Tuan Arogan Suamiku

Tuan Arogan Suamiku
Terngiang Ngiang


__ADS_3

"Zio mana yang?" Tanya Bryan pada sang istri.


"Tadi dari lift Zio langsung pulang sama pak sopir, katanya dia mau main sama temen nya" jawab Mia yang membuat Bryan mengangguk.


"Berapa usia kandungan mu Mia?" Tanya Ara basa basi.


"Sudah 7 bulan" jawab Mia tersenyum.


Di sisi lain,


Zio menabrak seseorang saat sedang berjalan di lobi perusahaan.


Dukk


Aduhhh


Pekik seorang gadis kecil yang jatuh terduduk.


Zio hanya menatap datar pada bocah itu.


Mata gadis itu sudah berkaca kaca akan menangis.


Zia hanya menyunggingkan senyum mengejeknya.


"Cih gitu aja cengeng" decaknya.


Zio melangkahkan kakinya meninggalkan bocah perempuan itu.


"Kakak ganteng berhenti" ucapnya yang membuat Zio menghentikan langkahnya.


Gadis itu berdiri dari duduknya


"Kenalin, aku Anna" gadis itu mengulurkan tangannya ke hadapan Zio.


Ya, dia adalah Arqiana yulandres. Putri bungsu Rifqi yulandres.


Zio hanya menatap tangan gadis itu dan meninggalkannya begitu saja.


"Antarlah dia ke ruangan papa, kurasa tangannya tak mampu menggapai tombol lift" ucap Zio pada salah satu pegawai disana.

__ADS_1


Pegawai itu mengangguk.


"Mari nona saya antar" ucapnya sopan pada Anna.


Gadis itu tersenyum melihat punggung Zio yang menghilang dari pintu perusahaan.


...


"Mami, papi" teriak gadis itu rusuh memasuki ruangan kerja Bryan.


"Anna, nggak boleh teriak teriak" Ara mengingatkan anaknya.


Bocah itu menatap Bryan yang sedang tersenyum


"Maaf uncle"


Gadis itu mendekati sang kakak, Qian.


Ia membisikan sesuatu yang pastinya didengar oleh semua orang disana karna suaranya yang tak pelan pelan.


"Kak Qian, tadi aku liat ada kakak ganteng" ucapnya.


"Anna" kini Rifqi lah yang memanggil sang putri.


dengan suara lembutnya mampu membuat Anna terdiam.


"Papi, Anna mau pangku" ucapnya.


Rifqi langsung menaikan anaknya kepangkuannya.


"Uncle, tadi aku liat ada kakak ganteng" ucapnya sambil mencondongkan tubuhnya seperti sedang bisik bisik pada Bryan.


"Siapa namanya?" Tanya Bryan.


"Nana (panggilan Anna untuk dirinya sendiri) tidak tau uncle. Pas aku ajak kenalan malah dia pergi" jawabnya polos.


"Maafkan anakku yang kurang sopan Bry" Rifqi menjadi sungkan.


"Ah tidak apa, anak kecil wajar seperti itu. Lebih baik seperti Anna daripada anak laki lakimu yang wajahnya datar itu" tunjuk Bryan pada Qian yang dari tadi diam saja.

__ADS_1


Semua tertawa mendengar candaan dari Bryan.


"Uncle nda boleh gitu, dia kakaknya nana"


"Iya iya, uncle minta maaf" ucap Bryan.


2 bulan kemudian,


Usia kandungan Mia sudah 9 bulan.


HPL Mia sudah dekat.


Bryan sudah mengambil cuti untuk menemani sang istri jika sewaktu waktu melahirkan.


Pagi hari,


"Mas" panggil Mia pada sang suami yang masih tidur.


"Hmm"


"Bangun, ayo sarapan"


"Lima menit lagi"


"Nggak, cepet bangun. Aku mau ngomong sesuatu"


"Ngomong aja, aku dengerin kok" ucaonya sambil masih menutup matanya.


"Kayaknya aku mau melahirkan deh mas" ucap Mia.


Bryan langsung membuka matanya dan langsung duduk dari pembaringannya.


"Hah? Udah sakit? Kita kerumah sakit sekarang" ucap Bryan panik.


Seketika memori saat Mia melahirkan berhari hari, saat dokter mengatakan bahwa akan terjadi gawat janin apalagi saat Mia dinyatakan meninggal terngiang ngiang diotak Bryan.


Ia langsung membopong tubuh istrinya dan membawanya krluar dari kamar.


"Ih masss turunin" pekik Mia saat akan memasuki lift.

__ADS_1


"Katanya mau melahirkan, jadi kita harus kerumah sakit sekarang juga" ucap Bryan dengan suara keras yang membuat penghuni mansion berdatangan.


__ADS_2