Tuan Arogan Suamiku

Tuan Arogan Suamiku
Terlalu Mempermainkan


__ADS_3

"Bisakah kau tidur dengan kepala kau letakan di paha aunty? Seperti nya baby aunty sedang ingin dekat denganmu" ucap Mia.


Zayn pun mengangguk


Dia segera merebahkan tubuhnya lalu meletakan kepalanya di paha sang aunty.


Entah kenapa Zayn yang susah akrab dengan orang lain tiba tiba bisa akrab dengan Mia.


Mia mengusap kepala Zayn dengan lembut.


Mata nya terasa panas, terlihat air menggenang di pelupuk mata nya.


"Apakah suatu hari nanti aku bisa mengusap anak ku seperti ini? Sepertinya takdir terlalu mempermainkan hidupku" batin Mia kala mengingat perkataan dokter yang kemungkinan besar ia akan mengalami pendarahan saat melahirkan dan resiko nya adalah kematian jika ia tetap mempertahankan anak nya.


Zayn berbaring miring menghadap perut Mia. Ia mengusap perut itu.


"Aunty, tapi kok perutnya masih kecil? Kenapa belum besar?" Tanya Zayn.


Pasal nya ia selalu melihat orang hamil memiliki perut yang besar.


"Baby nya baru empat bulan Zayn. Masih menunggu beberapa bulan lagi agar perut aunty tambah besar"


Zayn mengangguk mengerti


"Halo baby, cepatpah besar. Nanti kalau kamu udah besar bakal aku ajak main bola sama dady ku" ucap Zayn mengusap perut Mia.


Mia terkekeh mendengar tingkah gemas keponakan nya itu.


"Kenapa Zayn tidak meminta baby dari momy mu?" Tanya Mia.

__ADS_1


"Zayn sudah meminta nya, bahkan aku meminta baby queen. tapi kata momy nyari baby queen susah" jawab Zayn polos.


Mia hanya terkekeh dengan ucapan polos Zayn.


"Aunty bolehkan aku tidur dengan memeluk baby?" Tanya Zayn.


Mia mengangguk


Zayn langsung memiringkan tubuhnya.


Wajah nya tepat di depan perut Mia. Ia melingkarkan tangan nya di pinggang sang aunty.


"Entah kenapa dia nyaman dengan kehadiran sang aunty, padahal dengan orang lain biasanya Zayn akan bersikap dingin dan cuek.


Mia mengusap usap kepala sang ponakan hingga tertidur pulas.


Tak lama kemudian, Bryan datang menghampiri Mia.


Bryan mengangguk


"Itu Zayn tidur?" Tanya Bryan.


Mia mengangguk


Bryan geleng geleng dengan tingkah keponakan nya yang manja manja dengan orang yang baru di kenal nya.


Bryan segera mengangkat tubuh Zayn dan membawa nya ke kamar Zayn.


"Pulang yuk" ajak Bryan yang baru saja kembali dari kamar Zayn.

__ADS_1


"Kok cepet banget?" Tanya Mia.


Bryan menghembuskan napas nya pelan. Ia tau sebenarnya istri nya merasa tidak nyaman disini karna semua orang cuek kepada nya.


"Nggak papa, lagian takut nanti kalau kamu bosen" ucap Bryan.


Mia menggeleng


"Nggak papa mas, kamu ngobrol ngobrol sana dulu sama Dilla, lagian kan kalian udah beberapa bulan nggak ketemu" ucap Mia.


Bryan kembali menggeleng


"Sebaik nya kita pulang sekarang, lagi pula kau juga belum makan siang" tawar Bryan.


Akhir nya Mia pun menurut


Mereka pamit dengan Dilla dan keluarga nya.


Rasa canggung kembali dirasakan saat berpamitan itu.


Sesampai nya dirumah, Mia mengambil buah di kulkas dan memakan nya.


Ia merasakan perutnya lapar. Tapi mual jika mencium bau makanan.


Ia memutuskan untuk makan buah saja.


Beberapa minggu kemudian, usia kandungan Mia sudah memasuki minggu ke 20.


Ia sudah mulai jarang muntah muntah parah di pagi hari.

__ADS_1


Namun justru ia mudah pingsan. Bahkan terkadang ada flek darah di celllana dallam Mia.


__ADS_2