Tuan Arogan Suamiku

Tuan Arogan Suamiku
Kram Perut


__ADS_3

Pagi hari, seperti biasa Mia muntah muntah parah di pagi hari.


Bryan yang masih tidur terlelap pun mengerjap bangun mendengar suara Mia yang sedang muntah.


Ia hanya membuka mata nya tak berniat beranjak dari ranjang.


Sudah 30 menit berlalu namun Mia belum keluar dari kamar mandi.


Bryan memutuskan untuk melihat Mia ke kamar mandi.


Ternyata Mia sudah jatuh pingsan di kamar mandi.


Bryan segera membopong istrinya ke ranjang.


"Ternyata ini yang membuat nya pingsan setiap hari" gumam Bryan.


Memang benar, Bryan selalu menemukan Mia pingsan di kamar mandi. Namun ia tak pernah menanyakan sebab maupun memanggil dokter karna Mia sudah mewanti wanti agar tidak memanggil dokter.


Tapi kali ini beda, kini Bryan sudah tau kondisi sebenar nya. Mia sedang mengandung anak nya.


Bryan pun segera menelpon dokter.


Beberapa saat kemudian dokter datang untuk memeriksa Mia.


Dokter pun memutuskan untuk memberi infus karna tubuh Mia sudah masuk dalam kategori dehidrasi sedang.


Dokter pun pamit untuk undur diri.


Setelah dokter itu pergi, Bryan memutuskan untuk membersihkan diri lalu bersiap ke kantor.


Pukul 8 pagi,


Mia mengerjapkan mata nya bangun.


Ia melihat ke sekeliling nya


Kosong

__ADS_1


"Kenapa tidak ada orang?" Batin Mia.


Mia baru sadar kalau punggung tangan nya telah terpasang infus.


Ia mendudukan tubuh nya dan menyender di kepala ranjang.


Ia merasakan perutnya agak kram.


"Shhhh" Mia meringis kesakitan.


Ia mengusap usap perutnya


"Jangan bikin mama kesakitan dong nak, kamu sehat sehat ya" gumam nya pelan.


Ia mendesahkan napas nya pelan


"Kenapa semua orang seolah olah tak peduli denganku? Apa sebesar itu kebencian mereka terhadap ku" batin Mia.


Beberapa saat kemudian, Dinda, salah satu maid di rumah itu masuk ke kamar Mia.


Ia tau betul bahwa nyonya nya tidak dapat memakan nasi maupun makanan lain.


" Nyonya, mana yang sakit?"


" Dinda, perutku agak kram, apakah berbahaya?" Tanya Mia.


" Sebentar nyonya"


Dinda menelpon nomor dokter pribadi Mia untuk menanyakan kondisi Mia.


" Hallo dok, perut nyonya Mia agak kram. Apakah berbahaya?" Tanya Dinda pada dokter itu.


"Kram perut saat masa kehamilan memang normal terjadi. Namun bila ada bercak darah sebaiknya dibawa kerumah sakit..... Bla bla bla" dokter menjelaskan.


Mia yang ikut mendengar kan nya pun mengangguk mengerti.


Dinda langsung mengambil handuk kecil dan air hangat untuk mengompres perut Mia sesuai anjuran dokter.

__ADS_1


"Sudah mendingan?" Dinda bertanya sambil terus mengomores perut Mia.


Mia mengangguk


"Terimakasih Dinda" ucap Mia tulus.


Dinda mengangguk


"Sama sama nyonya"


Mia pun segera memakan sarapan yang sudah disiapkan Dinda.


"Mama kemana Din?" Tanya Mia.


"Nyonya besar sedang arisan dengan teman teman nya nyonya" jawab Dinda.


Mia seketika menunduk. Ia kecewa, kenapa sang mertua tidak ada saat ia butuh? Batin nya.


Dinda mengusap lengan Mia.


Ia tau perasaan nyonya muda nya itu.


"Tidak apa nyonya, masih ada saya disini" Dinda menenangkan.


Mia hanya bisa tersenyum lalu mengangguk.


Jam menunjukan pukul 11 siang,


Mia berencana ke kantor Bryan untuk mengantarkan makan siang.


Entah kenapa hari ini ia sangat bersemangat untuk datang ke kantor Bryan.


Nampak Mia menggunakan dress pink nya dengan sebuah tas kecil yang juga berwarna pink.



Bryan memang melarang Mia untuk bekerja lagi karna alasan kehamilan Mia.

__ADS_1


__ADS_2