Tuan Arogan Suamiku

Tuan Arogan Suamiku
Kenzifa Hendrawan


__ADS_3

"Katanya mau melahirkan, jadi kita harus kerumah sakit sekarang juga" ucap Bryan dengan suara keras yang membuat penghuni mansion berdatangan.


"Ada apa ini?" Mama Gita dan papa Johan ikut panik melihat wajah anaknya yang panik.


"Mia mau melahirkan ma"


"Hah? Cepet bawa kerumah sakit" mama Gita ikut heboh.


"E eh, turunin aku dulu mas" Mia meronta ronta digendongan Bryan.


Mau tidak mau Bryan menurunkan istrinya.


"Belum terlalu sakit mas, kamu mandi dulu gih abis itu sarapan, aku juga butuh sarapan" kesal Mia.


"Loh katanya mau melahirkan?" Tanya Bryan.


"Perutku belum sakit banget mas"


Merekapun mengangguk mengerti.


Cepat cepat Bryan langsung membersihkan tubuhnya.


Mereka berkumpul dimeja makan.


"Beneran belum sakit?"


"Atau kita kerumah sakit sekarang?"


"Atau kita sarapan dirumah sakit aja"


"Ayo kerumah sakit sekarang aja"


Celotehan celotehan khawatir dari Bryan membuat Mia jengah.


"Udahlah mas, makan dulu. Paling baru pembukaan berapa" ucap Mia.


"Beneran nggak sakit?"


"Kalo sakit sih sakit mas, tapi masih bisa aku tahan" ucap Mia.


Merekapun cepat cepat menyelesaikan sarapannya.


"Mama sama ayah dirumah aja. Aku titip Zio, nanti kalau udah lahir aku kabari" ucap Bryan merengkuh pundak sang istri.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, mobil sudah sampai dipelataran rumah sakit.


Bryan dan Mia langsung memasuki ruang rawat.


Beberapa saat kemudian, dokter datang mengecek keadaan Mia.


"Sudah pembukaan 6 bu" ucap dokter itu.


Mia bernafas lega karna pembukaannya sudah 6, sedangkan Bryan nafasnya semakin tercekat saja.


"Berarti aku masih nunggu 4 pembukaan lagi" batinnya berteriak.


Rasa takut menggerogoti relung hatinya.


"Kamu kenapa mas?" Tanya Mia melihat sang suami melamun.


"A aku takut yang"


"Cih yang mau lahiran siapa yang takut malah siapa" cibir Mia.


Bryan mengambil kursi didekat Mia.


Tangannya terus saja mengelus perut buncit Mia.


"Sudah pembukaan delapan" ucapnya tersenyum.


Wajah Bryan semakin pias saja.


Ia mengusap keringat di dahi istrinya.


"Anak papa cepet keluar, nanti digendong sama papa" ucapnya pada perut Mia.


Mia terus saja menggenggam tangan sang suami seolah menyalurkan rasa sakit yang di alaminya.


1 jam kemudian dokter kembali keruang rawat Mia.


"Sudah pembukaan 9" ucapnya.


Para suster segera memindahkan Mia keruang bersalin.


Dokter memberi instruksi pada Mia untuk mengejan.


"Arghhh" gagal

__ADS_1


"Arghhh" masih gagal juga.


"Arghh"


Oekkk


Air mata Bryan luruh saat sang anak telah lahir kedunia.


"Perempuan pak, bayinya sehat dan sempurna" ucap dokter itu.


Dokter itu segera membersihkan bayi itu dan menyerahkannya keayah sang bayi.


Bryan meng adzani anak perempuannya itu.


Mia terharu mendengar lantunan adzan dari sang suami.


Bryan menyerahkan bayi itu pada dokter.


Dokter meletakan bayi itu didada sang ibu untuk melakukan IMD (inisiasi menyusui dini).


Dengan sigap bayi itu menemukan sumber minuman nya.


Setelah semua telah bersih, Mia dan bayinya dipindahkan ke ruang rawat.


"Dia cantik mas" ucapnya.


Bryan mengiyakan ucapan sang istri.


"Tapi wajahnya masih 11 12 sama kamu" ucap Mia kesal.


"Ya nggak papa, kan aku papa nya" ucap Bryan menyombongkan diri.


"Cih, gini nih kalo pas hamil nemplok mulu sama kamu. Jadinya anaknya persis kamu" kesal Mia.


"Udah nggak papa, nanti kalau mirip tetangga kamu malah pusing" canda Bryan.


"Kamu kasih nama siapa mas?" Tanyanya.


"Kenzifa Hendrawan, panggilannya Zifa" ucap Bryan.


"Bagus" ucap Mia memandangi wajah sang anak.


Beberapa saat kemudian, mama Gita dan ayah Johan datang menjenguk Mia.

__ADS_1


"Huh, mama lega untung kontraksinya nggak kayak dulu" mama Gita mengusap dadanya lega.


__ADS_2