
"Istrimu sudah menjadi pasien di psikolog selama 7 tahun terakhir sejak ia masuk bangku sma. Kata temanku istrimu mengalami depresi berat selama 6 tahun terakhir dan beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri. Namun kondisinya berangsur membaik saat dia menikah denganmu. Hanya itu informasi yang kudapat. Temanku enggan menjelaskan lebih detail karna privasi pasien" papar teman Bryan.
(karna umur Mia sekarang 24 yhup guys, Bryan 26 tahun)
"Kenapa dia terlihat baik baik saja selama ini?"
"Oh hmmm sepertinya dia memendamnya sendirian.lebih baik kau lebih extra menjaganya. Lagi pula diakan sedang hamil, tidak baik jika terlalu stress" saran teman Bryan.
"Okey, makasih bro, kau sangat membantuku"
Merekapun mengakhiri panggilan itu.
Bryan mendesahkan napasnya pelan saat melihat sang istri yang telah tertidur dengan damai.
"Teka teki macam apalagi ini? Kenapa banyak sekali yang kau sembunyikan dariku? Apa yang membuatmu sampai mengkonsumsi obat ini?" Batin Bryan.
Pagi hari, Bryan mengusap wajah istrinya yang masih terlelap.
Mia melengguh kala merasakan usapan seseorang diwajahnya.
"Morning mas," sapa wanita itu dengan senyum mengembang.
"Ada yang ingin aku tanyakan"
Mia mengernyit
"Apa?"
Bryan bangkit dari pembaringannya.
Ia mengambil obat yang ada dinakas kamar.
"Ini obat apa?" Tanyanya to the point.
Degg
"Kau mendapatkannya dari mana mas?"
__ADS_1
"Diatas nakas tadi malam" jawab Bryan jujur.
"Mati aku, kenapa aku bisa seceroboh itu" batin Mia merutuki kebodohannya.
"I itu hanya Vitamin mas" jawab Mia ragu.
Bryan mendekatkan wajahnya dengan Mia dengan aura mengintimidasi yang membuat Mia gugup sekaligus takut.
"Mak maksudku ibu vitamin ibu hamil mas"
Bryan masih menatap Mia
"E eh bukan"
"Maksudku obat"
"E eh bukan obat,!"
"Maksudku obat nyeri, iya obat nyeri" Mia menemukan jawan yang tepat.
Ia segera memalingkan wajahnya dari tatapan mengintimidasi dari Bryan.
"Katakan dengan jujur!" Bentak Bryan.
Suaranya menggema memenuhi ruangan itu.
Mia semakin bergetar ketakutan.
"I itu i itu o obat.."
"Obat depresi maksudmu?!" Sarkas Bryan memotong ucapan Mia.
Mia melebarkan matanya saat mendengar ucapan sang suami.
"Bagimana Mas Bryan bisa tau?" Batin Mia.
"Kenapa diam?!" Bentak Bryan lagi.
__ADS_1
"Katakan, ya atau tidak?!" Sarkasnya.
Mia tambah gemetar ketakutan. Air matanya telah membanjiri wajah cantiknya.
"Mia?!!" Bentak Bryan sekali lagi kala tak mendengar jawaban dari sang istri.
"Iya, itu memang obat penenang" lirih Mia.
Bryan menghela napasnya kasar atas pengakuan sang istri.
"Sejak kapan kau mengkonsumsinya?" Bryan kembali bertanya ingin mengetes kejujuran Mia.
Mia mendongakan kepalanya menatap Bryan.
"Itu privasiku mas, kau tak perlu tau"
"Sejak sma?" Bryan bertanya lagi tak menghiraukan ucapan sang istri.
Mia tersentak atas pertanyaan sang suami.
"Sudah kubilang itu privasiku!" Teriak Mia.
"Tapi kau adalah istriku!"
"Istri apa maksudmu? Jika bukan karna anak ini kita pasti telah berpisah!" Sentak Mia.
Mia menangis histeris, Bryan langsung tersadar.
Ia memeluk raga rapuh istrinya itu.
"Maafkan aku, seharusnya aku tak bertanya lebih jauh" sesal Bryan.
Mia mengangguk
Memang wajar Bryan mengkhawatirkannya. Bukan karna dirinya namun karna anak Bryan yang ada di rahimnya.
Bryan melepaskan pelukan itu saat Mia sudah agak tenang.
__ADS_1
"Segera mandilah mas, ini sudah siang" Mia mengingatkan sang suami.
Bryan segera membersihkan tubuhnya dan bersiap menuju kantor.