
Mama Gita yang mendengar pernyataan sang menantu pun menangis terisak. Ia meninggalkan ruangan Mia sebelum Mia dan Bryan menyadari keberadaan nya.
"Tenanglah, aku yakin kau bisa melewati segala nya. Ingatlah, apapun yang terjadi tetaplah bertahan demi aku dan anak kita" ucap Bryan.
"Mas, jika nanti aku benar benar tiada. Berjanjilah untuk melanjutkan hidupmu. Carilah pasangan yang bisa mencintaimu dan anak kita dengan tulus. Berilah dia kasih sayang yang lengkap. Kita sama sama tau bagaimana rasanya hanya memiliki satu kasih sayang orang tua"
"Tidak, kau harus tetap bersama ku dan anak kita"
"Mas, kita tak bisa memungkiri takdir. Jika memang hidupku hanya sampai disini, tetaplah menatap kedepan. Carilah kebahagiaan baru untuk mu. Tapi satu hal yang jangan pernah kau lupakan, anak kita. Beri dia kasih sayang seorang ibu menggantikanku"
"Sayang, percayalah kau dan anak kita akan baik baik saja" ucap Bryan menenangkan.
Mia hanya mengangguk, hatinya masih ragu.
Feeling nya mengatakan bahwa ia tak akan baik baik saja.
"Sekarang tidurlah, sudah malam" ucap Bryan yang diangguki Mia.
Pagi hari,
Semua anggota keluarga menjenguk keadaan Mia.
Mia bersikap seolah tak terjadi apapun semalam.
Baru kali ini ia merasakan rasanya dikhawatirkan oleh orang terdekat yang disebut keluarga.
ibu Lia nyatanya hanya ibu sambungnya. dulu Ibu kandung Mia bernama Mira menikah dengan sang ayah yang akhirnya melahirkan Mia. namun saat melahirkan, Mira mengalami pendarahan dan meninggal.
ayah Mia menikahi Lia sebagai ibu sambung Mia. namun baru 2 bulan pernikahan ayah Mia mengalami kecelakaan dan meninggal. akhirnya Mia diasuh oleh Lia karna keluarga Mia yang lainnya merupakan orang biasa (bukan kalangan orang kaya).
Sebelum nya Mia tak pernah merasakan hal ini. Sebelum ia menikah, ia sendiri.
Sendirian di dalam ruangan putih yang berbau obat obatan itu.
__ADS_1
Namun saat ia menikah, setidaknya ada Bryan suami nya yang mengkhawatirkan nya.
Yang selalu menemaninya di dalam ruangan yang didominasi warna putih itu.
Semua orang menanyakan kondisi Mia, dan Mia hanya menjawab
"Tidak apa apa, aku hanya kelelahan saja" hanya itu jawaban Mia.
Beberapa hari kemudian, Mia sudah diperboleh kan pulang ke kediaman nya.
Pagi hari
Bryan sudah berangkat bekerja.
Mia sedang bersandar di ranjang nya.
Tok
Tok
Tok
"Masuk saja ma, pintunya tidak dikunci"
"Ada apa ma?" Tanya Mia saat melihat sang mertua sudah duduk di ranjang nya.
"Ingatlah nasehat mama. Apapun yang terjadi kau harus kuat. Bertahan dan berjuanglah demi Bryan dan anak mu. Bagaimana pun anak mu membutuhkan kasih sayangmu sebagai ibu nya dan Bryan membutuhkan kasih sayang mu sebagai istri yang selalu mendampingi nya"
"Maksud mama?" Tanya Mia.
"Jangan pura pura seperti itu. Mama tau segala nya. Mama tak sengaja mendengar percakapan kalian dirumah sakit" ucap mama Gita.
"Mama tau semua nya?"
__ADS_1
Mama Gita mengangguk
Merekapun berbincang bincang sejenak.
Setelah selesai, mama Gita keluar dari kamar Mia.
Beberapa minggu kemudian,
Usia kandungan Mia sudah menginjak minggu ke 38.
Bryan sudah mengambil cuti karna hari kelahiran anak nya sudah dekat.
"Kamu mau kemana?" Tanya Bryan saat melihat pagi pagi istrinya sudah rapi.
"Aku mau jalan jalan pagi mas, kalau udah hamil besar gini suruh sering jalan jalan" ucap Mia.
"Kemana?"
"Paling keliling komplek"
"Ya udah yuk aku temani" ucap Bryan turun dari ranjang nya.
Ia segera mengganti baju nya dan mencuci wajah nya.
"Udah yuk" Bryan menarik tangan Mia.
Merekapun jalan jalan pagi.
"Mas, aku pengen bubur ayam itu" tunjuk Mia.
"Ya udah yuk, kita beli" ucap Bryan.
Mereka berjalan menuju warung itu dan makan disana.
__ADS_1
Setelah kenyang mereka berdua pun pulang.