
"Mengenang atau merelakan adalah sebuah pilihan, namun hidup terus berjalan dengan segala kenyataan."
Pangeran kedua melihat ke arah tuan putri yang sedang menangis histeris di pelukan Lia. Lama-kelamaan suara tangisan tuan putri tidak terdengar lagi, tuan putri yang bergitu terpukul dengan meninggalnya pangeran pertama menyebabkan dia pingsan di dalam pelukan Lia.
Pangeran kedua melihat tuan putri pingsan di pelukan Lia, dia segera berjalan terburu-buru kearah tuan putri dan Lia. Pangeran kedua yang sudah tiba di samping Lia lalu mengendong tuan putri seperti bridel style. Pangeran kedua berjalan sambil mengendong tuan putri, Lia berjalan mengikuti pangeran kedua dan tuan putri.
Di Kamar Tuan Putri
Pangeran kedua sudah membawa tuan putri ke kediamannya, sekarang mereka audah berada di dalam kamar tuan putri. Pangeran kedua meletakan tuan putri di atas tempat tidurnya , tuan putri sudah berbaring di atas tempat tidur.
Pangeran kedua duduk di pinggir tempat tidur tuan putri sambil melihat ke arah tuan putri. Tidak lama kemudian Lia masuk kedalam kamar tuan putri. Lia berjalan menghampiri tuan putri yang sudah berada di atas tempat tidurnya.
"Bagaimana kondisi tuan putri?" Pangeran kedua yang melihat ke arah Lia yang sedang duduk di atas atas tempat tidur.
Lia yang duduk di atas tempat tidur memeriksa pergelangan tangan tuan putri. Lia merasa denyut nadi tuan putri yang begitu lama.
"Kondisi tidak baik," jawab Lia.
"Apa yang harus aku lakukan?" Pangeran kedua yang terlihat begitu khawatir melihat kearah Lia.
"Ambilkan minyak angin di situ." Lia menujukan jarinya ke arah meja yang ada di kamar tuan putri.
"Baiklah." Pangeran kedua berdiri dari tempat duduknya lalu dia berjalan ke arah meja tersebut. Sesampai dia di depan meja tersebut dia melihat satu persatu benda yang ada di meja tersebut.
"Apa pangeran kedua tidak tahu minyak angin itu yang mana?" Lia yang melirik ke arah pangeran kedua yang sedang melihat barang-barang yang berada si atas meja rias tuan putri.
" Iya aku tidak tahu minyak angin itu yang mana, apa kamu bisa memberitahu aku minyak akun itu yang mana?" tanya pangeran kedua.
"Minyak angin botolnya berwarna hijau," kata Lia.
"Yang kanan atau yang kiri?" Pangeran kedua memegang dua botol yang berwarna hijau di tangan kanan dan tangan kirinya.
"Yang kanan, sini botol minyak anginnya pangeran kedua." Lia mengulurkan tangannya ke arah pangeran kedua.
"Nih." Pangeran kedua meletakan kembali botol berwarna hijau yang ada di kiri tangannya di atas meja. Pangeran kedua memberikan botol yang berada di tangan kanannya kepada Lia.
Setelah botol minyak angin berada di tangan Lia, Lia membuka botol minyak angin tersebut di mendekat botol minyak angin tersebut ke dekat hidung tuan putri.
__ADS_1
"Apa itu bisa membuat tuan putri sadar dari pingsannya?" Pangeran kedua yang meragukan bahwa minyak angin tersebut bisa membuat tuan putri sadar.
"Bisa," jawab Lia.
"Aku tidak percaya sebaiknya aku panggil tabit untuk memeriksa keadaan tuan putri." Pangeran kedua yang berjalan meninggal kamar tuan putri.
Di Istana
Jenazah pangeran pertama di mandi kan oleh para pangeran. Para pangeran memandikan jenazah pangeran pertama, setelah selesai memandikan jenazah pangeran pertama para pangeran memasang kain kafan ke badan pangeran pertama.
Para pangeran merasa sedih dengan meninggalnya pangeran pertama, bahkan air mata mereka jatuh saat proses memandikan hingga proses memasangkan kain kafan ke badan pangeran pertama. Setelah selesai pemasangan kain kafan kepada pangeran pertama yang di lakukan oleh para pangeran.
Pangeran pertama di masukan ke dalam keranda yang akan mengakut jenazah pangeran pertama ke mesjid. Para pangeran memikul keranda yang berisi pangeran pertama, para pangeran memikul keranda sambil berjalan kaki ke arah mesjid yang berada tidak jauh dari istana tersebut.
Sesampainya di mesjid tersebut para pangeran membawa masuk keranda yang berisi jenazah pangeran pertama kedalam mesjid. Keranda yang berisi pangeran pertama sudah di letakkan di dalam mesjid.
"Siapa yang akan menjadi imam shalat jenazah?" Pak Kyai yang berada di dekat keranda tersebut.
"Apa di antara para pangeran ada yang mau menjadi imam shalat jenazah?" Raja yang melihat ke arah para pangeran.
"Tidak ada ayahnda raja." Para pangeran tersebut menggelengkan kepalannya melihat ke arah raja.
"Aku tidak bisa menjadi imam shalat jenazah berjamaah." Raja yang menolak menjadi imam untuk shalat jenazah berjamaah.
"Lalu siapa yang akan menjadi imam shalat jenazah berjamaah?" tanya pak Kyai.
"Bagaimana kalau pak Kyai yang menjadi imam shalat jenazah berjamaah?" tanya raja.
"Apakah di antara para pangeran dan raja tidak ada yang mau menjadi imam shalat jenazah berjamaah?" tanya pak Kyai.
"Tidak ada pak Kyai,"jawab mereka serentak.
"Baiklah saya akan menjadi imam shalat jenazah berjamaah," kata pak kyai.
Di Kediaman Tuan Putri
Lia mengoles kan di dekat hidung tuan putri dengan minyak kayu putih.
__ADS_1
"Tuan putri bangun." Lia yang mencoba membangunkan tuan putri yang masih pingsan.
"Bagaimana ini kalau tuan putri tidak bangun-bangun?" Lia yang terlihat khawatir karena tuan putri belum sadar dari pingsannya.
"Tuan putri aku mohon bangun." Lia yang memegang tangan putri. Lia mengelus tangan tuan putri agar dia terbangun dari mimpinya.
Tuan putri mulai membuka kedua matanya dia melihat kearah atap rumahnya.
"Dimana aku?" tanya tuan putri.
"Di kamar tuan putri," jawab Lia.
"Aku mimpi buruk pangeran pertama meninggal dunia." Tuan putri mencoba duduk di atas tempat tidur.
"Tuan putri tidak mimpi tetapi itu kenyatanya." Lia yang membantu tuan putri untuk duduk di atas tempat tidur.
"Apa maksud kamu?" Tuan putri menatap tajam ke arah Lia.
"Pangeran pertama sudah meninggal dunia," kata Lia.
"Tidak, yang kamu katakan itu hanya sebuah kebohongan." Tuan putri berteriak histeris.
"Apa selama ini aku pernah berbohong?" Lia yang menatap tuan putri.
"Tidak." Tuan putri yang menggelengkan kepalannya.
"Apa yang tuan putri rasa kan?" Lia memeriksa denyut nadi tuan putri yang tidak lemah seperti tadi.
"Dimana pangeran pertama?" Tuan putri turun dari tempat tidurnya.
"Mereka akan memakannya di pemakaman istana, tuan putri mau kemana?" Lia turun dari tempat tidur lalu dia menghampiri tuan putri.
" Aku ingin pergi ke pemakaman istana." Tuan putri berjalan ke arah pintu kamarnya.
"Tunggu jangan tuan putri, kondisi tuan putri masih begitu lemah." Lia berjalan terburu- buru menghampiri tuan putri. Lia memegang tangan tuan putri.
"Lepaskan." Tuan putri menepiskan tangan Lia dari tangannya.
__ADS_1
"Baiklah kalau tuan putri mau pergi aku akan ikut bersama tuan putri." Lia yang mengikuti tuan putri berjalan.
...~ Bersambung ~...