Tuan Arogan Suamiku

Tuan Arogan Suamiku
Papa Lagi Menghitung Uang?


__ADS_3

"Zio maunya sekarang"


Mia menghela napasnya


Mau tak mau ia harus mengantarkan sang putra ke kantor sang suami.


"Ya udah, Zio ganti baju dulu sana" ucap Mia pada anak lelakinya itu.


Bocah itu bergegas menuju kamarnya dan mengganti pakaiannya.


Nampak bocah itu mengenakan baju putih dengan garis garis biru dipadukan dengan celana abu abu.



(Baju Zio udah disusun berdasarkan kemachingannya jadi tinggal pakai)


"Loh kamu ngapain pakai topi segala?" Tanya Mia kala melihat sang anak mengenakan topi.


"Ini trend ma, temen temen , Zio pake gini"


Mia kembali menghela napasnya. Ia mengantar sang putra ke kantor suaminya.


"Om Rafa, papa ada kan?"tanyanya pada sang asisten papanya.


"Ada tuan muda" Zio mengangguk mengerti.


Ia segera memasuki ruang kerja sang papa.


"Papa" panggil bocah laki laki itu.


Bryan mengangkat pandangannya yang semula tertuju ke laptop.


"Hei boy, kamu kesini?"


"Iya, tadi dia maksa aku buat nganter ke kantor kamu" bukan Zio namun Mia lah yang menjawabnya.


"Ya udah kalian duduk disofa itu dulu" ucap Bryan.

__ADS_1


Mia langsung mendudukan tubuhnya disofa itu.


Sedangkan Zio malah mendekati sang papa.


"Papa Zio mau duduk dipangku papa" pinta bocah itu.


"Oke, sini" Bryan mengangkat tubuh sang putra dan mendudukannya dipangkuannya.


"Zio duduk yang anteng, papa lagi kerja" Mia memperingatkan anaknya.


"Iya ma"


Zio ikut menatap tabel tabel angka yang ada dilaptop sang papa.


"Da ta peng elu aran bu la nan pe ru sa ha an" Zio mengeja tulisan itu.


Bocah itu memang sudah bisa membaca diusianya yang terbilang masih dini.


"Papa lagi ngitung uang ya pa?" Tanyanya polos.


"Iya, papa lagi ngitung uang" jawab Bryan asal karna matanya fokus ke laptop.


"Udah Zio duduk anteng dulu papa mau nyelesaiin ini dulu" ucap Bryan pada Zio.


Zio terdiam, matanya menatap deretan angka yang berjajar di layar itu.


Tangan mungilnya menghitung jumlah angka disana.


"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh" gumamnya.


"Wahh angkanya banyak banget" batin bocah itu melihat kesepuluh jarinya.


Krukkkk


Suara perut Zio membuat Bryan mengalihkan pandangannya.


Bocah itu hanya menyengir kuda

__ADS_1


"Zio laper?" Tanyanya.


Bocah itu mengangguk, Bryan langsung mematikan laptopnya.


Ia memeluk erat sang putra yang sedang duduk dipangkuannya itu.


Muach


Muach


Bryan menghadiahi wajah sang putra dengan ciuman bertubi tubi.


"Ih papa, Zio udah gede pa" protes bocah laki laki itu.


"Siapa bilang kamu udah gede? Kamu masih kecil, sekolah aja belum" jawab sang papa.


"Tapi Zio udah bisa baca, berarti Zio udah gede" jawab bocah itu.


Pasalnya saat sedang belajar membaca dengan sang mama, Mia selalu mengatakan.


"Anak mama udah bisa baca, berarti Zio udah gede" itulah pikiran bocah polos itu.


"Zio mau makan apa?" Tanya Bryan.


"Zio pengen burger pa"


"No, itu junkfood, nggak bagus buat kesehatan" Mia lah yang menjawabnya.


Bryan bingung, ia menatap istri dan anaknya bergantian.


"Tapi Zio pengen" cicitnya pelan yang membuat Bryan tidak tega.


"Biarin makan sekali kali nggak papa yang" bujuk Bryan pada sang istri.


"Tapi mas.."


"Udah biarin. Toh juga nggak tiap hari"

__ADS_1


"Yaudah deh terserah kamu" Mia kembali mengalah.


"Tapi Zio pengen makan disana" pinta bocah laki laki.


__ADS_2