
"Entah kamu atau maut yang lebih dulu di pertemuankan dengan aku, tetapi semoga ketika waktunya tiba natik aku sudah siap."
Lia meletakan telapak tangan di kening si laki- laki tersebut. Lia merasa panas di kening si. laki - laki tersebut. Kemudian Lia mengeluarkan termometer dari dalam tasnya.
Lia memulai membuka kancing baju si laki-laki tersebut. Si laki-laki tersebut terbangun lalu membuka matanya. Betapa terkejut saat melihat seorang wanita yang sedang membuka kancing kemejannya.
"Kamu ngapain buka kemeja aku?"Si laki-laki tersebut memegang tangan Lia.
"Gue mau periksa lu, jadi lepaskan tangan lu dari gue," kata Lia.
"Biarkan adek saya periksa keadaan pak dulu." Anton yang berdiri di samping Lia, melihat ke arah bosnya yang lagi berbaring di atas tempat tidur.
"Baiklah." Si laki-laki tersebut melihat ke arah wanita tersebut yang sudah membuka kemejanya.
"Nih lu jepit dulu di ketiak."Lia meletakan termometer di ketiak si laki-laki tersebut. Lia mengambil teleskopnya dari dalam tas.
Tiiit.....Tiiit
Termometer tersebut berbunyi lalu Lia mengambil termometer tersebut dari ketiak si laki-laki tersebut. Lia melihat termometer suhu tubuh si laki-laki tersebut 39°C.
"Apa yang kamu lihat?" Anto melihat ke arah termometer yang Lia pegang.
"Termometer," jawab Lia.
"Apa kegunaan alat itu?"tanya Anton.
"Untuk mengecek suhu tubuh," jawab Lia.
__ADS_1
"Bagaimana suhu tubuh pak bos?" tanya Anton.
"Suhu panas di tubuhnya tinggi 39°C," jawab Lia.
"Terus bagaimana ini?" Anton yang wajah terlihat panik.
Lia memeriksa si laki-laki tersebut menggunakan teleskop.
"Apa yang lu rasain?"Lia yang melihat ke arah perut si laki-laki tersebut. Perut laki-laki tersebut kotak-kotak dan berotot benar-benar benar mirip roti sobek.
"Kepala aku pusing." Si laki-laki yang melihat ke arah Lia yang sedang fokus melihat perutnya.
"Hmmmm." Anton yang sengaja berdehem melihat Lia yang fokus ke perut pak bosnya.
"Selain itu apa lu ada keluhan lagi?"Lia yang menyadari bahawa si laki-laki tersebut memperhatikan dia yang sedang fokus melihat perut si laki-laki lalu buru-buru mengalihkan wajah ke arah lain.
"Sebenarnya pak bos aku aku sakit apa?"tanya Anton.
"Kalau dari gejalanya dia sakit demam," kata Lia.
"Terus aku harus apa?" tanya Anton.
"Lu kompres dia mengunakan air hangat, suruh dia perbanyak minum air putih.
"Ya udah kalau gitu aku ambil air hangat buat kompres pak bos." Anton yang berjalan meninggalkan Lia dan pak bos.
"Kamu udah selesai memeriksa aku?"tanya si laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Udah," jawab Lia.
Si laki-laki merubah posisinya menjadi duduk di atas tempat tidur lalu dia mulai memasang kancing bajunya. Lia membuka tas nya lalu mengambil obat parasetamol (obat penurun demam).
"Nih obatnya lu minum." Lia memberikan obat parasetamol ama si laki-laki tersebut.
"Aku gak mau pasti pahit rasanya," kata si laki-laki.
"Lu begog ya mana ada obat itu rasa manis pasti pahit," kata Lia.
"Ada obat anak-anak yang sirup rasa jeruk dan stowbery manis," kata laki-laki tersebut.
"Ya itukan buat anak-anak lu mah udah tuwir." Lia yang gak habis pikir ama kelakuan bos Anton yan udah tua tapi mirip bocil (bocah cilik)
"Tapi aku gak bisa minum obat kayak gini." Si laki-laki tersebut tidak bisa minum obat pil (tablet).
"Apa susah sih tinggal masukin aja tuh obat kedalam mulut lalu telan terus minum air putih satu gelas." Lia yang terlihat kesal menghadapi si laki-laki tersebut.
Anton datang membawa mangkok yang berisi air hangat dan sapu tangan. Anton menyuruh bosnya untuk berbaring di atas tempat tidur lalu Anton mengompres kening bosnya dengan sapu tangan.
"Abang anton itu obat dia." Lia menujukan jarinya ke arah tempat tidur.
"Bagaimana aturan minumnya?"Anton melihat ke arah Lia.
"Sesudah makan 3 × sehari, kalau gitu gue pamit pulang dulu." Lia berjalan pergi meninggalkan Anton dan laki-laki tersebut.
...~Bersambung~...
__ADS_1