Tuan Arogan Suamiku

Tuan Arogan Suamiku
Sultan mah bedaaa


__ADS_3

"Jangan banyak tanya, cepat antar aku membeli bakso lava, aku ingin memakan nya"


Mia menarik narik tangan Bryan.


"Iya iya" dengan malas mau tidak mau Bryan mengantar istrinya untuk membeli makanan aneh yang disebut kan istri nya.


Semua karyawan menatap heran pada bos mereka yang bergandengan tangan dengan seorang wanita.


"Loh itukan wanita tadi?"


"Kok gandengan sama pak Bryan"


"Ya ampunnn patah hati gue"


"bukan nya pak Bryan pacaran sama bu Lisa ya?"


Bryan maupun Mia tak menggubris ucapan para pegawai Hendrawan.


Mobil Bryan pun menuju ke salah satu warung yang ditunjuk Mia.


"Yakin disini?" Tanya Bryan melihat tempat makan pinggir jalan itu.


"Iya disini" jawab Mia yakin.


"Pindah aja yuk ke tempat yang lebih bagus" ajak Bryan.


Mia mengerucutkan bibir nya kesal


"Aku pengen nya makan disini"


"Tapi apa kata orang kalau melihat CEO hendrawan grup makan makanan pinggir jalan"


" Ya udah kalau kamu nggak mau, kamu balik aja ke kantor aku nanti pulang bisa pake taksi" sungut Mia kesal dengan suami nya.


"Tapi..."


Ucapan Bryan terhenti saat melihat tatapan istrinya yang begitu mengerikan bagi nya.

__ADS_1


Ini adalah pertama kali nya Mia menatap tajam pada Bryan.


"I iya deh aku ikut turun" Bryan mengalah.


Mia dan Bryan pun turun dan masuk ke warung makan itu.


Semua mata menatap kagum ke sepasang manusia yang baru saja masuk ke warung itu.


"Wahh yang satu cantik yang satu ganteng" bisak bisik orang orang disana.


Mia pun memesan satu porsi bakso lava.


Bryan menelan ludah nya kasar kala melihat bakso itu penuh dengan cabai.


"Mia, apa tidak apa kau memakan pedas saat hamil?" Tanya Bryan ragu.


"Kata dokter tidak apa"


"Ta tapiii..."


"Kalau kau masih menghalangi ku untuk menikmati bakso ini lebih baik kau kembali ke mobil" sungut Mia.


Mia pun segera melahap bakso lava itu hingga tandas.


Setelah selesai, Bryan membayar makanan itu.


Ia menyerahkan sebuah black card pada pedagang itu.


"E eh, disini tidak ada sistem pembayaran seperti itu mas" ucap sang penjual.


Bryan menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.


Ia segera membuka dompet nya lagi.


Ia mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah.


"E eh mas, harga nya cuma 25 ribu" ucap penjual itu.

__ADS_1


"Tidak apa pak, ambil aja kembalian nya" Bryan menyodorkan 2 lembar uang merah itu.


"Terimakasih mas"


Bryan mengangguk lalu meninggalkan penjual itu.


Pedagang itu geleng geleng melihat Bryan meninggalkan warung nya.


"Sultan mah beda, bakso 25 ribu dibayar 200 ribu" ucap pedagang itu.


Bryan dan Mia segera masuk ke dalam mobil.


Mia bersandar pada kursi mobil.


Ia mengusap usap perut nya yang sudah kekenyangan memakan bakso tadi.


" Sudah puas makan bakso?" Tanya Bryan.


"Sudah mas"


"Kau ingin yang lain lagi?" Tanya Bryan.


"Aku ingin beli susu hamil, soalnya udah mau habis" pinta Mia.


Bryan menggeleng


"Nanti sore saja, kita ke mall bersama sekalian aku mau beli jam baru"


Mia mengangguk setuju


Bryan pun mengantarkan Mia ke rumah pulang.


Selama perjalanan, Mia tertidur lelap.


Bryan menggoyangkan tangan Mia.


"Mia, bangun"

__ADS_1


Mia mengerjap bangun


Ia melihat sekeliling nya


__ADS_2