
Namun sekarang tidak, Mia menjadi sosok ratu bagi Bryan. Seorang wanita yang harus ia turuti segala perintah dan permintaan nya karna Mia sedang mengandung anak nya.
Beberapa saat kemudian Bryan kembali dengan membawa bubur ayam pesanan Mia.
Mia menyambut bubur itu dengan mata berbinar.
Bryan langsung membuka bungkus bubur ayam itu.
"Aaaa" Bryan menyodorkan sesendok bubur ke depan mulut Mia.
"Aku bisa makan sendiri mas" protes Mia.
"No! Ada aku disini, dan sekarang kau lah yang harus menuruti perintahku" ucap Bryan.
Akhirnya Mia pun mengalah.
Ia membuka mulut nya dan suami nya itu pun menyuapi Mia hingga bubur nya tandas.
"Mau lagi?" Tanya Bryan.
Mia menggeleng
"Aku sudah kenyang mas, oh ya kamu udah makan emangnya?" Tanya Mia.
Bryan mengangguk
"Aku sudah makan tadi"
"Ya udah kalau gitu buruan mandi, katanya mau ke rumah Dilla" Mia mengingatkan.
"Tapi kamu kan belum pulih"
__ADS_1
"Udah ngga papa mas, paling bentar lagi ada perawat dateng buat lepas infusnya"
"Tapi katanya tadi masih lemes?" Tanya Bryan.
"Itukan tadi mas, sekarang udah enggak" Mia meyakinkan.
Akhirnya Bryan pun masuk ke kamar mandi.
Dan benar saja, perawat datang ke kamar Mia dan melepaskan infus yang terpasang di punggung tangan Mia.
Setelah menyelesaikan tugasnya, perawat itupun pulang.
Beberapa saat kemudian Bryan keluar kamar mandi dengan handuk sepinggang nya.
Mia terpana dengan pemandangan di depan nya.
Walaupun ia sering melihat suami nya tanpa sehelai benang pun tapi tetap saja ia merasa malu ketika melihat dada bidang dan perut sixpack suami nya.
Pipi Mia semakin merona saja.
Semenjak hamil otak nya semakin tak terkendali. Bayangan bayangan saat sedang 'berolahraga malam' dengan Bryan tiba tiba muncul di otak nya.
Mia berdiri dari duduk nya. Ia mendekat ke arah suami nya.
Ia mengusap perut kotak kotak suami nya dan juga dada bidang nya.
"Mia, jangan seperti ini" Bryan mengingatkan.
Mia mengalungkan tangan nya ke leher suami nya itu.
Ia berjinjit agar bibirnya bisa menempel bibir suami nya.
__ADS_1
Cupp
Satu kecupan mendarat di bibir Bryan.
"Mia," suara Bryan mulai memberat.
Ia sedang menahan sesuatu yang meronta ronta dibawah sana.
Tak bisa dipungkiri, sudah beberapa bulan semenjak ia tau istrinya hamil ia tak pernah menyentuh istrinya itu.
Alasan nya karna ia takut akan menyakiti anak nya, selain itu karna kondisi tubuh Mia yang tidak seperti ibu hamil pada umum nya.
Tubuh Mia mudah lelah yang akan berujung pingsan nantinya.
"Aku ingin mas" bisik Mia.
Jujur ia sangat malu mengatakan itu. Tapi mau bagaimana lagi, ia benar benar menginginkan 'nya' sekarang.
"Ingin apa?" Tanya Bryan sok tidak tau.
Jujur ia sedang menahan mati matian hasrat nya saat ini.
"Aku ingin 'itu" ucap Mia dengan nada manja yang semakin membuat hasrat Bryan memuncak.
"Itu apa?" Bryan masih berlagak sok polos.
"Aku ingin ini" ucap Mia sambil memegang 'kepemilikan' Bryan.
"Apa kau yakin?" Tanya Bryan lagi.
Mia mulai memberenggut kesal dengan suami nya itu yang tidak segera menuruti keinginan nya.
__ADS_1
"Ishh mas, sudah kubilang aku ingin 'itu' kenapa kamu nggak peka peka sih" Sungut Mia berapi api.