan," jawab pak mentri.
__ADS_1
"Pak mentri tidak boleh seperti ini, saya mau kalian berkenalan sekarang." Bidan Ratna berbicara dengan tegas kepada pak mentri dan Lia.
"Baiklah, panggil saja saya pak mentri." Pak mentri mengulurkan tangan ke arah Lia.
"Baiklah pak, saya Lia." Lia menjabat tangan pak mentri. Baru aja jadi mentri udah sombong banget nih orang, secara lu bakal di bawah gue mah gue itu calon dokter muda batin Lia sambil tersenyum.
"Nah begitu kan bagus." Bidan Ratna tersenyum melihat Lia dan Pak Menteri berkenalan.
"Sebenarnya dia ini ngapain disini buk bidan?" Pak Mentri melepaskan jabatan tangan ama Lia.
"Lia ini mahasiswa kedokteran yang lagi melakukan Kkn di puskesmas," jawab bidan Ratna.
"Jadi kamu mahasiswa kedokteran?" Pak Mentri melihat ke arah Lia.
"Iya pak," jawab Lia.
"Terus kalian tadi meributkan masalah apa?" tanya bidan Ratna.
"Masalah ruangan ini ibuk bidan," jawab pak mentri.
"Kenapa emangnya dengan ruangan ini pak mentri?" tanya bidan Ratna.
"Saya tidak mau satu ruangan dengan dia ibuk bidan," jawab pak mentri.
__ADS_1
"Ckckck, emang pak mentri pikir saya mau satu ruangan dengan pak. Saya juga gak sudi ," kata Lia.
...~ Bersambung ~...