
"Sedang berada di fase dimana banyak kenyataan yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Dan sedang berada di usia dimana kita yang di tuntut untuk selalu berdamai dengan keadaan."
"Apa tidak ada tabit lain?" tanya tuan putri.
"Ada, tapi tabit kerajaan yang harus mengurus seluruh anggota kerajaan. Hamba takut kalau tuan putri ama tabit lain." Siti yang khawatir kalau tuan putri di periksa ama tabit lain.
"Bagaimana kalau aku saja yang merawat tuan putri?" tanya Lia.
"Emang kamu bisa?" Siti mengangkat wajahnya melihat ke arah Lia.
"Bisa aku itu mahasiswa kedokteran yang akan menjadi dokter selain itu aku sudah biasa memeriksa dan memberi obat pada pasien," jawab Lia.
"Apa itu dokter dan pasien?" tanya Siti.
"Dokter itu orang yang bertugas memeriksa keadaan orang yang terkena penyakit, setelah mengetahui orang tersebut terkena penyakit apa dia akan memberikan resep obat. Pasien itu orang yang terkena penyakit," jawab Lia.
"Berarti seperti tabit," kata Siti.
"Iya," jawab Lia.
"Apa kamu yakin bisa menyembuhkan tuan putri?" Siti yang melihat ke arah Lia.
"Insyaallah aku yakin bisa menyembuhkan tuan putri." Lia yang menyakinkan Siti bahwa dia bisa mengobati tuan putri.
"Apa kamu sudah tahu resiko kalau gagal menyembuhkan tuan putri?" tanya Siti.
"Aku akan mendapatkan hukuman dari raja," jawab Lia.
"Apa kamu tidak takut mendapatkan hukuman dari raja?" tanya Siti.
"Tidak, yang aku pikirkan saat ini hanya tuan putri harus sembuh. Maka izinkan aku menjadi dokter tuan putri, apakah boleh?" tanya Lia.
"Bagaimana ini tuan putri?" Siti yang merasa belum yakin bahwa Lia bisa mengobati tuan putri.
"Aku izinkan Lia menjadi tabit pribadi aku sampai sembuh," kata tuan putri.
"Baiklah tuan putri, biarkan aku yang akan memeriksa keadaan tuan putri." Lia yang berjalan menghampiri tuan putri yang masih berada di atas tempat tidur.
"Apa kamu yakin bisa?" Siti yang memegang tangan Lia.
"Percaya lah Siti aku bisa menyembuhkan tuan putri." Lia melepas pegangan tangan Siti dari tangan nya.
Lia duduk pinggir tempat tidur tuan putri. Lia memegang kening tuan putri yang masih panas. Lia menyuruh tuan putri untuk membuka mulutnya. Tuan putri membuat mulutnya lalu Lia menyuruh tuan putri menutup mulutnya.
"Tuan putri sakit apa?" Siti yang melihat ke arah Lia yang sedang memeriksa keadaan tuan putri.
__ADS_1
"Demam." Lia berdiri dari pinggir tempat tidur.
"Ramuan apa yang akan kamu buat untuk menyembuhkan tuan putri?" tanya Siti.
"Siti cepatan sini," kata Lia.
"Iya Lia." Siti berdiri dari duduknya lalu Siti menghampiri Lia.
Lia membisikkan sesuatu ke telinga Siti, Siti yang mendengar yang Lia katakan.
"Kamu sudah tahu kan, sekarang cepat kamu carikan barang yang aku bisikan tadi," kata Lia.
"Tuan putri hamba pamit dulu mencari barang yang dia suruh." Siti yang berpamitan dengan tuan putri.
Setelah Siti pergi Lia duduk di samping tuan putri. Lia kembali mengompres tuan putri dengan meletakkan kain di kening tuan putri.
"Haus." Tuan putri yang berbicara dengan suara yang lemah.
"Tunggu sebentar tuan putri aku ambil air minum." Lia berdiri lalu berjalan ke arah meja Lia menuangkan air yang berada di dalam gendi ke cangkir. Lia membawa secangkir air putih ke arah tuan putri.
"Ini minumnya tuan putri." Lia yang duduk di pinggir tempat tidur.
"Lia bantu aku duduk." Tuan putri yang berusaha bangun dari tempat tidurnya.
"Baik tuan putri." Lia membantu tuan putri sehingga tuan putri bisa duduk di atas tempat tidur.
"Ini tuan putri minum dulu." Lia menyerahkan secangkir air putih kepada tuan putri.
"Glug....glug." Tuan putri mengambil cangkir dari tangan Lia lalu dia meminum air putih tersebut.
"Apa tua putri lapar?" tanya Lia.
"Aku tidak lapar," jawab tuan putri.
"Tapi tuan putri belum makan sama sekali." Lia yang merasa khawatir karena tuan putri belum makan dari tadi pagi.
"Aku sedang tidak berselera makan," kata tuan putri.
"Aku tahu saat ini mulut ada lagi pahit, tetapi tuan putri harus tetap makan. Aku akan menyuruh pelayanan membuat bubur untuk tuan putri."Lia yang berjalan ke arah pintu ke diaman, dia membuka pintu kediaman tuan putri. Para dayang lalu melihat ke arah Lia mereka penasaran dengan keadaan tuan putri.
"Bagaimana keadaan tuan putri?" tanya para dayang.
"Siapa di antara kalian yang bisa masak?" tanya Lia.
"Kenapa kamu bertanya itu?" Para dayang yang melihat ke arah Lia dengan tatapan yang aneh.
__ADS_1
"Apa ada di antara kalian yang bisa masak?" tanya Lia.
"Kami ini dayang bukan juru masak jadi sudah pasti kami tidak bisa masak," jawab seorang dayang.
"Berarti di antara kalian semua tidak ada yang bisa masak," kata Lia.
"Tunggu dulu, aku bisa masak kamu mau di masakin apa?" seorang dayang berjalan ke arah Lia.
"Bubur merah bubur putih,apa kamu bisa?" Lia melihat ke arah dayang tersebut.
"Bisa." Dayang tersebut menganggukan kepalanya.
"Sana cepatan kamu masak," kata Lia.
"Baiklah." Dayang tersebut berjalan terburu-buru ke arah dapur istana.
Setelah dayang tersebut pergi Lia menyuruh seorang dayang pergi ke dapur istana mengambil air hangat. Seorang dayang tersebut pergi ke arah dapur istana. Lia berjalan masuk ke dalam ke diaman tuan putri.
Bubur merah dan bubur putih telah masak dan berada di atas meja kamar tuan putri.
"Tuan putri bangun." Lia yang sudah duduk di pinggir tempat tidur tuan putri.
Tuan putri mulai membuka kedua mata lalu melihat ke arah Lia.
"Tuan putri harus makan," kata Lia.
"Bantu aku untuk duduk,"kata tuan putri.
"Baiklah tuan putri." Lia membantu tuan putri duduk di atas tempat tidur.
Setelah tuan putri duduk Lia mengambil kedua bubur yang berada di atas meja. Lia membawa kedua bubur tersebut ke arah tempat tidur tuan putri.
"Sekarang tuan putri makan," kata Lia.
"Aku tidak mau makan bubur, ini seperti makanan bayi lembek dan benyek." Tuan putri yang mengelengkan kepalanya.
"Bubur itu makan untuk orang sakit tuan putri." Lia duduk di pinggir tempat tidur tuan putri Lia meletakkan kedua mangkok bubur di atas pahanya.
"Aku tidak mau makan," kata tuan putri.
"Tuan putri harus makan, coba buka mulut tuan putri," kata Lia.
Tuan putri membuka mulutnya lalu Lia menyuapkan sesendok bubur merah kedalam mulut tuan putri, tuan putri menelan bubur merah tersebut. Lalu tuan putri menujukan ke arah mangkok yang berisi bubur putih. Lia mengambil bubur putih dari mangkok lalu menyuapi ke mulut tuan putri.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1
Hallo Guys Mampir ke Novel Ry yang baru Perjuang Ucup