
"Dewasa bukan di lihat dari usia, tapi dilihat bagaimana dia bisa menghargai sesama."
Setelah menempuh perjalanan satu jam akhirnya kita melewati beberapa desa sebelum sampai ke desa Rokan Hilir. Ry mulai teringat tidak membawa ole - ole untuk nenek, Ry mengurangi kecepatan motornya.
Abi yang melihat Ry mengurangi kecepatan merasa ada sesuatu sehingga Abi mulai mendekati motornya ke arah motor yang di kendarai Ry.
"Kenapa dek?" Abi yang sudah berada di samping motor yang Ry kendarai.
"Mbak kita gak bawa ole buat nenek, gimana nih?" Ry melirik ke ara Lia.
"Ya udah sana lu beli." Lia melihat ke arah Ry.
"Ya udah Ry duluan mau beli ole - ole buat nenek," kata Ry.
"Jangan dek mendingan kita beli ole - olenya bersama aja." Abi yang tidak mengizinkan Ry pergi sendiri membeli ole - ole buat nenek.
"Yank biar aja Ry yang pergi beli ole - ole buat nenek," kata Lia.
"Iya abang, Ry duluan ya. Sampai ketemu di rumah nenek," kata Ry.
Brum......Brum
__ADS_1
Ry melajukan motor dengan kecepatan yang sangat tinggi seperti Valentino Rossi pembalap yang Ry suka. Jalanan yang begitu sepi sehingga Ry menaikkan kecepatan melajukan motor.
Setelah membeli ole - ole untuk nenek Ry langsung melajukan kembali motor ke arah desa Rokan Hilir. Saat melewati jalan desa Ry mulai mengurangi kecepatan motor. Ry melihat anak - anak yang bermain di jalan raya.
Ry sudah sampai di desa Rokan Hilir lalu Ry masuk ke jalan menuju rumah nenek. Saat Ry mengendarai motor sport melewati rumah - rumah warga desa melihat ke arah Ry. Mereka tertegun melihat ke arah Ry jarang seorang wanita mengendarai motor sport yang biasa di bawa laki - laki.
Sesampai di halaman rumah nenek Ry tidak melihat motor yang Abi kendarai. Ry memakirkan motor lalu Ry turun dari motor. Ry berjalan sambil membawa sebuah kantong plastik berwarna hitam.
Ry berdiri di depan rumah nenek yang terbuat dari kayu. Ry melihat rumah nenek uang sudah banyak di renovasi ama mama dan papa.
Ry berjalan menaiki tangga tersebut, tangan Ry memegang pinggir tangga. Ry menaiki tangga dengan gemetar karena Ry takut akan ketinggian. Ry berjalan ke arah pintu rumah nenek.
"Assalamualaikum nenek." Ry yang sudah berdiri di depan pintu rumah nenek.
"Walaikumsalam." Nenek berjalan ke arah pintu rumah, sesampai di depan pintu rumah nenek membuka pintu.
Ceklek....Ceklek
"Nenek." Ry langsung memeluk badan nenek.
__ADS_1
"Cu ama siapa ke sini?" Nenek membalas pelukan Ry.
"Ama mbak Lia dan temannya, Ry kangen ama nenek." Ry melepaskan pelukan dari nenek, Ry menyalim punggung tangan nenek.
"Mama papa gak ikut kesini?" tanya nenek.
"Maaf gak nenek," jawab Ry.
"Ayo masuk cu !" Nenek menyuruh Ry masuk ke dalam rumah nenek.
"Iya, nenek tinggal ama siapa sekarang?" Ry berjalan masuk ke dalam rumah nenek.
"Sendirian Cu." Nenek yang berjalan di belakang Ry.
Ry dan Nenek sudah duduk di atas tikar ruang keluarga. Ry melihat nenek yang sedang membuat kerajinan tangan dari pandan berduri yang di buat tas, tikar dan topi.
Brum.....Brum
Ry dan Nenek yang mendengar suara motor lalu berdiri dari duduk. Ry dan Nenek berjalan ke arah pintu. Abi memakirkan motor yang di bawanya di samping motor milik Abi. Setelah itu Lia dan Abi turun dari motor.
Lia berjalan terlebih dahulu ke arah rumah nenek, sementara Abi mengangkat koper Lia lalu membawanya ke arah rumah nenek. Ry dan Nenek sudah berdiri di depan rumah.
__ADS_1
...~ Bersambung ~ ...