
Namun tubuh Mia kaku. Ia menolak untuk berdiri. Ia masih ingin meratapi nasib nya.
"Berdirilah" ucap Bryan.
Mia tak bergeming
Mau tidak mau Bryan mengangkat wajah istrinya
Sekarang terlihatlah wajah istrinya yang sudah berderai air mata.
Bryan langsung membawa istrinya ke pelukan nya.
"Menangislah jika itu membuatmu tenang"
Mia langsung menangis keras di pelukan suami nya itu.
"Bukankah sudah kubilang aku tak membutuhkan itu semua. Aku tidak membutuhkan tas mahal maupun semua nya. Aku tidak pantas mendapat kan itu semua" ucap Mia disela isakan nya.
"Siapa bilang? Kau pantas mendapatkan semua yang terbaik" Bryan menenangkan.
"Apa kau tidak dengar tadi? Aku hanya anak seorang pelakor, jika bukan karna kejadian malam itu aku tak mungkin berada disini" tangis Mia.
"Lalu apa yang kau mau sekarang?" Tanya Bryan lembut.
"Aku tidak mau tas itu semua"
"Lalu mau di kasih siapa tas nya?" Tanya Bryan.
"Berilah satu untuk mama dan satu untuk Dilla (adik Bryan)"
"Mereka tidak membutuhkan itu semua. Mereka bahkan memiliki jauh lebih bagus dari milik mu" ucap Bryan.
Mia masih menangis dipelukan sang suami
__ADS_1
"Sudah, tenanglah jangan nagis lagi. Kamu ngga malu sama anak kita?" Bryan menenangkan.
Mia memegang perutnya yang tiba tiba merasa kram.
"Shhhh" ringis Mia.
Bryan langsung melepaskan pelukan nya.
Ia melihat istrinya meringis sambil memegang perut nya.
"Aduh mass, sakitt" ringis Mia.
Bryan panik langsung membantu istri nya berdiri.
Mia memandang ke bawah, ia melihat ada darah mengalir di kaki nya dari area paha nya.
"Mas, darah mas" Mia panik.
Mia tambah meringis kesakitan
"Mas sakit mass, bawa aku kerumah sakit" pinta Mia.
Bryan langsung membopong Mia dan membawa nya turun ke lantai bawah melewati lift.
"Aduhhhh" Mia terus saja mengaduh kesakitan yang membuat Bryan tambah panik.
Mama Gita melihat menantunya di bopong Bryan pun tak memperdulikan sama sekali.
Sedangkan Dinda yang melihat ada darah mengalir dari area paha Mia pun segera berlari menyusul Bryan dan Mia dan membantunya membukakan pintu mobil.
Mobil Bryan pun melaju menuju rumah sakit.
Dinda kembali masuk ke mansion itu. Hati nya terus saja meramalkan doa untuk sang nyonya.
__ADS_1
"Semoga nyonya Mia dan bayi nya baik baik saja" batin Dinda.
"Ada apa dengan mereka" tanya mama Gita yang membuat lamunan Dinda buyar seketika.
"Nyonya Mia mengalami pendarahan nyonya" ucap Dinda.
"Ohh" mama Gita hanya ber oh ria lalu berjalan menuju kamar nya.
"Loh? Masak ngga ada panik panik nya dikit gitu sih? Minimal langsung lari keluar abis tu ikut kerumah sakit kayak adegan drakor yang sering aku tonton" gumam Dinda.
Dinda pun segera kembali ke dapur menyelesaikan tugas nya.
...
Dirumah sakit
Mia langsung di tangani dokter.
Dokter memberi suntikan pengurang rasa nyeri dan juga agar pendarahan yang dialami Mia berhenti.
"Dok, jika ada sesuatu terjadi, jangan katakan sesuatu yang buruk pada suami ku. Biarkan aku sendiri yang tau" pesan Mia.
"Tapi nyonya"
"Kumohon dok, demi keutuhan rumah tanggaku" pinta Mia.
"Baiklah" dokter itu mengalah.
Beberapa saat kemudian Mia sudah tak sadarkan diri.
Dokter memberi upaya penyelamatan pada Mia dan bayi nya.
Beberapa saat kemudian pendarahan yang dialami Mia telah berhenti.
__ADS_1