
"Nasib tak bisa di duga, takdir tidak bisa di ubah, tapi doa bisa mengubah segalanya."
Setelah para pangeran berpamitan, mereka berjalan sambil membawa beberapa potong pakaian yang di bungkus mengunakan kain panjang. Mereka berjalan ke arah kuda, sesampainya mereka di samping kuda.
Mereka naik ke atas kuda lalu mereka mulai memacukan kuda sehingga kuda yang mereka ditunggangi bergerak. Mereka memacu kuda ke arah gerbang istana. Para pangeran sudah pergi meninggalkan istana.
Setelah para pangeran tidak terlihat lagi, para ibu selir beserta dayang nya meninggalkan halaman istana. Yang tersisa di halaman istana ratu, putri hijau, beberapa dayang dan beberapa prajurit yang berjaga di halaman istana.
"Anakku putri Hijau, ibunda mau kembali ke istana untuk menemui ayahnda raja," kata ratu.
"Sampaikan salam aku buat ayahnda raja ya ibunda ratu." Tuan putri yang melihat ke arah ratu.
"Baiklah, sebaiknya kembalilah kediaman anakku putri," kata ratu.
__ADS_1
"Baiklah ibunda ratu aku akan kembali ke kediaman aku," kata tuan putri.
"Ibunda jalan dulu ya anakku putri." Ratu berjalan meninggalkan tuan putri yang masih berada di halaman istana.
Setelah ratu berjalan di ikuti oleh beberapa dayang dan pengawal kerajaan. Ratu berserta dayang dan pengawal istana berjalan ke arah pintu istana. Tuan putri yang melihat ratu berserta dayang dan pengawal sudah berjalan masuk ke dalam pintu istana.
"Tuan putri ayo kita kembali kediaman!" Ajakan Lia.
"Iya Lia." Tuan putri yang berjalan ke arah kanan menuju ke kediamannya.
Tiba-tiba saja tuan putri berjalan ke arah pondok yang berada di belakang istana. Tuan putri melihat ke arah pondok lalu tuan putri menjadi teringat dengan kenangan saat bersama para pengeran. Mereka yang sedang duduk di pondok sambil bercanda gurau.
Setelah tuan putri sampai di pondok lalu tuan putri duduk di pondok tersebut. Lia dan Siti yang berdiri di hadapan tuan putri, mereka melihat wajah tuan putri yang terlihat begitu sedih.
__ADS_1
Tuan putri yang sedang teringat kembali kenangannya bersama para pangeran. Walaupun mereka terlahir dari ibu yang berbeda, tetapi mereka tumbuh bersama-sama di lingkungan istana.
Sehingga menjadikan mereka terbiasa untuk bersama di lingkungan istana. Terkadang para pangeran juga terlibat berantem sesama para pangeran sehingga tuan putrilah yang berusaha untuk selalu mendamaikan mereka.
Yang paling tuan putri takutkan ketika mereka meninggalkan istana. Tuan putri takut para pangeran saling melukai satu sama lain. Karena kalau mereka berada di luar istana maka mereka bebas melakukan hal-hal yang mengerikan.
Berbeda kalau mereka masih berada di lingkungan istana. Selamat mereka berada di lingkungan istana setiap apa yang mereka lakukan akan selalu di pantau oleh raja. Ketika mereka melakukan kesalahan maka raja dengan cepat memberikan hukuman kepada mereka.
"Apa yang tuan putri pikirkan?" Lia yang memegang pundak tuan putri.
"Tidak ada." Tuan putri mengelengkan kepalanya.
"Tuan putri percaya para pengeran akan baik-baik saja. Raja pasti memiliki alasan menyuruh mereka pergi ke pondo po. Mereka itu laki-laki harus bisa melindungi diri mereka sendiri sebelum mereka melindungi keluarga kerajaan," kata Lia.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...