
"Gak takut sama orang yang jagoan sih, tapi takut sama orang yang baik. Takut gak bisa ngebalesnya."
Di Pondo Po
Tuan Putri berdiri sambil berjalan mondar mandir di teras rumah. Siti dan Lia yang melihat ke arah tuan putri yang sedang berjalan mondar mandir di teras rumah.
"Apa tuan putri tidak capek? berjalan mondar mandir seperti itu." Lia yang memegang bahu tuan putri.
"Tidak." Tuan putri menepis tangan Lea dari bahunya lalu dia berjalan mondar mandir di teras rumah.
"Tuan putri ini sudah malam, sebaik tuan putri beristirahat." Siti yang khawatir melihat tuan putri berjalan mondar mandir di teras rumah.
"Aku tidak ingin beristirahat," kata tuan putri.
"Sebenarnya tuan putri sedang menunggu siapa?" tanya Lia.
"Pangeran kedua," jawab tuan putri.
"Aku yakin pangeran kedua tidak akan datang malam ini, jadi sebaiknya tuan putri beristirahat," kata Lia.
"Aku tidak ingin beristirahat," kata tuan putri.
"Sebaiknya tuan putri duduk natik kakinya pegal karena berjalan mondar mandir dari tadi." Siti memegang tangan tuan putri lalu dia berjalan sambil memegang tangan tuan putri. Siti membawa tuan putri ke dekat kursi yang ada di teras rumah.
"Sekarang tuan putri duduk di sini." Siti menyuruh tuan putri untuk duduk di kursi tersebut.
"Baiklah." Tuan putri duduk di kursi tersebut.
"Apakah tuan putri haus?" Siti yang berdiri di samping tuan putri.
"Iya aku haus," jawab tuan putri.
"Tuan putri tunggu disini hamba akan mengambilkan tuan putri minum." Siti yang berjalan pergi meninggalkan tuan putri dan Lia di teras rumah tersebut.
Lia berjalan menghampiri tuan putri yang sedang duduk di kursi. Lia yang sudah berada di samping tuan putri lalu duduk di atas lantai.
"Apa kamu punya saudara?" tanya tuan putri.
"Punya," jawab Lia.
"Berapa saudara kamu?" tanya tuan putri.
__ADS_1
"Dua, aku mempunyai kakak dan adek." Lia yang sedang membayangkan wajah Fina dan Ry, dia merasa rindu kepada Fina dan Ry.
"Berarti kamu anak tengah," kata tuan putri.
"Iya, apa tuan putri sedang memikirkan pangeran pertama?" tanya Lia.
"Iya, kami berdua abang adek yang terlahir dari ibu ratu," jawab tuan putri.
"Darah itu lebih kental dari pada air, apakah tuan putri memiliki firasat yang tidak enak mengenai pangeran pertama?" Lia yang begitu penasaran dengan pangeran pertama yang menghilang di hutan.
"Ada, aku merasa pangeran pertama sedang tidak baik-baik di dalam hutan, sehingga aku terus berpikir untuk pergi kedalam hutan untuk mencari keberadaan pangeran pertama," kata tuan putri.
"Tuan putri tidak boleh kehutan karena itu tempat yang paling berbahaya," kata Lia.
"Tetapi aku merasa tidak tenang sebelum bisa bertemu dengan pangeran pertama, entah seperti apapun kondisi pangeran pertama aku ingin segera bertemu dengan dia," kata tuan putri.
"Semoga tuan putri secepatnya bisa bertemu dengan pangeran pertama, dengan keadaan pangeran pratama yang sehat dan tidak kurang satu apapun itu," kata Lia.
"Aamiin," kata tuan putri.
Dua orang laki-laki sedang berjalan ke arah kediaman sementara tuan putri selama berada di pondo po. Kedua laki-laki tersebut telah sampai di depan kediaman kediaman sementara tuan putri.
Tak........
Tak.......
Tak.......
"Assalamualaikum tuan putri." Kedua laki-laki tersebut mengucapkan salam kepada tuan putri.
"Walaikumsalam, kenapa pangeran ketiga dan keempat berada disini?" Tuan putri melihat ke arah kedua pangeran tersebut secara bergantian.
"Kami ingin melihat keadaan tuan putri, bagaimana kabar tuan putri?" tanya pangeran ketiga.
"Kabar aku tidak baik," jawab tuan putri.
"Kenapa kabar tuan putri tidak baik?" tanya pangeran ke empat.
"Pangeran ke empat pasti sudah tahu jawabannya," jawab tuan putri.
"Aku tidak habis pikir dengan pangeran ketiga dan keempat, Kenapa kalian berdua masih berada di sini? apa kalian berdua tidak mencari keberadaan pangeran pratama?" Lia yang berdiri dari tempat duduknya lalu dia berdiri di samping tuan putri.
__ADS_1
"Kami tadi di tinggal oleh pangeran kedua, besok kami akan mencari keberadaan pangeran pertama." Pangeran ketiga menjelaskan alasannya kepada tuan putri dan Ry.
"Alah itu cuma alasan kalian berdua aja." Lia yang tidak percaya ama perkataan pangeran kedua, Lia bahkan merasa curiga terhadap kedua pangeran tersebut. Dia juga melihat ekspresi kedua pangeran tersebut yang terlihat bahagi.
"Itu bukan hanya sekedar alasan, melainkan kenyataanya emang seperti itu." Kedua pangeran tersebut yang terus saja berjalan ke arah Lia dan tuan putri.
"Sebenarnya apa yang pangeran ketiga dan pangeran keempat inginkan?" Tuan putri yang menatap tajam kearah kedua pangeran tersebut.
"Kami tidak menginginkan apa-apa." Pangeran ketiga sudah berdiri di hadapan tuan putri.
"Apa tujuan pangeran ketiga dan pangeran keempat kesini?" tanya tuan putri.
"Kami hanya ingin berkunjung ke kediaman tuan putri, apakah itu salah?" tanya pangeran keempat.
"Tidak salah," jawab tuan putri.
"Kami merindukan tuan putri," kata pangeran ketiga dan pangeran keempat secara serentak.
"Tuan putri ini sudah malam sebaiknya tuan putri tidur." Lia memegang tangan putri.
"Kami baru saja sampai di sini masak tuan putri sudah mau tidur," kata pangeran keempat.
"Aaaah, maaf aku kedua pangeran tetapi aku sudah sangat mengantuk. Lagian masih ada hari besok untuk mengobrol." Tuan putri yang menguap seakan-akan dia sudah mengantuk. Dia berdiri dari kursinya.
"Aku mau masuk kedalam dulu kedua pangeran." Tuan putri dan Lea berjalan sambil bergandengan tangan ke arah pintu kediaman tersebut.
Mereka sudah berada di depan pintu kediaman, Lia membukakan pintu kediaman lalu mereka berjalan masuk melewati pintu tersebut. Lia melepaskan gandengan tangan dengan tuan putri.
Tengah Malam tuan putri dan Lia masih belum bisa tidur. Tuan putri yang masih merasa khawatir karena belum mendapatkan berita tentang pangeran pertama. Lia mengajak tuan putri untuk melaksanakan shalat Isya karena tadi mereka belum melaksanakan shalat Isya.
Mereka melaksanakan shalat isya berjamaah di dalam ruangan yang ada di rumah tersebut. Lia yang menjadi imam shalat isya berjamaah tersebut. Setelah selesai melaksanakan shalat Isya berjamaah, mereka mulai berdoa meminta kepada Allah agar pangeran pertama secepatnya di ketemu dalam keadaan hidup dan tak kurang satu apapun.
Lia membaca Al-quran, suara Lia begitu indah saat mengaji. Tuan Putri baru mengetahui kalau suara Lia begitu merdu saat mengaji. Hati tuan putri begitu tenang dan tentram saat mendengarkan Lia mengaji. Tuan putri merasa mengantuk saat mendengarkan Lia mengaji sehingga dia tertidur sambil duduk di di atas tikar.
Lia yang selesai mengaji lalu menutup Al-quran. Dia melihat ke arah tuan putri yang tertidur sambil duduk dengan memakai mukenah.
Lia menghampiri tuan putri lalu di membuka mukenah tuan putri. Lia duduk di samping tuan putri lalu di meletakan kepala tuan putri di pahanya.
"Tuan putri."
Tuan putri yang mendengar nama di panggil lalu menoleh ke arah suara tersebut.
__ADS_1
...~ Bersambung~...