Time Travel Lia

Time Travel Lia
Siapa Yang Akan Menjadi Raja Selanjutnya


__ADS_3

"Sempatkan berkomunikasi, jangan siang sibuk malamnya mengantuk."


Pangeran kedua yang berbicara putus-putus sehingga menyebabkan raja tidak dapat mendengar dengan jelas yang pangeran kedua katakan.


"Coba kamu ulangi lagi, yang kamu katakan." Raja menyuruh pangeran kedua untuk mengulangi yang dia katakan.


"Yang pantas menganti ayahnda menjadi raja yaitu tuan putri," jawab pangeran kedua.


"Apa alasan kamu mengatakan bahwa tuan putri pantas menganti kan aku?" tanya raja.


"Di antara kami berempat tuan putri yang memiliki jiwa kepemimpinan, bijaksana dan menyayangi rakyatnya," kata pangeran kedua.


"Apa pendapat pangeran kedua kalau pangeran kedua menggantikan saya?" tanya raja.


"Hamba tidak mampu untuk mengantikan ayahnda raja." Pangeran kedua merasa belum pantas untuk menjadi raja.


"Kenapa kamu berkata kalau tidak mampu?" tanya Raja.


"Karena aku belum mampu untuk bisa menjadi seperti raja yang rakyat inginkan," kata pangeran kedua.


"Aku merasa kamu mampu untuk bisa mengantikan aku sebagi raja di sini," kata pangeran kedua.


"Tidak ayahnda raja, hamba belum merasa mampu dan pantas menjadi raja di kerajaan ini," kata pangeran kedua.


"Aku tidak pernah salah menilai seseorang," kata raja.


"Kenapa ayahnda raja tidak mengangkat tuan putri menjadi ratu di kerajaan kita?" tanya pangeran kedua.


"Para pejabat istana menolak tuan putri menjadi ratu mereka," jawab raja.


"Apa alasan mereka menolak tuan putri menjadi ratu di kerajaan ini?" tanya pangeran kedua.


"Karena tuan putri itu seorang wanita, para pejabat menginginkan seorang raja bukan seorang ratu," kata pangeran kedua.


"Apa yang inginkan oleh para pejabat istana?" tanya pangeran kedua.


"Mereka menyuruh aku untuk memilih salah satu dari keempat pangeran untuk menjadi raja," jawab pangeran kedua.


Malam Harinya........


Tuan putri, Siti dan Lia sudah berada di depan pintu kediaman tersebut raja. Prajurit yang berdiri di depan pintu kediaman raja yang hanya memperolehkan tuan putri untuk masuk kedalam kediaman raja.


Prajurit yang menjaga pintu kediaman raja, lalu dia membukaan pintu kediaman raja agar tuan putri bisa berjalan masuk kedalam kediaman raja.


Di Dalam Kamar Raja


Tuan putri yang sudah berada berada di dalam kamar raja. Tuan putri melihat ke arah raja dan ratu yang berada di dalam kamar tersebut. Raja yang sedang duduk di atas tempat tidur sedangkan ratu duduk di pinggir tempat tidur.

__ADS_1


"Ayahnda raja dan ibunda ratu." Tuan putri menghampiri raja dan ratu, tuan putri yang sudah berada di samping tempat tidur raja lalu tuan putri menyalim punggung tangan raja dan ratu secara bergantian.


"Tuan putri," kata ratu.


"Bagaimana kabar ayahnda raja dan ibunda ratu?" tanya tuan putri.


"Kondisi aku semakin hari semakin memburuk," jawab raja.


"Apakah itu benar ibunda ratu?" tanya tuan putri.


"Iya tuan putri." Ratu yang wajahnya terlihat sedih.


"Sebenarnya ayahnda raja sakit apa?" Tuan putri melihat ke arah raja yang sedang duduk di atas tempat tidur, tuan putri merasa sedih melihat badan raja yang terlihat begitu kurus dan pucat.


"Tidak tahu tahu tuan putri." Ratu yang menggelengkan kepalannya.


"Apa tabit belum memeriksa kondisi raja?" tanya tuan putri.


"Sudah," jawab raja.


"Apa tabit tidak mengetahui penyakit raja?" tanya tuan putri.


"Tidak," jawab raja.


"Bagaimana mungkin tabit istana tidak mengetahui penyakit raja?" Tuan putri merasakan hal yang mencurigakan, dia ingin menyelidiki tentang penyakit raja.


"Setiap aku bertanya tentang penyakit aku maka dia akan menjawab tidak tahu," kata raja.


"Itu tidak perlu tuan putri." Tuan putri yang memiliki keinginan untuk mengantikan tabit istana dengan orang-orang yang bisa dipercaya oleh tuan putri.


"Baiklah lah kalau ayahnda raja tidak mau menganti tabit istana," kata tuan putri.


"Sudah tidak usah di bahas lagi," kata ratu.


"Ada apa ayahnda raja menyuruh hamba ke sini?" tanya tuan putri.


"Ada yang ingin aku tanyakan langsung kepada tuan putri," jawab raja.


"Apa yang ingin ayahnda raja tanyakan kepada hamba?" tanya tuan putri.


"Menurut pendapat kamu siapa yang pantas mengantikan aku menjadi raja?" tanya raja.


"Apakah benar isu yang beredar di istana bahwa ayahnda raja akan turun tahta?" tanya tuan putri.


"Benar," jawab raja.


"Ayahnda raja turun tahta pasti disebabkan oleh kondisi kesehatan ayahnda raja yang semakin menurun," kata tuan putri.

__ADS_1


"Bagaimana kamu bisa tahu semua itu?" tanya ayahnda raja.


"Aku ini anak ayahnda raja, sudah pasti aku mengetahui hal-hal yang ayahnda rasakan." Tuan putri yang merasa sedih melihat semua yang terjadi kepada raja.


"Hanya kamu anak yang paling mengerti dengan kondisi aku," kata tuan putri.


"Apa ayahnda merasa bingung untuk memilih di antara ke empat pangeran tersebut mengantikan ayahnda menjadi raja?" tanya tuan putri.


"Iya, maka dari itu aku bertanya kepada kamu. Siapa yang pantas mengantikan aku menjadi raja di antara ke empat pangeran tersebut?" tanya raja.


"Pangeran kedua," jawab tuan putri.


"Apa alasannya tuan putri?" tanya raja.


"Pangeran kedua memiliki rasa kepedulian yang lebih tinggi di bandingkan para pangeran lainnya, dia juga bisa melindungi orang lain sehingga aku merasa yakin bahwa dia bisa melindungi kerajaan ini," kata tuan putri.


"Jadi itu alasan kamu memilih pangeran kedua untuk mengantikan aku menjadi raja," kata raja.


"Iya, tapi itu hanya pendapat aku ayahnda raja. Menurut ayahnda raja siapa yang pantas mengantikan ayahnda menjadi raja?" tanya tuan putri.


"Aku masih bingung," jawab raja.


"Ayahnda raja tidak usah terlalu memikirkannya.Yang terpenting saat ini kesehatan ayahnda raja," kata tuan putri.


"Apa ayahnda raja sudah minum obat?" tanya tuan putri.


"Belum," jawab raja.


"Kenapa ayahnda raja belum minum obat?" tanya tuan putri.


"Ibunda ratu belum menyedukan ramuan untuk ayahnda raja," jawab ratu.


"Mana ramuan untuk ayahnda raja? biar aku yang sedu." Tuan putri mengulurkan tangannya ke arah ratu.


"Ambil di atas meja." Ratu menujukkan jarinya ke arah meja.


"Iya ibunda ratu." Tuan putri berjalan ke arah meja yang ada di pojok sudut kanan.


Setelah melihat raja minum ramuan dari tabit istana tuan putri pulang ke kediamannya. Di dalam kamar raja tinggalah raja dan ratu yang sedang duduk di atas tempat tidur. Raja sedang duduk sambil memikirkan perkataan pangeran kedua dan tuan putri.


"Apa yang sedang raja pikirkan?" Ratu yang melihat ke arah raja, raja yang sedang duduk sambil melamun.


"Raja." Ratu memegang bahunya raja.


"Iya." Raja yang tersadar dari lamunannya.


"Apa yang sedang raja pikirkan?" tanya ratu.

__ADS_1


"Dari keempat pangeran tersebut, siapakah yang bisa mengantikan aku sebagai raja?" tanya raja.


...~ Bersambung ~...


__ADS_2