
1 minggu kemudian
Usia kandungan Mia sudah 39 minggu.
Bryan maupun Mia sudah tak sabar menanti kelahiran putra pertama mereka.
Pagi hari, Mia terbangun dari tidur nya kala merasakan perut nya tidak enak.
Tapi Mia hanya diam saja, ia tak mengatakan apapun pada suami nya.
Mia berjalan menuju kamar mandi, alangkah kagetnya dia saat kembali melihat bercak darah di celllana dalllamm nya.
"Kayaknya aku mau melahirkan deh" gumam Mia.
Dokter sudah mengatakan bahwa tanda tanda akan melahirkan yaitu muncul nya flek.
Mia langsung mempacking barang barang untuk kebutuhan melahirkan nanti.
"Semoga tidak terjadi apa apa nanti" batin Mia.
Ia sudah siap dengan segala nya hari ini. Kenyataan tentang diri nya telah terungkap.
Ia semakin yakin semua orang akan menyayangi anak nya.
Tapi ia tak boleh pasrah begitu saja. Ia akan berusaha bertahan agar bisa menemani anak dan suami nya untuk melanjutkan kehidupan.
Bryan kaget melihat istrinya mempacking baju baju nya.
Ia langsung turun dari tempat tidur dan mencekal tangan sang istri.
"Kamu mau apa? Kalau ada masalah ngomong sama aku, jangan pergi gitu aja" ucap Bryan ngelantur.
Mia masih terbengong dengan ucapan sang suami. Ia tak peduli dan melanjutkan untuk mempacking barang barang nya.
"Sayang, kalau aku ada salah aku minta maaf. Tapi kamu jangan asal pergi gitu dong" pinta Bryan.
"Kamu kenapa sih mas"
__ADS_1
"Bukan nya kamu mau ninggalin aku?"
Mia malah tertawa dengan jawaban sang suami
"Aku cuma mau packing buat persiapan lahiran mas"
Bryan menggaruk tengkuk nya yang tak tagal karna merasa malu.
"Kamu buruan mandi gih mas, ada yang mau aku omongin" ucap Mia.
"Apa?" Tanya Bryan.
"Udah, kamu mandi aja dulu" pinta Mia.
Bryan pun segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuh nya.
Mia melanjutkan packing nya. Mulai dari barang bayi, barangnya sendiri dan barang Bryan suami nya.
Ia memanggil pelayan untuk memasukan barang barang nya ke mobil.
"Kamu mau ngomong apa yang?" Tanya Bryan.
"Duduk sini dulu" pinta Mia.
Bryan pun menurut. Ia malah tiduran sambil mengusap usap perut sang istri.
"Kayaknya aku mau lahiran deh mas" ucap Mia.
Degg
"Hah? Lahiran? Mana yang sakit? Ayho kerumah sakit" Bryan langsung heboh.
Ia langsung membopong tubuh istri nya.
"E eh, turunin aku dulu mas, aku belum selesai bicara nya"
"Beneran?"
__ADS_1
Mia mengangguk
"Perutku udah mulai mules dari tadi malem. Tadi pagi pas ke kamar mandi aku liat ada flek, kata dokter kalau muncul flek berarti akan melahirkan"
"Terus ini sakit nggak?"
"Lumayan mas, tapi bentar ilang, terus muncul lagi"
"Kita kerumah sakit sekarang ya?" Tawar Bryan.
Mia menggeleng
"Kita sarapan dulu aja mas"
"Kamu beneran nggak papa?" Tanya Bryan memastikan.
"Nggakpapa mas, ini belum sakit banget kok"
"Ya udah yuk, kita sarapan dulu"
Mia mengangguk, Bryan menggandeng tangan istrinya menuju meja makan.
Sesaat setelah duduk, Mia mengkerutkan dahi nya tanda kesakitan.
Ia mengusap perut nya perlahan.
"Sakit lagi?" Tanya Bryan yang membuat Mia mengangguk.
Bryan mengusap perut istrinya itu.
"Anak papa sabar dulu ya" ucap nya pada sang anak.
"Kalian kenapa sih?" Tanya mama Gita.
"Kayak nya Mia mau lahiran ma" ucap Bryan.
Mama Gita langsung berdiri dari duduk nya.
__ADS_1