
"Semakin lurus niatnya, semakin kencang cobaannya."
Esokan Harinya.....
Pagi ini Lia sudah datang lebih awal, Lia sudah berada di depan pintu kamar tuan putri. Lia mengetuk pintu kamar tuan putri sebanyak 3 kali tetapi tidak ada jawaban dari tuan putri sehingga Lia membuka pintu kamar tuan putri.
Lia masuk ke dalam kamar tuan putri, Lia melihat tuan putri yang masih tertidur di atas tempat tidur.
"Tuan putri bangun."
"Tuan putri ini sudah siang." Lia membuka jendela kamar tuan putri agar cahaya matahari masuk.
Biasa saat jendela kamar tuan putri di buka maka tuan putri akan terbangun setelah terkena cahaya sinar matahari. Setelah membuka jendela kamar tuan putri Lia membalikan badan melihat ke arah tempat tidur.
Lia melihat tuan putri masih berada di atas tempat tidur. Lia merasa bingung karena tidak seperti biasanya tuan putri masih tertidur setelah jendela kamarnya dibuka. Bahkan cahaya matahari sudah masuk ke dalam kamar.
"Tuan putri bangun." Lia menghampiri tuan putri yang masih tertidur di atas tempat.
Lia sudah berdiri di pinggir tempat tidur lalu dia memegang tangan tuan putri.
"Ahh, panas." Lia merasa tangan tuan tuan putri panas.
"Tuan putri seperti demam." Lia yang meletakan telapak tangannya di atas kening tuan putri.
"Hmmmm." Tuan putri yang merasa ada tangan yang menyentuh keningnya lalu mulai membuka kedua matanya.
"Tuan putri sudah bangun?" Lia yang menarik tangannya dari kening tuan putri.
"Iya, panggilankan tabit suruh kemari." Tuan putri melihat ke arah Lia.
"Baikalah tuan putri." Lia berjalan buru-buru meninggalkan kamar tuan putri.
Saat Lia hendak membuka pintu kediaman tuan Putri maka saat yang bersamaan Siti juga ingin masuk ke dalam kediaman tuan putri. Lia dan Siti berpapasan di depan pintu kediaman tuan putri.
"Apa kamu bisa panggilkan tabit?" tanya Lia.
"Siapa yang sakit?" tanya Siti.
"Tidak usah banyak tanya sebaiknya kamu panggil tabit sekarang ini perintah tuan putri." Lia yang berbicara dengan tegas ama Siti.
"Baiklah katakan kepada tuan putri aku akan membawa tabit segera ke sini." Siti yang berjalan pergi meninggalkan istana untuk menjemput tabit.
Lia masuk kembali kedalam kediaman tuan putri.
Brak....Brak.
Lia yang menutup kembali pintu kediaman tuan putri dengan suara yang kencang membuat beberapa dayang yang berada di depan kediaman mulai terkejut mendengar suara pintu ya g tertutup dengan kuat.
__ADS_1
Lia sudah kembali kedalam kamar tuan putri. Lia melihat tuan putri yang masih berbaring di atas tempat tidur.
"Apa kamu sudah menyuruh dayang untuk memanggil tabit ke sini?" Tuan putri yang berbicara dengan suara yang lemah.
"Siti yang pergi menjemput tabit tuan putri, apa ada butuh sesuatu tuan putri?" tanya Lia.
"Tidak," jawab tuan putri.
Lia mengambil cangkir yang berada di atas meja lalu dia menuangkan air putih dari dalam gendi ( teko) ke cangkir. Setelah cangkir terisi oleh air putih Lia meletakkan kembali gendi itu ke atas meja.
Lia berjalan membawa secangkir air putih ke arah tempat tidur tuan putri. Lia sudah berada di samping tempat tidur tuan putri.
"Tuan putri sebaiknya minun dulu," kata Lia.
"Aku tidak haus," kata tuan putri.
"Tuan putri minumanlah air ini walaupun sedikit." Lia mencoba membujuk tuan putri untuk minum.
"Baiklah aku akan minum." Tuan putri yang berusaha untuk duduk di atas tempat tidur di bantu oleh Lia. Setelah tuan putri duduk maka dia meminum sedikit air dari dalam secangkir tersebut.
"Apa yang tuan putri rasakan?" Lia mengambil secangkir dari tangan tuan putri.
"Kepala aku terasa pusing, aku mau kembali tidur." Tuan putri yang kembali berbaring diatas tempat tidurnya.
"Sebaiknya tuan putri istirahat, aku akan mengambil air untuk mengompres tuan putri." Lia berjalan meninggalkan tuan putri.
Lia yang sudah berada di dalam kamar tuan putri mulai bingung. Lia sudah membawa air untuk mengompres tuan putri tetapi Lia tidak mempunyai sapu tangan.
"Tuan putri." Lia yang menghampiri tuan putri masih berada di atas tempat tidur.
"Hmmmm," kata tuan putri.
"Apakah aku boleh meminta sedikit kain tuan putri?" tanya Lia.
" Boleh, ambil saja di dalam lemari kayu," kata tuan putri.
"Baik tuan putri, aku hanya meminta sedikit saja." Lia berjalan ke arah lemari kayu yang berada di pojok kamar tuan putri.
Lia yang berada di depan lemari kayu yang memiliki 2 pintu lalu membuka ke 2 pintu lemari tersebut. Lia melihat kain panjang dari dalam rak lemari kayu. Lia merobek sedikit kain panjang tersebut lalu Lia meletakkan kembali kain panjang ke dalam lemari pakaian.
Kain yang Lia robek tersebut lalu dia masuk ke dalam mangkok yang berisi air hangat. Lia memeras kain tersebut lalu meletakan kain tersebut ke atas kening tuan putri.
"Ini apa Lia?" Tuan putri yang memegang kain yang berada di keningnya.
"Aku sedang mengompres tuan putri jadi biarkan kain tersebut berada di atas kening tuan putri," kata Lia.
" Kenapa mengunakan kain? biasanya tabit akan mengompres mengunakan daunan," kata tuan putri.
__ADS_1
"Aku bukan tabit tuan putri, kalau di tempat asal aku sana kalau kami panas tinggi (Demam) seperti yang tuan putri alami maka kami mengompres mengunakan kain yang di masukkan ke dalam air hangat yang berada di dalam mangkok.
2 Jam Kemudian......
Tak.......
Tak......
Tak......
Siti melangkah kakinya ke arah pintu kamar tuan putri. Siti yang sudah berdiri di depan pintu kamar tuan putri.
Tok.....Tok....Tok
"Tuan putri ini Siti," kata Siti.
"Silahkan masuk Siti," jawab Lia.
Ceklek.....Cekle
Siti berjalan masuk ke dalam kamar tuan putri, Siti melihat tuan putri yang masih berbaring di atas tempat tidur sedangkan Lia duduk di pinggir tempat tidur. Lia melihat ke arah Siti yang berjalan masuk sendiri kedalam kamar.
"Kenapa kamu sendiri, mana tabit?" tanya Lia.
"Maafkan hamba tuan putri." Siti yang berlutut di lantai kamar.
"Kenapa kamu minta maaf Siti?" tanya Lia.
"Hamba sudah pergi ke rumah tabit tetapi tabit tidak ada di rumah." Siti yang menundukkan kepalanya.
"Kamu gak perlu minta maaf berarti itu bukan salah kamu," kata Lia.
"Sebenarnya kenapa tuan putri memanggil tabit?" tanya Siti.
"Aku sedang sakit, maka aku membutuhkan tabit untuk menyembuhkan penyakit aku," jawab tuan putri.
"Maafkan hamba tidak tahu kalau tuan putri sakit." Siti yang wajah terlihat sedih.
...~ Bersambung ~...
Hai Guys
Mampir ke karya Ry yang baru berjudul
Perjuangan Ucup
__ADS_1