
"Manusia tak akan pernah puas, sebelum hidungnya di tutupi dengan kapas."
Mereka menunggu pangeran yang lain di halaman pendopo po.
Tak.......Tik.......Tuk
Tak.......Tik.......Tuk
Tak.......Tik.......Tuk
Terdengar langkah tiga ekor kuda yang berjalan mendekat ke arah pintu gerbang pondo po. Tiga ekor kuda tersebut berjalan melewati pintu gerbang pendopo po secara bergantian. Ketika tiga ekor kuda tersebut sudah melewati pintu gerbang pondo Po.
Mereka yang berada di halaman pondo po melihat ke arah ketiga ekor kuda yang di tunggangi oleh pria. Tuan putri berlari ke arah kuda tersebut. Melihat tuan putri berlari ke arah tiga ekor kuda yang sedang berjalan masuk ke dalam pondo po.
"Tuan putri jangan lari." Pangeran kedua yang juga berlari untuk menyusul tuan putri.
"Tuan putri hati-hati natik jatuh." Lia juga berlari untuk menyusul tuan putri.
Tuan Putri terus saja berlari tanpa memperdulikan perkataan pangeran ke dua dan Lia. Tuan putri berlari sambil melihat ke arah ketiga ekor kuda yang di tunggangi oleh tiga pria. Tuan putri yang tidak melihat ada batu di tanah saat di lari sehingga tuan putri tersandung oleh batu menyebabkan tuan putri terjatuh di tanah.
Bruuukk.......Bruuukk
Mereka melihat tuan putri yang terjatuh di tanah lalu berlari ke arah tuan putri.
"Tuan putri." Pangeran kedua yang sudah berada di samping tuan putri.
"Ayo berdiri tuan putri!" Lia yang sudah berdiri di depan tuan putri lalu mengulurkan tangannya.
"Iya." Tuan putri menerima uluran tangan dari Lia.
Pangeran kedua dan Lia membantu tuan putri berdiri. Tuan Putri sudah berdiri dengan di bantu oleh Pangeran kedua dan Lia.
"Bagaimana keadaan tuan putri?" tanya Lia.
"Seperti yang kamu lihat," jawab tuan putri.
"Apa yang terluka tuan putri?" tanya pangeran.
"Lutut aku," jawab tuan putri.
"Sebaiknya tuan putri duduk dulu." Pangeran kedua dan Lia berjalan sambil memampah tuan putri. Mereka membantu tuan putri berjalan sampai di bangku tersebut.
Sesampainya di bangku tersebut tuan putri duduk di atas bangku tersebut.
__ADS_1
"Apa ada yang sakit tuan putri?" tanya pangeran kedua.
"Lutut aku." Tuan putri yang meringis karena merasa sakit di bagian lututnya.
"Sini coba aku lihat." Pangeran kedua yang sudah berdiri di hadapan tuan putri lalu dia berjongkok di hadapan tuan putri.
"Awas minggir pangeran kedua, biar aku saja yang melihatnya. Lagian aku ini dayang pribadi tuan putri, aku lebih berhak melihat kondisi tuan putri," kata Lia.
"Kami masih bersaudara maka aku lebih berhak dari kamu," kata pangeran kedua.
"Pangeran biarkan Lia yang melihat luka saya, jadi lebih baik pangeran berdiri," kata tuan putri.
"Baik tuan putri." Pangeran kedua berdiri lalu berdiri di samping tuan putri.
Lia sudah berdiri di hadapan tuan putri lalu dia berjongkok. Lia mulai mengangkat rok tuan putri ke atas lutut. Lia melihat ke arah lutut tuan putri yang terdapat luka. Kedua lutut tersebut terdapat goresan yang ada sedikit darah di lutut yang terkena goresan.
"Sebaiknya luka tuan putri harus kita obati," kata Lia.
"Emang kamu bisa mengobati luka tuan putri?" Pangeran kedua yang melirik ke arah Lia.
"Apa sebaiknya saya panggilkan tabit untuk tuan putri?" Siti yang sudah berada di belakang mereka.
"Iya cepatan kamu pergi memanggilkan tabit untuk tuan putri." Pangeran kedua yang melihat ke arah Siti.
"Hanya luka seperti ini aku bisa mengobatinya," jawab Lia.
Ketiga ekor kuda dan penunggang kuda tersebut berhenti di hadapan tuan putri. Mereka turun dari kuda lalu berjalan menghampiri tuan putri.
"Apa tuan putri tidak apa-apa?" Mereka yang sudah berdiri di hadapan Lia.
"Seperti yang pangeran lihat," kata tuan putri.
"Untung saja luka tidak parah." Pangeran yang keempat melihat.
"Iya hanya luka kecil saja." Pangeran kelima melihat ke arah lutut tuan putri.
"Dasar ceroboh," kata pangeran ketiga.
"Kalian kok bisa datang bersamaan?" Pangeran kedua yang melirik ke arah pangeran ketiga, pangeran keempat dan pangeran kelima.
"Kami bertemu setelah keluar dari hutan," jawab pangeran ketiga.
"Dimana pangeran pertama?" tanya tuan putri.
__ADS_1
"Kami tidak tahu." Mereka menggelengkan kepalannya.
"Apa pangeran pertama belum keluar dari hutan?" tanya pangeran ketiga.
"Belum," jawab pangeran kedua.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya pangeran keempat.
"Sebaiknya kita temui dulu tuan guru," kata pangeran kedua.
"Baiklah kalau begitu," kata pangeran ketiga.
"Kamu jaga tuan putri, kami mau menemui tuan guru terlebih dahulu," kata pangeran empat.
Keempat pangeran tersebut berjalan pergi meninggalkan tuan putri dan Lia yang masih berada disana. Setelah kepergian mereka Ry melihat ke arah lutut tuan putri yang terus saja mengeluarkan darah.
Tuan putri yang terus saja meringis menahan rasa sakitnya. Lia yang merasa tidak tega melihat tuan putri yang meringis kesakitan. Dia berdiri dari jongkoknya lalu dia berdiri di hadapan tuan putri.
"Tuan putri aku pergi mencari obat dulu ya." Lia yang berjalan pergi meninggalkan tuan putri yang hanya duduk sendiri di situ.
Lia yang berjalan ke berkeliling pondo po untuk mencari tanaman tradisonal yang bisa di gunakan untul membantu membuat obat tradisional bagi tuan putri.
Di belakang pondo po Lia menemukan daun singkong. Lia memetik daun singkong dari pohonnya lalu dia membawa setangkai daun singkong. Lia memetik daun singkong agar terpisah dari tangkainya. Daun singkong tersebut terpisah dari tangkainya.
Lia yang sudah berada di dapur mengambil lesung yang kecil, dia memasukkan beberapa lembar daun singkong ke dalam lesung lalu dia menumbuk beberapa daun singkong tersebut ke dalam lesung.
Setelah daun singkong tersebut halus Lia mengambil piring, Lia memasukan daun singkong yang halus ke dalam piring tersebut. Lia berjalan ke arah tuan putri yang berada di halaman pondo po.
Sesampainya Lia di hadapan tuan putri, dia berjongkok di hadapan tuan putri lalu Lia mengangkat rok tuan putri, setelah rok tuan putri terangkat Lia menempel daun singkong kepada kedua lutut tuan putri yang terluka.
"Awww.....sakit." Tuan putri yang meringis kesakitan saat Lia menempel daun singkong kepada dua lutut tuan putri.
"Tahan tuan putri, biar cepat sembuh." Kata Lia.
" Apa yang kamu tempel di lutut aku? tanya tuan putri.
"Itu ramuan untuk memberhentikan darah pada lutut tua putri," kata tuan putri.
"Ramuan ini berasal dari daun apa Lia?" Tuan putri yang terlihat penasaran ama daun yang di jadikan ramuan oleh Lia.
Lia yang terlihat ragu untuk mengatakan ramuan yang dia buat berasal dari daun apa.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1