
"Rasa-rasanya dunia aku sedang sangat melelahkan untuk di jalanin, ada saja keadaan yang berhasil menguras batin dan air mata. Ah aku kembali ingat bahwa manusia tidak akan pernah luput dari rasa kecewa."
Dari kejauhan Lia dan Siti melihat ke arah tuan Putri yang sedang duduk di depan kediaman ibunda. Lia melihat tuan putri begitu sedih juga ikut merasakan kesedihan yang tuan Putri alami. Sehingga tanpa sadar air mata Lia juga berjatuhan.
Siti yang juga melihat ke arah tuan Putri juga merasakan hal yang sama. Tetapi Siti tidak meneteskan air matanya melainkan hanya wajahnya saja yang terlihat sedih. Siti menoleh ke arah Lia, dia terkejut saat menoleh ke arah Lia. Siti selama ini tidak pernah melihat Lia menangis dari saat pertama kali mereka bertemu.
Tetapi sekarang Siti melihat Lia begitu sedih sampai ari mata Lia menetes membasahi wajahnya.
"Kamu kenapa menangis?"Siti yang memegang tangan Lia.
" Siapa yang menangis?"Lia yang menyadari air matanya menetes dia segera mengelap air matanya dengan menggunakan lengan bajunya.
"Hele ngaku aja tadi kamu nagiskan?" Siti yang mendesak Lia agar mengaku bahwa dia tadi sedang menangis.
"Iya tadi aku nangis." Lia yang menyadari bahwa dari tadi Siti sudah memperhatikan dia. Sehingga Lia memilih untuk berbicara jujur kepada Siti.
"Kamu nangis pasti gara-gara ngelihat tuan putri bersedih, benar begitu kan?" tanya Siti.
"Salah tidak begitu."Lia mengelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa kamu menangis?"tanya Siti.
"Aku menangis karena kelilipan." Lia mencoba memberikan alasan kepada Siti.
"Mata kamu kelilipan apa?" tanya Siti.
"Kelilipan debu,"jawab Lia.
" Aku tidak percaya pasti ini cuma bualan (omongan) kamu aja." Siti yang tidak mempercayai perkataan Lia.
"Itu terserah kamu." Lia yang terlihat cuek lalu doa berjalan pergi meninggalkan Siti yang masih berdiri sambil melihat ke arah Lia.
"Kamu mau kemana?" tanya Siti.
__ADS_1
"Terserah aku mau kemana, apa pedulimu pada aku?" Lia yang berbicara dengan ketua tanpa menoleh ke arah Siti.
Esok anda Harinya........
Setelah memastikan ibunda tertidur dengan pulas tuan putri melangkahkan kaki dengan hati_ hati dan pelan. Tuan putri tidak ingin menimbulkan suara saat melangkahkan kakinya meninggal kamar ibunda. Tuan putri sudah berada di depan pintu kamar lalu dia membuka pintu kamar dengan pelan-pelan agar tidak menimbulkan bunyi.
Setelah pintu kamar terbuka tuan putri berjalan melewati pintu kamar dengan langkah kaki yang pelan. Tuan putri yang sudah berada di luar kamar merasa legah karena sudah keluar dari kamar ibunda. Tuan putri menutup pintu kamar dengan hati- hati.
Tuan putri berjalan meninggal keluar rumah, tuan putri sudah berada di depan kediaman ibunda. Tuan putri melihat ke arah langit, malam ini langit tampak indah karena banyak bintang-bintang yang bertaburan di langit. Di langit juga ada bulan yang berbentuk bulat,ketika bulan berbentuk utuh bulat seperti itu maka di sebut bulan purnama.
Tuan putri menatap bulan purnama yang tampak begitu indah. Saat Tuan Putri begitu asik menatap bulan purnama sembil memikirkan kondisi ke sehat ibunda yang semakin menurun.
Kediaman Para Dayang
Malam ini Lia merasa udara begitu panas sehingga membuat dia tidak bisa tidur. Lia memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Sekarang Lia sudah berada di depan kediaman para Dayang tapi Lia masih merasakan udara panas.
Lia merasa malam ini begitu terang benderang karena sinar bulan purnama menghiasi bumi. Lia yang merasa gerah karena tidak ada angin di depan kediaman para Dayang. Lia memutuskan untuk mencari angin. Malam ini Lia berani untuk berjalan-jalan mencari angin.
Saat berjalan Lia memutuskan untuk berjalan ke arah halaman belakang istana. Lia ingin duduk di gazebo yang berada di halaman belakang istana. Lia terus berjalan sambil memandang bulan purnama yang begitu indah. Sehingga dia tidak sadar menabrak badan seorang.
"Aduh." Lia merasakan sakit saat keningnya menabrak dada seorang.
"Makanya kalau jalan itu lihat ke depan," kata si pria tersebut.
"Udah jelas kalau jalan itu lihat kedepan buka kebelakang." Lia yang tidak mau kalah dengan si pria itu.
"Kamu kalau ngomong itu lihat ke wajah orang yang di ajak ngomong," kata si pria tersebut.
"Iya ini aku lihat Kamu." Lia menangkat wajahnya lalu dia melihat ke arah si pria tersebut.
"Masih berani kamu manggil aku dengan sebutan kamu?" si pria tersebut melihat ke arah Lia.
"Ampuni hamba baginda raja." Setelah Lia mengetahui bahwa si Pria yang di tabrak nya itu raja, dia mulai merasa takut maka segera lah dia meminta ampun kepada raja.
__ADS_1
"Aku akan mengampuni kamu dengan satu syarat," kata raja.
"Apa syarat nya baginda raja?" Lia yang berdoa di dalam hatinya agar syarat yang si berikan oleh Raja tidak terlalu sulit untuk dirinya.
"Nantik akan aku katakan, kamu ikut aku sekrang. " Raja memegang tangan Lia lalu dia menggandeng tangan Lia sambil berjalan.
"Kita mau kemana Raja?" Lia yang terus saja mengikuti langkah kaki Raja.
"Sudah diam tidak usah banyak tanya." Raja menyuruh Lia untuk diam tidak usah bertanya.
"Baiklah, tapi baginda raja tidak perlu menarik tangan hamba segala." Lia mencoba melepaskan tangannya yang masih si gandeng oleh Raja.
"Perlu agar kamu mengikuti aku." Raja semakin kuat memegang tangan Lia.
"Emang Baginda tidak merasa malu menggandeng tangan seorang dayang?" Lia merasa Raja begitu kuat memegang tangan nya.
"Kenapa aku harus malu menggandeng tangan kamu?" Raja yang bertanya balik kepada Lia.
"Baginda Raja itu seorang raja di kerajaan ini tidak sepantasnya seorang raja menggandeng tangan seorang dayang rendah seperti hamba raja." Lia menjelaskan kepada raja tentang perbedaan mereka. Lia hanya seorang pelayan itupun Lia tidak memiliki asal usul yang jelas, sehingga banyak orang-orang yang tidak menyukai Lia .
"Aku tidak peduli dengan pendapat orang lain Lia." Raja memberitahukan kepada Lia dia tidak memperdulikan apa yang orang katakan dengannya.
"Hamba hanya tidak ingin besok gosip tentang hamba dan baginda Raja, hamba tidak ingin mereka berpikir bahwa kita menjalin hubungan," kata Lia.
"Bagaimana kalau kita buat itu bukan hanya sebuah gosip melainkan kenyataan?" Raja berhenti berjalan lalu Raja melihat ke arah Lia. Lia begitu tampak cantik di bawah sinar bulan.
"Apa hamba tidak salah dengar dengan yang baginda Raja katakan?" Lia menatap wajah baginda Raja.
"Yang kamu dengar itu benar." Raja yang menatap mata Lia penuh tatapan yang begitu mendambakan.
"Hahahha, becanda baginda gak lucu." Lia yang tidak percaya lalu dia tertawa di hadapan Raja.
"Apa wajah aku terlihat bercanda, aku ingin kamu menjadi permaisuri aku?" tanya Raja.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...