Time Travel Lia

Time Travel Lia
Di Makamkan


__ADS_3

"Kita adalah dua tokoh yang abadi di dalam novel masing-masing, kau dengan bahagia kamu. Dan aku dengan ketidak mampuan aku melupakan kamu."


Setelah melakukan shalat jenazah, para pangeran membawa berjalan sambil memikul keranda yang berisi pangeran pertama. Mereka berjalan sambil memikul keranda pangeran pertama, mereka berjalan memikul keranda tersebut ke arah pemakaman istana.


Para pangeran telah sampai di pemakaman istana, mereka berjalan ke arah sebuah kuburan yang baru saja di gali di pemakaman tersebut. Sesampai mereka di sebuah kuburan tersebut lalu mereka menurunkan keranda tersebut.


Tuan putri dan Lia berjalan buru-buru ke arah pemakaman istana, mereka berjalan melewati jalan pintas agar cepat sampai di pemakaman istana. Tuan putri dan Lia berjalan terburu-buru ke arah pemakaman istana.


Di pemakaman istana terlihat begitu ramai, seluruh rakyat kerajaan Rokan, para pejabat istana, beberapa raja dari kerajaan lain dan para anggota kerajaan sudah berada di pemakaman tersebut.


Mereka ingin melihat proses pemakaman pangeran pertama. Semua yang sudah berada di pemakaman tersebut tampak sedih dan menagis saat melihat jenazah pangeran pertama yang di masukan ke dalam kuburan.


Tuan putri dan Lia sudah sampai di pemakaman istana, mereka kesulitan untuk bisa berjalan ke arah tempat pangeran pertama akan di kuburkan. Terlalu banyak orang yang berada di pemakaman istana, sehingga tuan putri dan Lea sulit berjalan ke arah pangeran pertama akan di kuburkan.


"Awas minggir tuan putri mau lewat." Lia yang berteriak kepada semua orang yang berada di pemakaman istana.


Mereka yang mendengar teriakan Lia lalu menoleh ke arah tuan putri dan Lea. Mereka yang mengetahui tuan putri dan Lia ingin lewat sehingga mereka segera menggeserkan badannya memberikan jalan kepada tuan putri dan Lea agar bisa melewati mereka.


Tuan putri dan Lia berjalan terburu-buru ke arah kuburan pangeran pertama. Tuan putri dan Lia sudah berada di dekat kuburan pangeran pertama tapi mereka kesulitan untuk berjalan mendekati kuburan tersebut karena terlalu banyak orang-orang yang berkerumunan di dekat kuburan tersebut.


"Kalian semua minggir tuan putri mau lewat." Lia yang berteriak agar orang-orang yang berkerumun tersebut melihat ke arah dia lalu mereka menggeserkan badannya supaya tuan putri dan Lia bisa berjalan mendekati kuburan pangeran pertama.


Semua orang-orang yang berkerumunan di di dekat kuburan tersebut menoleh ke arah suara Lia. Mereka melihat tuan putri dan Lia yang sudah berada di antara mereka.

__ADS_1


"Saya mau lewat jadi tolong kalian berikan saya jalan." Tuan putri melihat ke arah semua orang -orang yang berkerumunan di dekat kuburan pangeran pertama.


"Tuan putri silahkan lewat." Semua orang-orang yang berkerumun di dekat kuburan pangeran pertama menggeser badannya sehingga tuan putri dan Lia bisa berjalan ke arah kuburan pangeran pertama.


"Baiklah, terimakasih." Tuan putri berjalan terlebih dahulu melewati kerumunan orang-orang yang berada di dekat kuburan pangeran pertama. Lia berjalan di belakang tuan putri, tuan putri terlebih dahulu tiba di dekat kuburan pangeran pertama.


Tuan putri dan Lia melihat ke arah kuburan pangeran pertama. Jenazah pangeran pertama sudah masuk kedalam kuburan tersebut. Para pangeran mulai menutup kuburan pangeran pertama dengan mengunakan tanah.


Setelah selesai menguburkan jenazah pangeran pertama mereka melakukan pembacaan doa yang di pimpin oleh pak kyai. Setelah selesai membacakan doa mereka menaburkan bunga di atas tanah kuburan pangeran pertama.


Semua orang-orang yang berkerumunan di kuburan tersebut mulai berpamitan kepada Raja. Saat mereka berpamitan mengucapkan rasa bela sungkawa terhadap meninggalnya pangeran pertama kepada raja. Mereka mengatakan kepada raja untuk sabar dan ikhlas menghadapi semuanya. Raja hanya bisa mengangguk kepala kepada mereka.


Setelah itu mereka mulai pergi meninggalkan pemakaman istana. Di kuburan pangeran pertama hanya tinggal keluarga kerajaan, mereka masih sedih dengan meninggalnya pangeran pertama.


"Ayo kita semua kembali ke istana!" Raja mengajak seluruh anggota kerajaan untuk pulang ke istana.


"Baiklah kalau kalian masih ingin di sini, ayo kita pulang ratu dan ketiga selir!" Raja mengajak ratu dan ketiga selirnya.


"Maaf raja hamba masih ingin disini bersama tuan putri dan para pangeran." Ratu yang menolak untuk pulang keistana bersama raja.


"Baiklah kalau ratu masih ingin di sini, apa kalian bertiga akan pulang bersama aku?" Raja melihat ke arah ketiga orang selir tersebut.


"Kami akan ikut dengan raja," kata ketiga selir dengan serentak.

__ADS_1


"Kalau begitu kami pulang dulu," kata raja.


"Iya, hati-hati raja." Ratu menyalim punggung tangan raja. Setelah itu para pangeran bergantian menyalim punggung tangan raja. Yang terakhir tuan putri menyalim punggung tangan ayah.


Setelah menyalim punggung tangan raja, para pangeran dan tuan putri menyalim punggung tangan ketiga selir tersebut secara bergantian. Setelah itu raja dan ketiga selir tersebut berjalan meninggalkan pemakaman istana.


Ratu, para pangeran dan tuan putri masih menangis ambil berjongkok di samping kuburan pangeran pertama. Mereka masih bersedih dengan nasib yang menimpa pangeran pertama. Mereka belum bisa mengikhlaskan pangeran pertama telah meninggal dunia.


Mereka menangis di samping kuburan pangeran pertama. Lia yang memperhatikan para pangeran, ratu dan tuan putri yang masih saja menangis di samping kuburan pangeran pertama.


"Ratu, para pangeran dan tuan putri aku turut berduka cita atas meninggalnya pangeran pertama. Aku tahu kalau kalian semua pasti merasa sedih kehilangan pangeran pertama tapi kalian tidak boleh larut dalam kesedihan karena itu akan membuat pangeran pertama merasa tidak senang di sana." Lia yang memegang tangan tuan putri, dia sengaja melakukan itu agar tuan putri merasa lebih kuat.


"Apa kamu perah merasakan kehilangan anggota keluarga?" Pangeran ketiga melihat ke arah Lia.


"Pernah, saat kehilangan kakek aku. Aku sekeluarga merasakan seperti yang kalian rasakan. Pak Ustad menasehati kami supaya tidak larut dalam kesedihan karena itu membuat kakek aku merasa tidak tenang disana. Pak Ustad menyuruh kami sekeluarga untuk mengikhlaskan kepergian kakek," kata Lia.


"Alah kalau kakek kamu meninggal dunia itu wajar karena kakek kamu sudah bauk tanah pantas meninggal dunia," kata pangeran ketiga.


"Ingat pangeran ketiga setiap orang yang bernyawa pasti akan meninggal dunia, kita semua pasti akan meninggal dunia. Kita hanya menunggu giliran untuk di panggil menghadap kepada Allah swt," kata Lia.


"Benar apa yang di katakan dia, tangisan kita hanya akan membuat pangeran pertama di siksa di dalam sana, lebih baik kita mengikhlaskan pangeran pertama biar dia tenang di alam sana," kata pangeran kedua.


"Sekarang yang bisa kita lakukan hanya terus mendoakan agar pangeran pertama di ampunkan dosanya lalu di ringankan dari siksaannya," kata Lia.

__ADS_1


"Aamiin," kata para pangeran serentak.


...~Bersambung~...


__ADS_2