
"Kejamnya manusia adalah ketika seribu kebaikan yang kita lakukan akan sirna hanya dengan satu kesalahan."
Mereka bertiga dengan sekuat tenaga menarik pancing tersebut.
"Ini pasti besar ikannya pak," kata seorang karyawan tersebut.
"Kayak gitu sih, biar entar malam kita bakar terus makan bersama," kata si pria tersebut.
"Pak ayo kita serentak menariknya dengan hitungan 123." Seorang karyawan tersebut memberikan aba-aba kepada si pria tersebut dan si temannya saat hitungan ketiga mereka menarik serentak pancing tersebut.
Akhirnya pancing tersebut tertarik sesuatu yang berasal dari dasar sungai tersebut keluar. Mereka lalu mengambil sesuatu itu dengan mengunakan jaring. Setelah itu mereka mengangkat jaring tersebut ke dalam perahu.Saat mereka membuka jaring tersebut mereka terkejut menemukan badan seorang wanita.
"Ahahah ini pasti mayat seorang wanita yang tengelam di sungai." Seorang karyawan tersebut berteriak histeris saat melihat badan seorang wanita yang berada di jaring tersebut.
"Seperti ini bukan mayat." Si pria tersebut mendekati badan si wanita tersebut yang berada di jaring.
"Aku yakin itu mayat, pak periksa saja kalau tidak percaya," kata seorang karyawan tersebut.
"Baiklah aku akan memeriksa si wanita ini." Si pria tersebut berjongkok di sebelah wanita tersebut lalu dia memeriksa nafas si wanita tersebut dan dia juga memeriksa nadi si wanita tersebut.
"Apa dia mayat pak?" tanya seorang karyawan lagi.
"Tidak, dia masih hidup." Si pria tersebut mencoba melakukan pertolongan pertama agar si wanita tersebut sadar.
"Dari mana pak tahu dia masih hidup?" tanya seorang karyawan tersebut.
"Deyut nadinya." Si pria tersebut masih menekan dada si wanita tersebut dengan menggunakan tangannya.
"Pak kasih nafas buatan saja." Seorang karyawan lainnya memberikan ide kepada si pria tersebut untuk melakukan nafas buatan ke si wanita tersebut.
"Baiklah akan saya coba." Si pria tersebut mulai mendekati bibirnya ke arah bibir si wanita tersebut, Setelah bibir mereka saling menempel si pria tersebut memberikan nafas buatan kepada si wanita tersebut agar dia sadar. Setelah memberikan nafas buatan melalui bibir si wanita tersebut. Si pria tersebut melepaskan bibirnya dari bibir wanita tersebut.
"Uhuk uhuk uhuk." Si wanita tersebut membuka kedua matanya lalu dia terbatuk-batuk mengeluarkan air dari dalam mulutnya.
"Akhirnya kamu sadar juga." Si pria tersebut membantu si wanita tersebut untuk duduk di atas kapal.
"Dimana aku?" Lia yang melihat ke arah sekeliling tempat tersebut.
__ADS_1
"Kamu berada di atas perahu aku," jawab si pria tersebut.
"Apakah kita sedang berada di atas sungai Rokan?" tanya si wanita.
"Iya, kamu kenapa bisa ada di dalam sungai tersebut?" tanya si pria tersebut.
"Panjang kalau aku ceritakan kepada kamu," jawab si wanita tersebut.
"Siapa nama kamu?" tanya si pria tersebut.
"Lia, nama kamu siapa?" tanya Lia.
"Eril, kamu tinggal dimana?" tanya Eril.
"Aku tinggal di desa Rokan Hilir, apa kamu tahu?" tanya Lia.
"Aku tidak tahu, apa kalian berdua tahu?" Eril bertanya kepada kedua karyawan nya.
"Iya kami tahu pak," Mereka menjawab secara serentak.
Mereka sudah berada di depan rumah nenek yang terbuat dari kayu dan panggung juga. Meraka sudah berada di depan pintu rumah nenek yang di lantai atas.
"Assalamu'alaikum," kata mereka serentak.
"Waalaikumsalam." Nenek berjalan ke arah depan pintu rumahnya, nenek membuka pintu rumahnya.
"Apa benar ini rumah nenek Fatimah?" tanya Eril.
"Benar, kamu siapa?" Nenek Fatimah melihat ke arah Eril.
"Perkenalkan nenek nama saya Eril." Eril menyalim punggung tangan si nenek tersebut.
"Ada perlu apa nak Eril kerumah saya?" tanya nenek Fatimah.
"Saya mengantarkan cucu nenek ke sini," jawab Eril.
"Cucu saya yang mana?" Nenek Fatimah yang bingung karena dia memiliki beberapa cucu.
__ADS_1
"Nenek." Lia yang keluar dari belakang punggung Eril lalu dia berdiri di depan nenek Fatimah.
"Lia, apa benar ini kamu?" Nenek Fatimah terkejut saat melihat Lia sudah berdiri di hadapan nya.
"Iya nenek ini aku." Lia langsung menghamburkan pelukan kepada nenek nya.
"Syukurlah kamu masih hidup." Nenek membalas pelukan Lia, nenek merasa senang karena Lia masih hidup.
"Alhamdulillah aku masi hidup nenek, hiks hiks hiks." Lia melepaskan pelukan dari nenek lalu dia menangis terharu karena dia bisa kembali ke masanya.
Nenek meminta mereka untuk masuk ke dalam rumah. Mereka masuk ke dalam lalu duduk di kursi yang terbuat dari kayu rotan. Lia duduk di samping nenek sambil memeluk lengan nenek. Nenek meminta Lia untuk melepaskan lengan nenek karena nenek mau membuatkan minuman untuk Erlin dan kedua bawahannya.
Setelah menghabiskan minuman yang di buat oleh nenek Fatimah, Eril dan kedua bawahannya berpamitan kepada nenek Fatimah. Nenek mengucapkan terimakasih kepada mereka sudah mengantarkan Lia ke rumah nenek. Eril dan kedua bawahannya sudah pergi meninggalkan rumah nenek.
Di rumah nenek tinggal lah Lia dan Nenek, nenek menyuruh Lia untuk menghubungi nomor kedua orang tuanya. Lia pun menghubungi nomor keluarga nya tetapi tidak di angkat akhirnya Lea memutuskan untuk menghubungi nomor ponsel Aby.
Tuuutt........ Tuuutt
"Assalamu'alaikum," kata Abi.
"Walaikumsalam Sayang," kata Lia.
"Kenapa suara kamu mirip Lia dan kenapa kamu bisa menghubungi aku dengan nomor Lia?" tanya Abi.
"Aku ini emang Lia, kalau sayang tidak percaya datang saja kerumah nenek yang ada di desa Rokan Hilir. Sayang tolong suruh Ry menghubungi aku ya," kata Lia.
"Hahahaha, kamu pasti lagi ngefrank aku ya?" Abi yang tidak percaya dengan perkataan Lia.
"Gak ada gunanya aku ngefrank Sayang, tapi kalau Sayang sudah tidak mau menemui aku lagi ya sudah." Setelah berbicara seperti itu Lia mematikan ponselnya.
Sedangkan Abi yang sedang berada di sekolah merasa masih shock setelah mendapatkan telpon dari wanita yang mengakui bahwa dirinya Lia. Dengan rasa penasaran akhirnya Abi menelpon kembali nomor tersebut tetapi yang mengangkat telpon tersebut nenek Fatimah. Nenek Fatimah berbicara kepada Abi bahwa Lia masih hidup. Nenek Fatimah meminta Abi untuk memberi tahu keluarga Lia.
Setelah itu nenek Fatimah mematikan panggil telponnya. Sekarang Abi dan Ry sudah berada di depan rumah Ry, Abi belum menjelaskan kepada Ry kenapa tiba-tiba Abi tadi meminta izin kepada guru Ry. Sehingga Ry di perbolehkan untuk pulang lebih awal.
"Sebenarnya ada apa abang Abi mengizinkan Ry ama pak guru?" Ry yang penasaran dengan Abi yang tiba-tiba saja menemui pak guru.
"Abang tidak bisa jelaskan sekarang, yang jelas tadi nenek memakai ponsel Lia menyuruh kita untuk pergi ke desa sekarang," kata Abi.
__ADS_1
"Kenapa nenek malah menghubungi abang Abi padahal aku ini cucunya." Ry merasa tidak suka dengan sikap nenek yang malah menghubungi Abi dari pada menghubungi Ry.
...~ Bersambung ~🫑...